Filsafat Umum: Teori Kebenaran
Friday March 06th 2009, 11:02
Filed under: Etika Filsafa Kom

Oleh : Zainal Fikri

(TRUTH)

1. Pernyataan yang benar.

Apakah makna “benar” dalam kalimat di atas?

2. Contoh pernyataan (statement) : Dian belajar filsafat; Buku di atas meja; Ali adalah orang Islam.

3. Tanya-jawab.

Apakah kamu orang Banjar?; Benar, Saya orang Banjar; Benar bahwa Saya orang Banjar.

Bahwa Saya orang Banjar adalah benar.

4. Apakah pernyataan yang benar?

Jika suatu keadaan memang terjadi, dan kita menyatakannya demikian, maka pernyataan kita adalah benar.

Contoh:

Pernyataan “Saya orang Banjar” adalah benar jika Saya memang orang Banjar.

Pernyataan “Buku di atas meja” adalah benar jika buku memang di atas meja.

5. Apakah pernyataan yang benar?: Pernyataan yang benar adalah pernyataan yang mengungkapkan fakta.

Contoh: Rumput adalah hijau; Pernyataan adalah bahasa, sedangkan fakta adalah keadaan di dunia (di luar bahasa)

6. Pertanyaan “Apakah suatu pernyataan adalah benar?” adalah berbeda dengan pertanyaan “Bagaimana kita mengetahui bahwa suatu pernyataan adalah benar?”

Contoh: Cara kita mencari kebenaran “70 + 30 = 100” adalah berbeda dengan cara kita mencari kebenaran bahwa “Buku di atas meja”, “Semua harimau adalah karnivora” , “Semua mahasiswi IAIN memakai jilbab.”

7. Apakah kriteria kebenaran?; Apakah kriteria bahwa suatu pernyataan adalah benar?; Suatu pernyataan adalah benar jika sesuai dengan fakta; A criterion of truth is “correspondence with reality.”; Ini adalah teori korespondensi. Menurut teori ini, “suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut” (Jujun, 1984: 57). Dalam proses pembuktian secara empiris (pengumpulan fakta-fakta) untuk mendukung kebenaran suatu pernyataan dibutuhkan teori lainnya, yaitu: Teori Pragmatis.

Menurut teori pragmatis, “kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Artinya, suatu pernyataan adalah benar, jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia” (Jujun, 1984: 58-9). Dalam pendidikan, misalnya di IAIN, prinsip kepraktisan (practicality) telah mempengaruhi jumlah mahasiswa pada masing-masing fakultas. Tarbiyah lebih disukai, karena pasar kerjanya lebih luas daripada fakultas lainnya. Mengenai kebenaran tentang “Adanya Tuhan” atau menjawab pertanyaan “Does God exist ?”, para penganut paham pragmatis tidak mempersoalkan apakah Tuhan memang ada baik dalam ralitas atau idea (whether really or ideally). Yang menjadi perhatian mereka adalah makna praktis atau dalam ungkapan William James “ ….they have a definite meaning for our ptactice. We act as if there were a God” (James, 1982: 51-55)

8. Apakah kriteria kebenaran?: Suatu pernyataan adalah benar jika berhubungan secara logis dengan pernyataan yang lain; Ini adalah teori koherensi. Menurut teori ini, “suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar” (Jujun, 1984: 55). Termasuk ke dalam teori ini adalah kebenaran matematika (mathematical truth) dan logika deduktif (Scruton, 1996: 239)

Contoh:

1.Kebenaran matematika

1 + 11 = 12; 2 + 10 = 12; 3 + 9 = 12; 4 + 8 = 12; 5 + 7 = 12; 6 + 6 = 12

2.Logika deduktif

Semua Mahasiswa IAIN beragama Islam

Johanes adalah mahasiswa IAIN

Johanes adalah beragama Islam

Contoh lain: Semua manusia akan mati. Dian adalah manusia. Jadi, Dian akan mati. (Ada tiga pernyataan: dua pertama adalah premis, satu terkahir adalah kesimpulan)

9. Kalimat dan proposisi. Kalimat bisa berupa pertanyaan, pernyataan, dan seruan. Contoh :Apa kabar?; Saya sehat; Astaga!!! Ada dia di sini. Proposisi adalah kalimat yang bernilai benar atau salah. Contoh: Ali membaca buku.

10. Percaya dan benar.

Kata dokter bahwa orang tua saya kehabisan darah, jantungnya tidak berdetak lagi dan tidak bernafas. Sinyal di monitor menunjukkan garis datar.

“Saya tidak percaya bahwa orang tua saya meninggal.”

11. Apakah perbedaan?

Proposisi I:

“Saya tidak percaya bahwa orang tua saya meninggal.”

“Adik saya percaya bahwa orang tua saya meninggal.”

Proposisi II:

“Orang tua saya meninggal.”

“Orang tua saya tidak meninggal

(I)Kepercayaan mereka kontradiktif, keduanya benar jika jujur, namun proposisi tidak kontradiktif.

(II)Kedua proposisi kontradiktif, cuma satu yang benar.

12. Dapatkah suatu proposisi menjadi benar pada suatu tempat atau waktu, tapi tidak benar di tempat atau yang lain?

13. Mengetahui dan benar. Bagaimana mungkin proposisi tentang masa depan menjadi benar? Apa yang berubah tentang masa depan menjadi masa sekarang dan masa sekarang menjadi masa depan adalah pengetahuan kita tentang hal itu.

14. Dapatkah suatu proposisi sebagian benar dan sebagian salah?

Tergantung kata sambung yang digunakan: “dan,” ….”atau.”





     
No Comments so far



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

(required)

(required)