<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Blog Kuliah Pak Jaiz</title>
	<atom:link href="http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com</link>
	<description>Tempat Ilmu Komunikasi Disuburkan</description>
	<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 05:31:21 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>TEORI KEBENARAN 3</title>
		<link>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=201</link>
		<comments>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=201#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 05:31:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuliahpakjaiz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Etika Filsafa Kom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[
MANUSIA ADALAH BINATANG YANG BERBICARA/BERPIKIR.
BERBICARA/BERPIKIR ADALAH BERTANYA.
BERTANYA ADALAH MENCARI JAWABAN.
MENCARI JAWABAN ADALAH MENCARI KEBENARAN.
MENCARI KEBENARAN TENTANG TUHAN, ALAM DAN MANUSIA.
I. TEORI KOHERENSI/KONSISTENSI
(The Consistence/Coherence Theory of Truth):
1) Kebenaran ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui sebagai benar.
2) Suatu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian (pembenaran) oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
MANUSIA ADALAH BINATANG YANG BERBICARA/BERPIKIR.<br />
BERBICARA/BERPIKIR ADALAH BERTANYA.<br />
BERTANYA ADALAH MENCARI JAWABAN.<br />
MENCARI JAWABAN ADALAH MENCARI KEBENARAN.<br />
MENCARI KEBENARAN TENTANG TUHAN, ALAM DAN MANUSIA.</p>
<p>I. TEORI KOHERENSI/KONSISTENSI<br />
(<em>The Consistence/Coherence Theory of Truth</em>):<br />
1) Kebenaran ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui sebagai benar.<br />
2) Suatu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian (pembenaran) oleh putusan-putusan lainnya yang terdahulu yang sudah diketahui,diterima dan diakui benarnya.</p>
<p>Contoh: “Semua manusia akan mati. Si Polan adalah seorang manusia.Si Polan pasti akan mati.” “Sukarno adalah ayahanda Megawati. Sukarno mempunyai puteri. Megawati adalah puteri Sukarno”.</p>
<p>Teori ini dianut oleh mazhab idealisme. Penggagas teori ini adalah Plato (427-347 S.M.) dan Aristoteles (384-322 S.M.), selanjutnya dikembangkan oleh Hegel dan F.H. Bradley (1864-1924).</p>
<p>Kritik terhadap teori ini adalah “tidak mungkinkah terdapat kumpulan proposisi yang koheneren yang semuanya salah”?.</p>
<p>2. TEORI KORESPONDENSI<br />
(<em>The Correspondence Theory of Thruth</em>):</p>
<p>Kebenaran adalah kesesuaian antara pernya-taan tentang sesuatu dengan kenyataan sesu-atu itu sendiri. Contoh: “Ibu kota Republik Indonesia adalah Jakarta”.<br />
Teori ini digagas oleh Aristoteles (384-322 S.M.), selanjutnya dikembangkan oleh Bertrand Russel (1872-1970). Penganut teori ini adalah mazhab realisme dan materialisme.</p>
<p>Kritik: how can we compare our ideas with reality? Apabila sudah diketahui kenyataan mengapa perlu dibuat perbandingan, padahal kebenaran sedang dimiliki?</p>
<p>3. TEORI PRAGMATIS<br />
(<em>The Pragmatic Theory of Truth</em>):<br />
“Kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis”; dengan kata lain, “suatu pernyataan adalah benar jika pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia”. Kata kunci teori ini adalah: kegunaan (utility), dapat dikerjakan (<em>workability</em>), akibat atau pengaruhnya yang memuaskan (<em>satisfactory consequencies</em>).</p>
<p>Pencetus teori ini adalah Charles S. Pierce (1839-1914) dan William James.<br />
Kritik: betapa kabur dan samarnya pengertian berguna (usefull) itu.</p>
<p>Sumber: Endang Saifuddin Anshari. <em>Ilmu, Filsafat dan Agama</em>. Surabaya: Bina Ilmu.</p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?feed=rss2&amp;p=201</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sekelebat tentang filsafat</title>
		<link>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=198</link>
		<comments>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=198#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 05:10:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuliahpakjaiz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Etika Filsafa Kom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=198</guid>
		<description><![CDATA[

Filsafat, atau philosophy dalam bahasa inggris diambil dari bahasa yunani philosophia (Φιλοσοφία). Kata ini adalah kata majemuk yang berasal dari kata philia yang berarti “persahabatan, cinta” dan sophia yang berarti “kebijaksanaan”. Maka dari itu secara harfiah filsafat dapat diartikan “pecinta kebijaksanaan”.
Sains atau science dalam bahasa inggris, berasal dari bahasa latin scientia yang berarti “mengetahui” merujuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p class="postmeta"><span class="post-date"></span><span class="post-comment"><a title="Comment on Sekelebat tentang filsafat" href="http://blog.daulagiri.com/read/1716d43,0316arc,335.html#comments"></a></span></p>
<p><strong>Filsafat</strong>, atau philosophy dalam bahasa inggris diambil dari bahasa yunani philosophia (Φιλοσοφία). Kata ini adalah kata majemuk yang berasal dari kata philia yang berarti “persahabatan, cinta” dan sophia yang berarti “kebijaksanaan”. Maka dari itu secara harfiah filsafat dapat diartikan “pecinta kebijaksanaan”.</p>
<p><strong>Sains</strong> atau science dalam bahasa inggris, berasal dari bahasa latin scientia yang berarti “mengetahui” merujuk ke metodologi sistematik yang bertujuan menggali informasi akurat mengenai fakta dan berusaha memodelkannya. Dari model tersebut manusia berusaha memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Tentu saja prediksi yang dibuat harus dapat diandalkan, kuantitatif, dan konkrit.</p>
<p>Perbedaan yang paling mendasar antara filsafat dan sains adalah cara mengambil kesimpulan. Filsafat berusaha mencari kebenaran atas suatu hipotesa hanya dengan kekuatan berfikir. Sains bertumpu pada data-data yang telah diambil dan diverifikasi. Oleh karena itu keluaran yang dihasilkan juga berbeda tipe. Teori-teori keluaran filsafat bersifat Kualitatif dan Subjektif. Sedangkan sains menghasilkan output yang Kuantitatif dan Objektif.</p>
<p>Secara umum manusia berpikir induktif, yaitu dari hal khusus ke umum, dan relatif membuat asumsi-asumsi yang mendukung hipotesanya. Data bersifat kebalikannya, yaitu membatasi ruang cakupan teori dan mengerucutkan hipotesa sehingga menjadi teorema yang khusus. Karenanya filsafat juga menghasilkan teori-teori yang Umum dan Eksperimental, sedangkan keluaran sains bersifat Spesial dan Empiris.</p>
<p>Walaupun berbeda, filsafat dan sains tetap memiliki sifat-sifat ilmu yaitu temporal, sistematis, rasional, kritis, dan logis. Temporal artinya bersifat sementara, teori apapun di dunia ini jika ada teori pengganti yang lebih baik atau lebih global akan ditinggalkan. Sistematis, rasional, kritis, dan logis adalah cara manusia berpikir. Keempat sifat itu adalah setting default otak manusia. Bila satu saja ditinggalkan, teori yang dihasilkan tidak akan bertahan.</p>
<p>Bagaimanapun juga ada beberapa hal yang tidak bisa dicover metode sains secara indah. Disinilah metode filsafat berperan. Ilmu sosial dan psikologi contohnya. Data yang diambil seringkali terlalu acak untuk dapat dianalisis dengan metode ilmiah. Maka dari itu intuisi dan pemikiran manusia yang notabene merupakan metode filsafat banyak berperan disana.</p>
<p><strong>Perkembangan Filsafat Sains di Barat</strong></p>
<p>Periode paling awal dalam perkembangan filsafat di dunia barat disebut Ancient (Periode kuno) yang terjadi disekitar kejatuhan kerajaan romawi kuno sampai dengan abad 14. Daerah yang mengalami perkembangan paling pesat adalah Yunani.</p>
<p>Secara harfiah tidak ada aliran tertentu yang berpengaruh di masa ini karena pada umumnya filosof Yunani tidak membatasi pikiran mereka hanya pada satu bidang tertentu saja. Kondisi alam, sosial, politik, kebudayaan juga menjadi bahan pikiran mereka dalam berfilsafat.</p>
<p>Tema sentral yang paling sering dibahas adalah tema-tema yang berkaitan dengan alam, tentang definisi berbagai hal yang sering ditemui dalam kehidupan, struktur kehidupan, bahkan kadang ada juga yang bertema ketuhanan.</p>
<p>Tersebut dua nama: <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Plato">Plato</a> dan muridnya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Aristotle">Aristoteles</a>. Dua orang guru-murid yang seringkali berkebalikan dalam pemikiran. Merekalah yang berpengaruh dan ditokohkan pada masa itu.</p>
<p>Aristoteles adalah murid Plato. Pemikirannya lebih mengarah pada logika dan kehidupan. Hal inilah yang menjadikan Aristoteles menjadi filosof sistematis pertama. Buah pikirannya yang masih dipakai sampai sekarang adalah silogisme, yaitu metode untuk mencari kesimpulan dengan menghubungkan 2 atau lebih objek dalam suatu keterkaitan.</p>
<p>Guru dari Aristoteles, Plato, merupakan murid Socrates. Sang Inisiator perkembangan filsafat di Yunani. Plato paling banyak berpikir tentang eksistensi manusia dan situasi politik city state dari Yunani. Berbagai pokok pikiran Plato dirangkum menjadi Teori Kejadian yaitu:<br />
1. Pikiran mempunyai kapasitas untuk mengerti.<br />
2. Konsep lebih nyata, permanen dan lebih umum daripada benda-benda yang ada di dunia.<br />
3. Kejahatan adalah buntuk ketidakpedulian terhadap fakta.<br />
4. Dalam badan terdapat jiwa yang tak pernah mati.</p>
<p>Periode selanjutnya adalah Medieval (Periode Pertengahan). Periode ini terjadi antara abad 14 dan 17, saat dimana renaissance cukup berjaya. Ketuhanan dan berbagai ciptaan Tuhan yang ada di dunia adalah Aliran yang dianut pada masa ini.</p>
<p>Jika Tuhan ada, maka Dia adalah eksistensi yang paling berpengaruh di dunia dan sangat pantas untuk dipelajari. Ini adalah teori populer yang dipegang. Beberapa ahli terus mengadakan penelitian untuk membuktikan eksistensi Tuhan dengan logika.</p>
<p>Tema sentral pada masa ini adalah ketuhanan. Bahkan pada masa ini lazim disebut berfilsafat jika mengadakan penelitian di bidang Teologi dan pengobatan. Tokoh yang berpengaruh pada masa ini adalah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Aquinas">Thomas Aquinas</a> dan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/St._Anselm">St. Anselm</a>.</p>
<p>Thomas Aquinas menyatakan bahwa pada masa lalu pasti ada seseorang atau sesuatu yang menciptakan berbagai benda yang ada di alam, Tuhan. Dengan teori inilah dia berusaha menjelaskan kekuatan dan keunikan kekuatan Tuhan. Sementara itu St. Anselm menciptakan teori yang mengatakan Tuhan memiliki kemungkinan untuk mempunyai properti yang baik karena Eksistensi alam merupakan sesuatu yang baik, maka begitu pula dengan Tuhan.</p>
<p>Pada abad 17 hingga 20 periode Modern menapakkan kakinya. Rasionalisme dan Empirisisme adalah aliran yang sangat berpengaruh pada masa itu. Hal ini dikarenakan menjamurnya filosof yang menggunakan pikiran mereka untuk melihat perilaku alam sekitar dan kondisi sosial di lingkungan tempat mereka berada.<br />
Tema zaman ini adalah mengorganisasikan berbagai pemikiran filosofi dan sains kedalam dasar yang disebut sebagai sifat rasional, skeptikal, logikal, dan aksiomatik. <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Descartes">Descartes</a> dan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/John_Locke">Locke</a> adalah tokoh yang berpengaruh kuat dalam masa ini.</p>
<p>“Hanya pengetahuan yang berdasarkan kebenaran mampu dinalar dengan logika dan akal.”</p>
<p>Kalimat ini dicetuskan Rene Descartes. Menurutnya pengetahuan yang berdasarkan kebenaran adalah Matematika dan berbagai ilmu yang mendasari pengetahuan seperti gerak, gravitasi, dsb. Semua selain itu harus berdasarkan pengamatan dan/atau penelitian yang ditujukan untuk ilmu pengetahuan.</p>
<p>John Locke berpendapat bahwa pengetahuan yang didapat manusia harus berdasarkan mengalaman atau penelitian yang dialami oleh setiap individu. Menurutnya pikiran adalah secarik kertas putih kosong dan pengalaman hidup akan membuatnya berwarna dan bercorak. Pada dasarnya pengetahuan tidak dapat dideduksi, tapi berkat pengalaman hidup pengetahuan jadi dapat dimengerti.</p>
<p>Selepas Periode Modern usai muncullah masa yang disebut Periode Kontemporer. Masa yang ditandai dengan keinginan kuat untuk kembali kepada ajaran agama. Filosof di Barat mulai menyadari bahwa era modern telah melahirkan kehidupan yang kering spiritual dan tidak bermakna.</p>
<p>Jean Baudrillard, Michel Foucault, Martin Heidegger, Karl Popper, Bertrand Russell, Jean-Paul Sartre, Albert Camus, Jurgen Haberma, Richard Rotry, Feyerabend, Jacques Derrida, Mahzab Frankfurt adalah nama-nama yang muncul sebagai pionir periode ini.</p>
<p><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/J%C3%BCrgen_Habermas">Jürgen Habermas</a> adalah seorang filsuf dan sosiolog penganut Critical Theory dan pragmatisme Amerika. Dia dikenal dengan sebuah konsep ruang publik berdasarkan teori ‘aksi komunikatif’. Karyanya yang seringkali diberi label Neo-Marxisme terfokus pada dasar-dasar pembentukan teori sosial dan epistemologi, analisa kapitalisme di masyarakat industrial dan demokratis; kepastian hukum di dalam konteks evolusi sosiobudaya; dan politik kontemporer, terutama yang terjadi di Jerman. Dia mengembangkan sistem teori yang diabdikan untuk menunjukkan kemungkinan penalaran, emansipasi dan komunikasi logis-kritis yang terdapat di dalam institusi liberal modern.</p>
<p>Seorang filsuf asal Perancis <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Michel_Foucault">Paul-Michel Foucault</a> adalah salah satu pemikir paling berpengaruh pada zaman pasca Perang Dunia II. Foucault dikenal akan penelaahannya yang kritis terhadap berbagai institusi sosial terutama psikiatri, kedokteran, dan sistem rumah prodeo, serta karya-karyanya tentang riwayat seksualitas. Karyanya yang terkait kekuasaan dan hubungan antara kekuasaan dengan pengetahuan telah banyak didiskusikan dan diterapkan, selain pula pemikirannya yang terkait dengan “diskursus” dalam konteks sejarah filsafat Barat.
</p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?feed=rss2&amp;p=198</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Filsafat Umum: Teori Kebenaran</title>
		<link>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=187</link>
		<comments>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=187#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Mar 2009 04:55:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuliahpakjaiz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Etika Filsafa Kom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Zainal Fikri
(TRUTH)
1. Pernyataan yang benar.
Apakah makna “benar” dalam kalimat di atas?
2. Contoh pernyataan (statement) : Dian belajar filsafat; Buku di atas meja; Ali adalah orang Islam.
3. Tanya-jawab.
Apakah kamu orang Banjar?; Benar, Saya orang Banjar; Benar bahwa Saya orang Banjar.
Bahwa Saya orang Banjar adalah benar.
4. Apakah pernyataan yang benar?
Jika suatu keadaan memang terjadi, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Oleh : Zainal Fikri</p>
<p>(<em>TRUTH</em>)</p>
<p class="MsoBodyText2">1. Pernyataan yang benar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Apakah makna “benar” dalam kalimat di atas?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">2. Contoh pernyataan (<em><span style="font-family:Verdana;">statement</span></em>) : Dian belajar filsafat; Buku di atas meja; Ali adalah orang Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">3. Tanya-jawab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Apakah kamu orang Banjar?; Benar, Saya orang Banjar; Benar bahwa Saya orang Banjar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Bahwa Saya orang Banjar adalah benar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">4. Apakah pernyataan yang benar?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Jika suatu keadaan memang terjadi, dan kita menyatakannya demikian, maka pernyataan kita adalah benar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Contoh:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Pernyataan “Saya orang Banjar” adalah benar jika Saya memang orang Banjar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Pernyataan “Buku di atas meja” adalah benar jika buku memang di atas meja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">5. Apakah pernyataan yang benar?: Pernyataan yang benar adalah pernyataan yang mengungkapkan fakta.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:10pt;">Contoh: Rumput adalah hijau; Pernyataan adalah bahasa, sedangkan fakta adalah keadaan di dunia (di luar bahasa)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">6. Pertanyaan “Apakah suatu pernyataan adalah benar?” adalah berbeda dengan pertanyaan “Bagaimana kita <em><span style="font-family:Verdana;">mengetahui</span></em> bahwa suatu pernyataan adalah benar?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Contoh: Cara kita mencari kebenaran “70 + 30 = 100” adalah berbeda dengan cara kita mencari kebenaran bahwa “Buku di atas meja”, “Semua harimau adalah karnivora” , “Semua mahasiswi IAIN memakai jilbab.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">7. Apakah <em><span style="font-family:Verdana;">kriteria</span></em> kebenaran?; Apakah kriteria bahwa suatu pernyataan adalah benar?; Suatu pernyataan adalah benar jika sesuai dengan fakta; A criterion of truth is “<em><span style="font-family:Verdana;">correspondence with reality.”</span></em>; Ini adalah <strong><span style="font-family:Verdana;">teori korespondensi</span></strong>. Menurut teori ini, “suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut” (Jujun, 1984: 57). Dalam proses pembuktian secara empiris (pengumpulan fakta-fakta) untuk mendukung kebenaran suatu pernyataan dibutuhkan teori lainnya, yaitu: <strong><span style="font-family:Verdana;">Teori Pragmatis.</span></strong> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.25in;"><span style="font-family:Verdana;">Menurut teori pragmatis, “kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Artinya, suatu pernyataan adalah benar, jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia” (Jujun, 1984: 58-9). Dalam pendidikan, misalnya di IAIN, prinsip kepraktisan (<em><span style="font-family:Verdana;">practicality</span></em>) telah mempengaruhi jumlah mahasiswa pada masing-masing fakultas. Tarbiyah lebih disukai, karena pasar kerjanya lebih luas daripada fakultas lainnya. Mengenai kebenaran tentang “Adanya Tuhan” atau menjawab pertanyaan “<em><span style="font-family:Verdana;">Does God exist </span></em>?”, para penganut paham pragmatis tidak mempersoalkan apakah Tuhan memang ada baik dalam ralitas atau idea (<em><span style="font-family:Verdana;">whether really or ideally</span></em>). Yang menjadi perhatian mereka adalah makna praktis atau dalam ungkapan William James “ ….they have a definite meaning<em><span style="font-family:Verdana;"> for our ptactice</span></em>. We act <em><span style="font-family:Verdana;">as if</span></em> there were a God” (James, 1982: 51-55) </span></p>
<p class="MsoBodyText2">8. Apakah kriteria kebenaran?: Suatu pernyataan adalah benar jika berhubungan secara logis dengan pernyataan yang lain; Ini adalah <strong>teori koherensi</strong>. Menurut teori ini, “suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar” (Jujun, 1984: 55). Termasuk ke dalam teori ini adalah kebenaran matematika (<em>mathematical truth</em>) dan logika deduktif (Scruton, 1996: 239)</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Contoh:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-indent:-.25in;"><span style="font-family:Verdana;">1.</span><span style="font-family:Verdana;">Kebenaran matematika</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;"><span style="font-family:Verdana;">1 + 11 = 12; 2 + 10 = 12; 3 + 9 = 12; 4 + 8 = 12; 5 + 7 = 12; 6 + 6 = 12</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-indent:-.25in;"><span style="font-family:Verdana;">2.</span><span style="font-family:Verdana;">Logika deduktif</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;"><span style="font-family:Verdana;">Semua Mahasiswa IAIN beragama Islam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;"><span style="font-family:Verdana;">Johanes adalah mahasiswa IAIN</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;"><span style="font-family:Verdana;">Johanes adalah beragama Islam </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Contoh lain: Semua manusia akan mati. Dian adalah manusia. Jadi, Dian akan mati. (Ada tiga pernyataan: dua pertama adalah premis, satu terkahir adalah kesimpulan) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">9. <strong><span style="font-family:Verdana;">Kalimat dan proposisi</span></strong>. Kalimat bisa berupa pertanyaan, pernyataan, dan seruan. Contoh :Apa kabar?; Saya sehat; Astaga!!! Ada dia di sini. Proposisi adalah kalimat yang bernilai benar atau salah. Contoh: Ali membaca buku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">10. <strong><span style="font-family:Verdana;">Percaya dan benar</span></strong>.</span></p>
<p class="MsoBodyText2">Kata dokter bahwa orang tua saya kehabisan darah, jantungnya tidak berdetak lagi dan tidak bernafas. Sinyal di monitor menunjukkan garis datar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">“Saya tidak percaya bahwa orang tua saya meninggal.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">11. Apakah perbedaan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Proposisi I:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">“Saya tidak percaya bahwa orang tua saya meninggal.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">“Adik saya percaya bahwa orang tua saya meninggal.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Proposisi II:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">“Orang tua saya meninggal.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">“Orang tua saya <em><span style="font-family:Verdana;">tidak </span></em>meninggal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.5in;"><span style="font-family:Verdana;">(I)</span><span style="font-family:Verdana;">Kepercayaan mereka kontradiktif, keduanya benar jika jujur, namun proposisi tidak kontradiktif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.5in;"><span style="font-family:Verdana;">(II)</span><span style="font-family:Verdana;">Kedua proposisi kontradiktif, cuma satu yang benar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">12. Dapatkah suatu proposisi menjadi benar pada suatu tempat atau waktu, tapi tidak benar di tempat atau yang lain?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">13. <strong><span style="font-family:Verdana;">Mengetahui dan benar</span></strong>. Bagaimana mungkin proposisi tentang masa depan menjadi benar? Apa yang berubah tentang masa depan menjadi masa sekarang dan masa sekarang menjadi masa depan adalah pengetahuan kita tentang hal itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">14. Dapatkah suatu proposisi sebagian benar dan sebagian salah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">Tergantung kata sambung yang digunakan: “dan,” ….”atau.”</span></p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?feed=rss2&amp;p=187</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Etika dalam Komunikasi</title>
		<link>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=185</link>
		<comments>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=185#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Mar 2009 04:53:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuliahpakjaiz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Etika Filsafa Kom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Fajar Junaedi *




”Filsafat seperti yang aku pahami dan hidupi selama ini, adalah sebuah kehidupan sukarela di puncak gunung es di pegunungan yang tinggi. Sesuatu yang terasing oleh moralitas dandapat dipertanyakan eksistensinya” (Friederich Nietszche, Ecce Homo)



Di akhir tahun 2006, publik Indonesia dikejutkan oleh beredarnya rekaman video mesum yang dilakukan oleh Yahya Zaini dan Maria Eva. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><strong><span lang="sv">Oleh Fajar Junaedi *</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"><em>”Filsafat seperti yang aku pahami dan hidupi selama ini, adalah sebuah kehidupan sukarela di puncak gunung es di pegunungan yang tinggi. Sesuatu yang terasing oleh moralitas dandapat dipertanyakan eksistensinya”</em> (Friederich Nietszche, Ecce Homo)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Di akhir tahun 2006, publik Indonesia dikejutkan oleh beredarnya rekaman video mesum yang dilakukan oleh Yahya Zaini dan Maria Eva. Nama yang disebut pertama adalah anggota DPR RI dan sekaligus ketua bidang kerohanian Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, sedangkan nama yang kedua adalah seorang penyanyi dangdut yang tidak begitu dikenal publik. Namun setelah video mesum yang direkam dengan kamera yang terdapat di telepon seluler tersebut beredar luas, nama Maria Eva segera mencuat dengan tampil di berbagai acara musik dan <em>talkshow</em> di televisi, dan tawaran bermain film serta sinetron membajir. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Berkebalikan dengan sang biduanita, nama Yahya Zaini langsung tenggelam dalam pusaran hujatan publik. Wacana yang berkembang di publik adalah perilaku sang legislator sangat tidak beretika. Kata ”etika” menjadi matra yang ampuh untuk mengusir sang legislator untuk pergi meninggalkan kursi empuk di senayan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Dalam kasus yang lain, kata ”etika” mencuat ketika muncul iklan sebuah produk obat nyamuk semprot <em>Force Magic</em>. Struktur narasi iklan ini mendeskripsikan sebuah produk obat nyamuk semprot berwarna biru yang diklaim merusak kesehatan karena mengandung pestisida yang berbahaya bagi tubuh manusia. Walau tanpa ada nama merk, publik sudah sangat paham bahwa botol berwarna biru yang ditampilkan iklan ini merujuk pada obat nyamuk semprot bermerk <em>Hit</em> yang beberapa waktu sebelumnya ditarik dari peredaran karena terbukti mengandung pestisida berbahaya bagi kesehatan manusia. Iklan yang mulai beredar di layar kaca sejak awal tahun 2006 ini kemudian di mata kalangan pengamat periklanan dianggap sebagai minim kreativitas dan tidak beretika.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Saat majalah pria dewasa <em>Playboy</em> terbit juga terjadi perdebatan dalam wacana publik mengenai kepantasan penerbitan majalah berlogo kelinci berdasi. Salah satu titik penting dalam wacana publik dalam kontroversi penerbitan majalah yang didirikan oleh Hugh Hefner adalah mengenai dimensi etika penerbitan majalah yang ditujukan untuk segmen dewasa dan terlanjur dicap sebagai majalah porno di sebuah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Pihak yang tidak bersepakat dengan penerbitan majalah ini dengan tegas menyatakan bahwa penerbitan majalah tidak sesuai dengan etika bangsa Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Konser musik pun ternyata juga tidak luput dari persoalan etika. Band heavy metal papan atas Megadeth, harus membatalkan konser <em>World Needs A Hero</em> yang mereka lakoni di tahun 2001 di Malaysia karena pemerintahan setempat menganggap musik yang mereka bawakan tidak sesuai etika bangsa Melayu. Red Hot Chili Peppers juga pernah menunai kritik berkaitan etika saat mereka manggung di Lollapolaza, sebuah festival musik metal di Amerika, di awal dekade 1990-an karena tampil nyaris nudis dengan hanya memakai kaus kaki untuk menutupi bagian vital para anggota band paling panas ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Tentu kita juga tidak bisa melupakan pemenjaraan anggota band Koes Plus di masa pemerintahan Soekarno, karena alasan pemerintah pada saat itu adalah bahwa musik <em>ngak ngik ngok</em> ala Beatles yang dibawakan oleh Koes Plus dianggap tidak sesuai dengan budaya dan etika bangsa Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Dalam komunikasi antarpribadi, kata ”etika” juga acapkali muncul dalam wacana publik dalam kehidupan sehari-hari kita. Sebuah contoh kongkret adalah dalam sistem komunikasi antarpribadi antara orang tua dengan anak. Jika orang tua mengajak anaknya makan, maka kalimat yang terucap adalah, ”Ayo, maem !”. Sedangkan jika anak yang mengajak makan, maka kalimat yang terucap adalah ”Monggo, dahar !”. </span><span lang="fi">Kedua kalimat ini memiliki padanan yang sama dalam Bahasa Indonesia yaitu ”Mari makan !”. Kedua kalimat pendek dalam Bahasa Jawa tersebut tidak dapat dipertukarkan, karena jika dipertukarkan akan dianggap tidak beretika atau dalam Bahasa Jawa dianggap <em>ora nduweni unggah-ungguh</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="fi"></span><span lang="sv">Ternyata dalam Bahasa Inggris, hal yang sepadan juga ada. Untuk memberi penghormatan terhadap orang yang lebih tua, kita sebaiknya menggunakan kalimat, ”Would you mind having a lunch, please !”, bukan ”Let’s have a lunch, please !”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Masalah etika ternyata juga dapat mematik emosi dan bahkan perang yang menumpahkan darah dan nyawa manusia. Sebuah tindakan dalam komunikasi antarbudaya yang terjadi antara utusan pemerintah kolonial Belanda dan penguasa Madura bisa menjadi contoh menarik. Alkisah utusan pemerintah kolonial datang ke Pulau Madura membawa surat dari gubernur jendral Hindia Belanda. Sebagai bentuk penghormatan kepada sang raja, utusan tersebut mencium tangan raja dan permasurinya sebagaimana kebiasaan di Eropa. Sontak sang raja marah melihat tangan istrinya dicium karena tindakan tersebut dianggap tidak beretika dan dimulailah perang antara Madura dan Belanda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Etika bagaimananapun juga memang tidak bisa dilepaskan dari tindakan komunikasi yang kita lakukan dalam berbagai level komunikasi, mulai komunikasi antarpribadi, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi maupun komunikasi massa. Tentu menjadi penting bagi seorang mahasiswa komunikasi untuk belajar etika.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="sv">Apa Itu Etika ?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Kata ”etika” berasal dari Bahasa Yunani Kuno yaitu <em>ethos</em>, yang dalam bentuk jamak berubah menjadi<em>ta etha</em>, yang berarti adat istiadat. Arti inilah yang menjadi latar berlakang bagi terbentuknya studi mengenai etika yang diawali oleh Aristoteles (384-322 SM).Sehingga jika kita mengartikan etika hanya dari sisi etimologis, maka definisi yang mencuat atas kata ”etika” adalah ilmu tentang adat kebiasaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Kata yang berdekatan dengan kata ”etika” adalah kata ”moral” yang juga berasal dari Bahasa Yunani Kuno yaitu <em>mos</em> yang dalam bentuk jamak berubah bunyi menjadi <em>mores</em>. Arti dari kata ini adalah kebiasaan, adat. Wajar jika kedua kata ini sering berdampingan dalam penggunaannya, karena memang secara etimologis keduanya memiliki makna yang serupa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Setelah menjelajahi etimologi kata ”etika”, mari kita berusaha menyingkap artinya secara lebih komprehensif.<em>Pertama</em>, secara komprehensif kata ”etika” dapat dimaknai dalam arti nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan moral bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. <em>Kedua</em>, ”etika” juga dapat diartikan sebagai kumpulan asas atau nilai moral, yang sering disebut sebagai kode etik, seperti Kode Etik Periklanan Indonesia yang dikeluarkan oleh Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia, Kode Etik Jurnalistik yang berasal dari berbagai organisasi jurnalis, Kode Etik Kehumasan, Kode Etik Penyiaran dan sebagainya. <em>Ketiga</em>, kata ”etika” dapat berarti pula sebagai ilmu yang mempelajari mengenai hal yang baik dan buruk di masyarakat. Etika baru menjadi ilmu jika kemungkinan-kemungkinan etis (asas-asas dan nilai-nilai tentang yang dianggap baik dan buruk) yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat, baik yang disadai maupun tidak disadari, menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian sistematis dan metodis. Dalam arti yang terakhir ini, etika sama maksudnya dengan filsafat moral (Bertens, 2005:6).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Kata yang sering dianggap serupa maknanya dengan kata ”etika” adalah kata ”etiket”.Mungkin karena intonasinya yang serupa kemudian keduanya dengan mudahnya dicampuradukan, padahal keduanya memiliki makna yang berbeda. Etika di sini dipahami sebagai moral, sedangkan etiket hanya berkaitan dengan sopan santun.Perbedaan diantara keduanya dapat digambarkan sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<table class="MsoNormalTable" style="border:medium none;border-collapse:collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid;padding:0in 5.4pt;background:#cccccc none repeat scroll 0% 0%;width:41.4pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span lang="sv">No.</span></strong></p>
</td>
<td style="border:1pt solid;padding:0in 5.4pt;background:#cccccc none repeat scroll 0% 0%;width:204pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span lang="sv">Etiket</span></strong></p>
</td>
<td style="border:1pt solid;padding:0in 5.4pt;background:#cccccc none repeat scroll 0% 0%;width:192pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span lang="sv">Etika</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:medium none;padding:0in 5.4pt;width:41.4pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">1</span></p>
</td>
<td style="border:medium none;padding:0in 5.4pt;width:204pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Menyangkut cara   sesuatu yang dilakukan oleh manusia.</span></p>
</td>
<td style="border:medium none;padding:0in 5.4pt;width:192pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Etika tidak terbatas   pada cara dilakukannya suatu perbuatan, namun etika juga mencakup pemberian   norma terhadap perbuatan itu sendiri</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:medium none;padding:0in 5.4pt;width:41.4pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">2</span></p>
</td>
<td style="border:medium none;padding:0in 5.4pt;width:204pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Etiket hanya   berlaku di pergaulan, jika tidak ada orang yang menjadi saksi maka etiket   tidak berlaku.</span></p>
</td>
<td style="border:medium none;padding:0in 5.4pt;width:192pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Etika berlaku tidak   tergantung pada hadir tidaknya orang.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:medium none;padding:0in 5.4pt;width:41.4pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">3</span></p>
</td>
<td style="border:medium none;padding:0in 5.4pt;width:204pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Etiket bersifat   relatif.</span></p>
</td>
<td style="border:medium none;padding:0in 5.4pt;width:192pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Etika bersifat jauh   lebih absolut dibanding etiket</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:medium none;padding:0in 5.4pt;width:41.4pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">4</span></p>
</td>
<td style="border:medium none;padding:0in 5.4pt;width:204pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Etiket hanya   memandang manusia dari sisi lahiriah semata.</span></p>
</td>
<td style="border:medium none;padding:0in 5.4pt;width:192pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="fi">Etika menyangkut   sisi lahir maupun batin manusia.</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="sv">Tiga Pendekatan dalam Etika</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Secara garis besar ada tiga pendekatan (<em>approach</em>) dalam mengkaji etika, yaitu etika deskriptif, etika normatif dan metaetika. Mari kita mendiskusikan ketiga pendekatan tersebut lebih terperinci.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><strong><span lang="sv">a.Etika Deskriptif</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.25in;"><span lang="sv">Etika deskriptif sebagai sebuah pendekatan dalam etika berusaha melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas, seperti adat kebiasaan, anggapan-anggapan tentang mana yang baik dan mana yang buruk, tindakan apa yang diperbolehkan dan tindakan yang dilarang. Etika deskriptif lebih menekankan pada usaha untuk mempelajari mengenai moralitas yang terdapat dalam individu-individu tertentu, dalam kebudayaan-kebudayaan serta subkultur-subkultur (<em>subcultures</em>) tertentu dalam periode sejaran tertentu pula. Sesuai kata ”deskriptif” yang melekat pada istilah etika deskriptif, maka pendekatan pada bidang etika ini hanya memberi gambaran atau melukiskan semata tanpa memberi penilaian. Misalnya, etika deskriptif yang menggambarkanmengenai adat mengayau kepala manusia pada masyarakat yang ada di suku-suku pedalaman, tanpa memberi penilaian apakah adat seperti itu harus diterima atau ditolak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><strong><span lang="sv">b.Etika Normatif</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.25in;"><span lang="sv">Etika normatif bergerak pada kajian yang lebih luas daripada etika deskriptif karena pendekatan yang dilakukan oleh etika normatif bukan sekedar menggambarkan norma-norma di masyarakat, namun juga memberi penilaian mengenai baik atau tidaknya norma tersebut. Sehingga bisa kita simpulkan bahwa etika normatif menanggalkan sikap netral yang dianut oleh etika deskriptif. Lebih jauh etika normatif bukan lagi deskriptif melainkan preskriptif (memerintahkan) dan menentukan baik atau tidaknya adat, nilai, norma dan perilaku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Untuk itu, dalam etika normatif perlu argumentasi-argumentasi mengenai mengapa suatu perbuatan dianggap baik atau buruk dan mengapa anggapan moral tersebut dianggapbenar atau salah. Pada akhirnya, argumentasi-argumentasi yang dikemukakan akan mencapainorma-norma atau prinsip-prinsip etis yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Lebih ringkasnya, etika normatif dapat disimpulkan sebagai cabang etika yang bertujuan untuk merumuskan prinsip-prinsip etis yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dapat digunakan dalam praktek. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Etika normatif terbagi dalam dua ranah kajian yaitu etika umum dan etika khusus. Etika umum mengkaji tema-tema umum dalam etika seperti : Apa itu norma etis ? Jika banyak norma etis, bagaimana relasinya dengan kita sebagai manusia ?. Sedangkan etika khusus lebih mengkaji tema yang berhubungan dengan penerapan prinsip-prinsip etis yang umum dengan perilaku manusia. Dengan redaksional yang lain, dalam etika khusus itu prinsip normatif dikaitkan dengan premis faktual untuk sampai pada kesimpulan etis yang bersifat normatif juga. Dewasa ini etika khusus acapkali disebut dalam terminologi etika terapan (<em>applied ethics</em>) (Bertens, 2005:19). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><strong><span lang="sv">c.Metaetika</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="sv">Kata ”meta” dalam Bahasa Yunani berarti melebihi atau melampaui. Terminologi ini menunjukan bahwa yang dibahas di sini bukanlan moralitas secara langsung, melainkan ucapan-ucapan kita di bidang moralitas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Metaetika sendiri oleh para filsuf dimasukan dalam filsafat analitis, suatu aliran penting dalam filsafat yang berkembang pesat di abad 20 M dengan dipelopori oleh George Moore, seorang filsuf dari Inggris (Bertens, 2005:19). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Jika etika normatif hanya mempelajari mengenai perilaku moral dan memberi penilaian, maka metaetika lebih menekankan pada refleksi mengenai terminologi dan bahasa yang kita gunakan saat berargumentasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="sv">Pertanyaan untuk didiskusikan bersama.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><span lang="sv">1.Mengapa sebagai mahasiswa komunikasi, kita perlu belajar etika ? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><span lang="sv">2.Berilah contoh yang dapat semakin memperjelas perbedaan etika dengan etiket ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><span lang="sv">3.Bagaimana etika deskriptif memandang kasus video porno Yahya Zaini dengan Maria Eva ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><span lang="sv">4.Bagaimana etika normatif menilai penerbitan majalah Playboy ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><span lang="sv">5.Etika terapan atau etika khusus apa saja di Indonesia yang banyak berkaitan dengan ranah komunikasi sebagai sebuah praktek ? Berilah contoh kongkret !</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="sv">* Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi UMY. Website www.fajarjun.blogspot.com</span></em></p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?feed=rss2&amp;p=185</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Filsafat Ilmu</title>
		<link>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=183</link>
		<comments>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=183#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Mar 2009 04:41:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuliahpakjaiz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Etika Filsafa Kom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=183</guid>
		<description><![CDATA[

Dalam mata kuliah Filsafat Pengetahuan (Philosophy of Knowledge) yang didiskusikan tidak hanya tidak hanya pengetahuan sain (science), didiskusikan juga seluruh yag disebut pengetahuan termasuk pengetahuan yang “aneh-aneh” seperti pelet, kebal, santet, saefi dan lain-lain.Manusia ingin tahu lantas ia mencari. hasilnya ia tahu sesuatu. sesuatu itulah yang disebut dengan pengetahuan. pengetahuan ialah semua yang diketahui, titik.
Salah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span></span><span></span>Dalam mata kuliah Filsafat Pengetahuan (<em>Philosophy of Knowledge</em>) yang didiskusikan tidak hanya tidak hanya pengetahuan sain (<em>science</em>), didiskusikan juga seluruh yag disebut pengetahuan termasuk pengetahuan yang “aneh-aneh” seperti <em>pelet, kebal, santet, saefi</em> dan lain-lain.Manusia ingin tahu lantas ia mencari. hasilnya ia tahu sesuatu. sesuatu itulah yang disebut dengan pengetahuan. pengetahuan ialah semua yang diketahui, titik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span></span>Salah satu tujuan perkuliahan Filsafat Pengetahuan ialah agar kita mengetahui kapling pengetahuan, kita akan dapat memperlakukan memperlakukan pengetahuan masing-masing pengetahuan itu sesuai dengan kaplingnya. Pengetahuan sain ialah pengetahuan yang rasional dan didukung bulti empiris. Namun, gejala yang paling menonjol dalam pengetahuan sain adalah adanya bukti empiris itu. Pengetahuan sain itu mempunyai paradigma dan metode tertentu. Paradigmanya disebut paradigma sain (<em>scientific paradigm</em>) dan metodenya disebut metode ilmiah (<em>metode sain, scientific method</em>). <span lang="sv">Formula utama dalam pengetahuan sain adalah <em>buktikan bahwa itu rasional dan tunjukan bukti empirisnya</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Kebenaran pengetahuan filsafat hanya dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Bila rasional, benar, bila tidak salah, salah. Kebenarannya tidak pernah dapat dibuktikan secara empiris. Bila ia rasional dan empiris, maka ia berubah menjadi pengetahuan sain. Objek penelitiannya adalah objek-objek yang abstrak, maka temuannya juga abstrak. Paradigmanya ialah paradigma yang rasional (<em>rational pardigm</em>), metodenya metode rasional (Kerlinger menyebutnya <em>Method of reason</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">Logis dan Rasional</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Kant mengatakan bahwa apa yang kita katakan rasional itu ialah suatu pemikiran yang masuk akal tetapi menggunakan aturan hukum alam. Dengan kata lain, menurut Kant rasional itu ialah kebenaran akal yang diukur dengan hukum alam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Kesimpulannya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">1. Sesuatu yang rasional ialah sesuatu yang mengikuti atau sesuai dengan hukum alam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">2. Yang tidak rasional ialah yang tidak sesuai dengan hukum alam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">3. Kebenaran akal diukur dengan hukum alam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Jadi, di sini, akal itu sempit aja, hanya sebatas hukum alam. Itulah sebabnya saya dapat mengatakan bahwa pemikiran yang rasional sebenarnya belum dapat disebut pemikiran tingkat sangat tinggi. Pemikiran rasional belum mampu mengungkap sesuatu yang tidak dapat diukur dengan hukum alam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span><span></span><span></span>Kebenaran logis terbagi dua, pertama logis-rasional, seperti yang telah diuraikan diatas tadi, kedua logis-supra-rasioanal. Logis-supra-rasional ialah pemikiran akal yang kebenarannya hanya mengandalkan argumen, ia tidak diukur dengan hukum alam. Bila argumennya masuk alkal maka ia benar, sekalipun melawan hukum alam. Dengan kata lain ukuran kebenaran logis-supra-rasional ialah logika yang ada di dala susunan argumennya. Kebenaran logis-supra-rasional itu ialah kebenaran yang masuk akal sekalipun melawan hukum alam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Kita dapat membuat beberapa ungkapan sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">1. Yang logis ialah yang masuk akal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">2. Yang logis itu mencakup yang rasional dan yang supra-rasional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">3. Yang rasiona ialah yang masuk akal dan sesuai dengan hukum alam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">4. Yang supra-rasional ialah yang masuk akal sekalipuntidak sesuai dengan hukum alam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">5. Istilah logis boleh dipakai dalam pengertian rasional atau dalam pengertian supra-rasional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;text-align:justify;text-indent:-9.35pt;line-height:150%;"><strong><span lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;text-align:justify;text-indent:-9.35pt;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">Pengetahuan Sain</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Ontologi sain membahas hakikat dan struktur sain. Epistemologi sain difokuskan pada cara kerja metode ilmiah. Sedangkan pembahasan aksiologi sain diutamakan pada cara sainmenyelesaikan masalah yang dihadapi manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Hakikat pengetahuan sain pertama, masalah rasional. Hipotesis harua berdasarkan rasio, dengan kata lain hipotesis harus rasional. Dalam hal hipotesis yang saya ajukan itu rasionalnya ialah: untuk sehat diperlukan gizi, telur banyak mengandung gizi, karena itu, logis bila semakin banyak makan telur maka semakin sehat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Hipotesis saya itu belum diuji kebenarannya. Kebenarannya barulah dugaan. Tetapi hipotesis yang telah mencukupin dari segi kerasionalannya. Dengan kata lain, hipotesisnya itu rasional. Kata ”rasional” di sini menunjukan adanya hubungan pengaruh atau hubungan sebab akibat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Kedua masalah empiris. Cara kerja saya dalam memperoleh teori itu adalah cara kerja metode ilmiah. Rumus baku metode ilmiah ialah: <em>logico-hypothetico-verificatif</em> (buktikan bahwa itu logis, tarik hipotesis, ajukan bukti empiris). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Pada dasarnya carakerja sain adalah mencari hubungan sebab-akibat atau mencari pengaruh sesuatu terhadap yang lain. Asumsi dasar sain adalah tidak ada kejadian tanpa sebab. Asumsi ini oleh Fred N. Kerlinger (Foundation of behavior research, 1973;378) dirumuskan dalam ungkapan post hoc, ergo propter hoc (ini tentu disebabkan oleh ini). Asumsi ini benar bila sebab akibat itu memiliki hubungan rasional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="en-gb"><span></span>Ilmu atau sain dibagi dua, yaitu sain kealaman dan sain sosial.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="en-gb">1. Sain Kealaman</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><span style="font-family:Symbol;" lang="en-gb"><span>¨<span></span></span></span><span lang="en-gb">Astronomi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><span style="font-family:Symbol;" lang="sv"><span>¨<span></span></span></span><span lang="sv">Fisika: mekanika, bunyi, cahaya dan optik, fisika nuklir</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><span style="font-family:Symbol;" lang="sv"><span>¨<span></span></span></span><span lang="sv">Kimia: kimia organik, kimia teknik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><span style="font-family:Symbol;" lang="sv"><span>¨<span></span></span></span><span lang="sv">Ilmu bumi: paleontologi, ekologi, geofisiks, geokimia, mineralogi, geografi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><span style="font-family:Symbol;" lang="sv"><span>¨<span></span></span></span><span lang="sv">Ilmu hayat: biofisika, botani, zoologi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">2. Sain Sosial</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><span style="font-family:Symbol;" lang="sv"><span>¨<span></span></span></span><span lang="sv">Sosiologi: sosiologi komunikasi, sosiologi politik, sosiologi pendidikan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><span style="font-family:Symbol;" lang="sv"><span>¨<span></span></span></span><span lang="sv">Antropologi: antropologi budaya, antropologi ekonomi, anropologi politik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><span style="font-family:Symbol;" lang="sv"><span>¨<span></span></span></span><span lang="sv">Psikologi: psikologi pendidikan, psikologi anak, psikologi abnormal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><span style="font-family:Symbol;" lang="sv"><span>¨<span></span></span></span><span lang="sv">Ekonomi: ekonomi makro, ekonomi lingkungan, ekonomi pedesaan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><span style="font-family:Symbol;" lang="sv"><span>¨<span></span></span></span><span lang="sv">Politik: politik dalam negeri, politik hukum, politik internasional</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">Epistemologi Sain </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv"><span></span></span></strong><span lang="sv">Pada bagian ini diuraikan objek pengetahuan sain, cara memperoleh pengetahuan sain dan cara mengukur benar-tidaknya pengetahuan saui.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Objek pengetahuan sain (yaitu objek-objek yang diteltit sain\0 ialah semua objek yang empiris. Jujun F. Suriasumantri (Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, 1994;105) menyatakan bahwa objek kajian sain hanyalah objek yang berada pada ruang lingkup pengalaman manusia. Yang dimaksud pengalaman disini ialah pengalaman indera.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Objek kajiani sain haruslah objek-objek yang empiris sebab bukti-bukti yang harus ia temukan adalah bukti-bukti yang empiris. Bukti empiris ini diperlukan untukmenguji bukti rasional yang telah dirumuskan dalam hipotesis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">Cara Memperoleh Pengetahuan Sain</span></strong><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Perkembangan sain didukung oleh paham Humanisme. Humanisme ialah paham filsafat yang mengajarkan bahwa manusia mamapu mengatur dirinya dan alam. Humanisme telah muncul pada zaman Yunani Lama. Orang Yunani Kuno sudah menemukan: manusia itulah yang membuat aturan itu. Humanisme mengatakan bahwa manusia mengatur dirinya (manusia) dan alam. Jadi, manusia itulah yang harus membuat aturan untuk memngatur manusia dan alam. Menurut mereka aturan harus dibuat berdasarkan dan bersumber pada sesuatu yang ada pada manusia. Alat itu<span></span>ialah akal. Mengapa akal? pertama, karena akal dianggap mampu, kedua, karena akal pada setiap orang bekerja berdasarkan aturan yang sama. Aturan itu ialah logika alami yang ada pada akal setiap manusia. Akal itulah alat dan sumber yang paling dapat disepakati. Maka humanisme melahirkan rasionalisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Rasionalisme ialah paham yang mengatakan bahwa akal itulah alat pencari dan pengukur pengetahuan. pengetahuan dicari dengan akal, temuannya diukur engan akal pula. Dicari dengan akal ialah dicari cengan berfikir logis. Diukur dengan akal artinya diuji apakah temuan itu logis atau tidak. Bila logis, benar, bila tidak, salah. Dengan akal itulah aturan untuk mengatur manusia dengan alam itu dibuat. Ini juga berarti bahwa kebenaran itu bersumber pada akal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Apa yang diperoleh dari kenyataan itu? yang diperoleh ialah berpikiran logis tidak menjamin diperolehnya kebenaran yang disepakati. Padahal, aturan itu seharusnya disepakati. Kalau begitu diperlukan alat lain. Alat itu ialah empirisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Empirisme ialah paham filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar ialah logis danada bukti empiris.Kekurangan empirisme ialah belum terukur. Empirisme hanya sampai pada konseo-konseo yang umum. Empirisme hanya menemukan konsep yang sifatnya umum. Konsep itu belum operasional, karena belum terukur. Jadi, masih diperlukan alat lain. Alat lain itu adlh positivisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Positivisme adalah mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empirisnya yang terukur. Metode ilmiah mengatakan, untuk memperoleh pengetahuan yang benar lakukan langkah berikut: Logico-hypothetico-verificartif. Maksudnya, mula-mula buktikan bahwa itu logis, kemudian ajukan hipotesis (berdasarkan logika itu), kemudian lakukan pembuktian hipotesis tiu secara empiris. Dengan rumus metode inilah kita membuat aturan itu. Metode riset menghasilkan model0model penelitian. Model-model penelitianinilah yang dijadiakn instansi terakhir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span><span></span><span></span>Hipotesis adalah pernyataan yang sudah benar secara logika, tetapi belum ada bukti empirisnya. Bellum atau tidak ada bukti empirisnya bukanlah merupakan bukti bahwa hipotesis tiu salah. Hipotesis benar, bila logis,titik. Ada atau tidak ada bukti empirisnya itu soal lain. Dari sini tahulah kita bahwa kelogisan suatu hipotsesis juga teori lebih penting ketimbang bukti empirisnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span><span></span>Sekurang-kurangnya ada tiga kegunaan teori sain: sebagai alat membuat ekslanasi, sebagai alat peramal, dan sebagai alat pengontrol. Munurut T. Jacob (Manusia, Ilmu dan teknologi, 1993;7-8) ain merupakan suatu sisten explanasi yang paling dapat diandalkan jika dibandingkan dengan sistem lainnya dalam memahami masa lampau, serta mengubah masa depan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Anda akan dapat menjelaskan (mengekslanasikan) jika anda menguasai teori yang mampu menjelaskan gejala (nakal) itu. Menuru teori sain pendidikan, anak-anak yang orang tuanya cerai (biasanya disebut broken home), pada umumnya akan berkembnag menjadi anak nakal. Penyebabnya ialah karena anak-anak itu tidak mendapat pendidikan yang baik dari kedua orang tuanya. Padahal pendidikan dari kedua orang tua sangat pentingdalam pertumbuhan anak menuju dewasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span><span></span>Eksplanasi ialah merupakan bahan untuk membuat ramalan dan kontrol. Ilmuan, selain mampu membuat ramalan berdasarkan eksplanasi gejala, juga dapat membuat kontrol.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">Perbedaan prediksi dan kontrol ialah prediksi bersifat pasif, tatkala ada kondisi tertentu, maka kita dapat membuat prediksi, misalnya akan terjadi ini, itu, begini atau begitu. Sedangkan kontrol bersifat aktif terhadap sesuatu keadaan, kita membuat tindkan atau tindakantindakan agar terjadi ini, itu, begini tau begitu. Kita menghadapi dan menyelesaikan masalah itu dengan menggunakan ilmu. Pertama ia mengidentifikasi masalah. Identifikasi biasanya dilakukan dengan cara mengadakan penelitian. Hasil penelitian itu ia anaisis untuk mengetahui secar persis segala sesuatu diseputar kenakalan itu tadi. Kedua, ia mencari teori tentang sebab-sebab kenakalan remaja. Ketiga, ia kembali membaca literatur lagi. sekarang mencari teori yang menjelaskan cara memperbaiki. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Jangan terlalu mengandalkan sain jika ada masalah sebab belum tentu teori sain yang ada mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi dan belum tentuteori itu efektif<span></span>dan setiap masalah belum tentu tersedia teori untuk menyelesaikannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Bila sain netral keuntungannya ialah perkembangan sain akan cepat terjadi . Karena tidak ada yang menghambat atau menghalangi tatkala peneliti memilih dan menetapkan objek yang hendak diteliti , cara meneliti dan tatkala menggunakan produk penelitian. Orang yang menganggap sain tidak netral akan dibatasi oleh nilai dalam memilih objek penelitian, cara meneliti dan menggunakan hasil penelitian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Kerugiannya bila kita ambil paham sain netral ialah ia akan melawan keyakinan. Bila paham sain netral itu telah menerapkan pahamnya pada aspek aksiologi, mereka akan dapat menggunakan hasil penelitian mereka untuk keperluan apa pun tanpa pertimbangan nilai. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Maka yang paling bijaksana ialah kita memihak atau memilih paham bahwa sain tidaklah netral. Sain itu bagian dari kehidupan, sementara kehidupan itu secara keseluruhan tidaklah netral. Paham sain tidak netral<span></span>adalah paham yang sesuai dengan ajaran semua agama dan sesuai<span></span>pula dengan niat<span></span>ilmuwan tatkala menciptakan teori sain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Dari sudut pandang epistemologi, sain terbagi dua yaitu sain formal dan sain emperikal. Sain formal berada di pikiran kita yang berupa kontemplasi dengan menggunakan simbol-simbol, merupakan implikasi-implikasi logis yang tidak berkesudahan. Sain emperikal merupakan wujud konkret yaitu jagad raya ini. Sain formal dikatakan netral karena hukum-hukumnya dibuat oleh manusia. Hukum-hukumnya dibuat oleh Tuhan. Hukum-hukumnya ada di kepala kita. Sain emperikal tidak netral karena dibangun berdasarkan pijakan seseorang pakar yag mungkin berbeda dengan pakar lain. Dalam perkembangannya sain normal menghadapi fenomena yang tidak dapat diterangkan oleh teori sain yang ada, ini disebut anomali. Anomali ini menimbulkan krisis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Menurut cara berfikir empiririsme penginderaan adalah modal fundamental bagi manusia untuk mengetahui jagad raya.<span></span>Menurut Tarnas ada enam hal yang menarik perhatian tentang sain modern. Pertama, postulat dasar sain modern ialah space, matter, causality dan observation, ternyata semuanya dikatakan tidak benar. Kedua, dianutnya pendapat kant bahwa orang yang katakan jagad raya bukanlah jagad raya yang sebenarnya tetapi jagad raya yang sebenarnya dipikirkan manusia. Ketiga, determinisme newton kehilangan dasar, orang pindah ke stochhastic. Keempat, partikel-pertikel sub automatk terbuka untuk interpesi spiritual. Kelima, adanya acertainty sebagaimana ditemukan oleh Heisenburg. Keenam, kerusakan ekologi dan atmosfir yang menyeluruh yang disebut Tarnas planetry ecological crisis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Ilmu adalah teori. Ada beberapa kemungkinan dalam mengembangkan teorinya. Pertama menyusun teori baru. Kedua, menemukan teori baru untuk mengganti teori lama. Ketiga, merevisi teori lama. Dalam hal ini peneliti tidak membatalkan teori lama dan tidak juga mengganti dengan teori baru. Keempat, membatalkan teori lama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">PENGETAHUAN FILSAFAT</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Poedjawijatna (Pembimbing ke alam filsafat, 1974:11), mendefenisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan akal pikiran belaka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Filsafat terdiri atas tiga cabang yaitu : Ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ontologi membicarakan hakikat (segala sesuatu), in berupa pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu. Epistemologi, cara memperoleh pengetahuan itu. Aksiologi, membicarakan guna pengetahuan itu. Salah satu filsafat yang masih baru ialah filsafat perenial, adalah filsafat yang dipandang dapat menjelaskan segala kejadian yang bersifat hakiki, menyangkut kearifan yang diperlukan dalam menjalani hidup benar, yang menjadi hakikat seluruh agama dan tradisi benar spiritualitas manusia. Adanya suci atau yang satu dalam seluruh manifestasinya seperti dalam agama, filsafat, seni, dan sain. Pembicaraan mengenai objek utama filsafat perennial tentu akan sulit bila tidak dihubungkan dengan alam ciptaan Tuhan. Filsafat perennial melihat dua kecenderungan dalam manusia, yaitu Aku-Objek yang bersifat terbatas dan Aku-subject yang dalam kesadarannya tentang keterbatasan ini mampu membuktikan bahwa dalam dirinya sendiri ia bebas dari keterbatasannya. Filsafat perenial bukan berarti tidak menghargai akal. Namun dalam menghargai akal itu yang dihargai ialah orang yang menggunakannya bukan pada kemampuan akal itu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">Filsafat perennial bukan berarti tidak menghargai akal.Nzmun dalam menghargai akal itu yang dihargai ialah orang yang menggunakannya bukan pada kemampuan akal itu. Etika adalah kumpulan petunjuk untuk mengefektifkan usaha transformasi diri yang akan memungkinkan untuk mengalami dunia dengan cara baru. Isi etika adalah bentuk-bentuk kerendahhatian, kedermawanan, ketulusan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong>Filsafat Pos Modern</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span></span>Filsafat dibagi tiga, yaitu filsafat yunani kuno yang didominasi rasionalisme, filsafat abad tengah yang didominasi oleh pemikiran tokoh Kristen, ketiga filsafat modern yang didominasi oleh rasionalisme. Namun akhir-akhir ini muncul filsafat keempat yaitu filsafat pascamodern. Filsafat pascamodern didominasi oleh rasionalisme, rasionalisme ialah paham filsafat yang mengatakan akal itulah alat pencari dan pengukur kebenaran. Orang posmo ingin menyelamatkan budaya barat. Orang-orang posmo berpendapat bahwa sumber kebenaran tidak hanya rasio, ada sumber kebenaran lain selain rasio.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">Epistemologi Filsafat mempelajari tiga hal yaitu objek filsafat, cara memperoleh filsafat dan ukuran kebenaran filsafat.<span></span>Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya, yang terdalam. Isi setiap cabang filsafat ditentukan oleh objek apa yang ditelitinya. Cara memperoleh filsafat ialah berfikir.<span></span>Locke telah meneliti akal, ia berkesimpulan bahwa yang dapat kita ketahui ialah materi karena itu materialisme harus diterima. David hume berkesimpulan bahwa jiwa itu bukan substansi, suatu organ yang memiliki idea-idea, jiwa sekedar suatu nama yang abstrak untuk menyebut rangkaian idea. Untuk memperoleh pengetahuan filsafat ialah berfikir dengan akal, kerja akal ialah berfikir secara mendalam untuk menghasilkan filsafat.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span></span>Kebenaran teori filsafat ditentukan oleh logis tidaknya teori itu. Ukuran logis terlihat dari argument yang menghasilkan kesimpulan. Argumen menjadi kesatuan dengan konklusi.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong>Aksiologi Pengetahuan Filsafat</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span></span>Disini akan diuraikan dua hal, yaitu kegunaan pengetahuan filsafat dan kedua cara filsafat menyelesaikan masalah. Untuk mengetahui kegunaan filsafat kita dapat melihat filsafat sebagai tiga hal, yaitu filsafat sebagai kumpulan teori filsafat, filsafat sebagai metode pemecahan masalah dan filsafat sebagai pandangan hidup.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span></span>Mempelajari filsafat sebagai kumpulan teori sangat penting karena dunia dibentuk oleh teori-teori itu. Filsafat sebagai metode pemecahan yaitu filsafat digunakan sebagai satu cara atau model pemecahan masalah secara mendalam dan universal, selalu mencari sebab terakhir dan dari sudut pandang seluas-luasnya. Filsafat sebagai pandangan hidup sama dengan agama, dalam hal yang sama mempengaruhi sikap dan tindak penganutnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong>Kegunaan filsafat sebagai akidah</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span></span>Akidah seorang muslim haruslah kuat, dengan kuat akidah akan kuat pula keislamannya secara keseluruhan. Untuk memperkuatnya diperlukan untuk mengamalkan keseluruhan ajaran Islam secara sungguh-sungguh dan mempertajam pengetahuan islam sendiri.<span></span>Namun dapatkah filsafat memperkuat pemahaman kita tentang Tuhan ? Kant menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat dipahami melalui akal, Tuhan dapat dipahami melalui suara hati yang disebut moral. Menurut kant akal teoritis tidak melarang kita mempercayai tuhan, kesadaran moral kita memerintahkan untuk mempercayaiNya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>Kegunaan Filsafat bagi Hukum</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span></span>Hukum Islami yang dijadikan aturan beramal ada diadalam fiqih sebagai kumpulan hukum yang dibuat berdasarkan kaidah-kaidah hukum yang digunakan untuk menetapkan hukum tersebut. Ternyata kaidah-kaidah pembuatan hukum (ushul fiqih) itu dibuat berdasarkan teori-teori filsafat. Jadi memang benar filsafat sebagai metodologi berguna bagi pengembangan hukum dalam hal ini hukum Islami.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>Kegunaan Filsafat bagi Bahasa</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span></span>Bahasa berfungsi sebagai alat untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran. Tatkala bahasa berfungsi sebagai alat berfikir ilmiah, muncul problem yang serius dan ini diselesaikan antara lain dengan bantuan filsafat. Bahasa sering tidak mampu membebaskan diri dari gangguan pemakainya, kerusakan bahasa tersebut biasanya disebabkan oleh tidak digunakannya kaidah logika, logika itu filsafat. Kekeliruan dalam berbahasa melahirkan kekeliruan dalam berfikir. Untuk itu filsafat sangat berperan dalam menentukan kualitas bahasa. Tanpa peran serta filsafat (logika) kekeliruan dalam bahasa tidak mungkin dapat diperbaiki.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span></span>Cara Filsafat Menyelesaikan Masalah</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span></span>Kegunaan filsafat ialah sebagai metode dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah bahkan sebagai metode dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah bahkan sebagai metode dalam memandang dunia. Penyelesaian filsafat bersifat mendalam, artinya ia ingin mencari asal masalah. Universal, artinya ia ingin masalah itu dilihat dalam hubungan seluas-luasnya agar nantinya penyelesaian itu cepat dan berakibat seluas mungkin.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span></span><strong><span lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">PENGETAHUAN MISTIS</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">Hakikat Pengetahuan Mistis</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Mistis adalah pengetahuan yang tidak rasional. Ialah pengetahuan (ajaran atau keyakinan) tentang Tuhan yang diperoleh melalui latihan meditasi atau latihan spiritual, bebas dari ketergantungan indera atau rasio. Pengetahuan mistis ialah pengetahuan yang tidak dapat dipahami rasio. Dalam Islam yang termasuk pengetahuan mistis ialah pengetahuan yang diperoleh melalui jalan tasawuf. Pengetahuan mistis ialah pengetahuan yang supra rasional tetapi kadang-kadang mempunyai bukti empiris. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">Struktur Pengetahuan Mistis</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Mistis magis ialah mistis yang mengandung kekuatan tertentu dan biasanya untuk mencapai tujuan tertentu. Mistis magis dapat dibagi dua, yaitu mistik-magis-putih dan mistik-magis-hitam.<span></span>Perbedaan mendasar ada pada segi filsafat. Magis putih selalu dekat dan berhubungan serta bersandar pada Tuhan sehingga dukungan Illahi sangat menentukan. Pada nabi disebut Mukzijat dan pada selain nabi disebut karomah. Magis hitam selalu dekat, bersandar, bergantung pada kekuatan roh jahat. Jiwa-jjiwa yang memiliki kemampuan magis ini dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu : pertama, mereka yang memiliki kemampuan atau pengaruh melalui kekuatan mental atau himmah. Kedua, mereka yang melakukan pengaruh magisnya dengan menggunakan watak benda-benda atau elemen-elemen yang ada didalamnya, inilah yang disebut jimat. Ketiga, mereka yang melakukan pengaruh magisnya melalui kekuatan imajinasi sehingga menimbulkan berbagai fantasi pada orang yang dipengaruhi, seperti pesulap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">Epistemologi Pengetahuan Mistik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Pengetahuan mistik ialah pengetahuan yang diperoleh tidak melalui indera dan bukan melalui rasio. Pengetahuan ini diperoleh melalui rasa dan hati. <span></span>Yang menjadi objek pengetahuan mistis ialah objek yang abstrak-supra-rasional, seperti alam gaib, Tuhan, malaikat, surga, neraka, jin, dll. Pada umumnya cara memperoleh pengetahuan mistis adalah latihan yang disebut dengan riyadhah, dari situ manusia dapat memperoleh pencerahan, memperoleh pengetahuan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Kebenaran pengetahuan mistis diukur dengan berbagai ukuran. Ada kalanya ukuran kebenaran pengetahuan mistis itu kepercayaan. Jadi, sesuatu dianggap benar jika kita mempercayainya. Ada kalanya juga kebenaran suatu teori diukur dengan bukti empiris, yaitu ukuran kebenaran. Sulit memahami jika sesuatu teori dalam pengetahuan mistis bila pengetahuan itu tidak punya bukti empirik, sulit diterima karena secara rasional tida terbukti dan bukti empirik pun tidak ada. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">Aksiologi Pengetahuan Mistik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Pengetahuan mistik itu amat subjektif, yang paling tau penggunaannya ialah pemiliknya. Di kalangan sufi kegunaannya yaitu dapat menentramkan jiwa mereka, mereka menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan. Mistis magis hitam dikatakan hitam karena penggunaannya untuk kejahatan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Cara pengetahuan mistis menyelesaikan masalah tidak melalui proses inderawi dan tidak juga melalui proses rasio. Ada dua macam mistis yaitu mistis yang biasa dan mistis magis. Mistis magis adalah kegiatan mistik yang mengandung tujuan-tujuan untuk memperoleh sesuatu yang diingini penggunanya. Dunia mistik magis dalam dunia Islam yaitu ’ulum al-hikmah yang berisi antara lain rahasia-rahasia huruf al-qur’an yang mengandung kekuatan magis, rahasia wafaq, rahasia asma ilahiyah, dsb. Pada kenyataannya tokoh-tokoh mistik-magis itu kebanyakan sufi-sufi. Kekuatan alam akhirnya tunduk dibawah sinar Illahi dan dukunganNya melalui huruf-huruf dan nama indahNya. Melalui kalam ilahi inilah jiwa-jiwa ilahiyah yang aktif dapat digunakan manusia untuk tujuan yang dikehendakinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Pada perkembangannya dunia mistik-magis Islam terbagi dua kelompok, yaitu mistik-magis dalam bentuk wirid-wirid dan mistik-magis dalam bentuk benda-benda yang telah diformulasikan sedemikian rupa biasanya berupa wafaq-wafq atau isim-isim. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">Cara kerja Mistik-Magis-Putih</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Para ahli hikmah menyadari bahwa kekuatan Tuhan baik yang ada dalam diriNya atau yang ada dalam firmanNya dapat digunakan oleh manusia. Ayat-ayat Al Qur’an atau kitab langit lainnya sering digunakan sebagai perantara untuk menghubungkan manusia dengan tuhannya, bahkan asma-asma Tuhan sering digunakan untuk meminta sesuatu. Jika seseorang dapat atau sanggup mempraktekan wirid atau do’a sesuai dengan rumusan maka kekuatan ilahiyah (khadam atau malaikat) akan dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan yang kehendaki terlebih jika diikuti oleh jiwa yang bersih. Cara kedua ialah dengan cara memindahkan jiwa-jiwa ilahiyah atau khadam yang adad dalam huruf-huruf al Qur’an atau didalam asma-asma Allah, cara ini disebut wafaq atau isim dimana ditulis dengan menggunakan tinta tertentu dan pada<span></span>kondisi tertentu. Pada dasarnya mereka menggunakan supra natural yang ada pada khadam dalam wirid atau doa, wafaq atau isim untuk tujuan tertentu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">Cara kerja Mistik-Magis-Hitam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Mereka membuat simbol-simbol atau nama atau atribut-atribut, lalu ia bacakan mantra. Selama mengulak kata-kata buruk itu, ia mengumpulkan ludahnya untuk disemburkan pada gambar itu. Lalu ia ikatkan buhul pada simbol menurut sasaran yang telah disiapkan tadi. Ia menganggap ikatan buhul itu memiliki kekuatan dan efektif dalam praktik sihir. Ia meminta jin-jin kafir untuk berpartisipasi, ia memunculkan lebih banyak roh jahat sehingga segala sesuatu yang dituju benar-benar terjadi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">MUKASYAFAH</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">Ontologi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Mukasyafah adalah salah satu contoh pengetahuan mistik, ini termasuk mistik putih. Berbeda dengan filsafat dan sain, pengetahuan mukasyafah diawali oleh asumsi dan kesadaran tentang adanya kesatuan esensial secara asasi antara subjek-objek, yaitu manusia-Tuhan. Mukasyafah adalah upaya menyingkapkan hijab-hijab yang menutupi diri. Secara esensial penyingkapannya adalah penghancuran tirai yang menutup objek dengan jalan rohani. Orang-orang yang telah sengaja menutup hatinya dari gairah pencarian akan tertutup dan sulit dibuka sedangkan bagi orang-orang yang terus menerus berusaha mencari dan membuka hijab itu maka akan terbuka. Pengetahuan mukasyafah diperoleh bukan dari rasio tapi melalui pengalamn langsung. Tuhan sebagai objek pengetahuan secara aktif menyatakan dirinya. Wujud keaktifan Tuhan sebagai objek ialah dalam bentuk pewahyuan dan dalam rahasia alam ciptaanNya. Pengetahuan<span></span>tentang Tuhan masih berupa pengetahuan tingkat filsafat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Sistem pengetahuan mukasyafah berpijak pada keyakinan bahwa Tuhan memancarkan pengetahuannya yang tidak dapat diketahui oleh indera ataupun rasio. Indera dan rasio dinonaktifkan sementara dan membiarkan potensi spiritual menerima dan menapung pengetahuan tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Dalam Al Qur’an disebut empat istilah yang berkenaan dengan batun manusia yaitu nafs, roh, qalb dan ’aql. Makna dasar qalbialah membalik, kembali, pergi maju mundur, berubah naik turun, mengalami perubahan. Hati merupakan tempat manusia bertemu Tuhan. Hatu merupakan kunci kemunafikan, hati digambarkan memiliki mata dan telinga karena itu merupakan pusat pandangan, pemahaman dan ingatan atau dzikir. Iman dan penyelewengan tumbuh dalam hati. Pada dasranya hati bersifat netral, ia diciptakan mempunyai kecenderungan lurus atau bengkok. Hati diperintahkan oleh Tuhan untuk cenderung pada sifat baik seperti pada petunjuk, iman, cahaya dan cinta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Hati terperangkap dalam dua sisi, berada diantara jiwa dan roh yang menguasai kejahatan yang disitu ada kegelapan dan cahaya bersaing. Jika hati hidup dalam situasi kacau dan rasio ditaklukan ia akan menjadi gelap, namun jika keseimbangan yang benar ditegakan maka akan mampu meraih sifat-sifat Tuhan. Jiwa menarik individu menjauhi cahaya dan akal, roh menarik individu mendekati Tuhan. Tapi jika jiwa menyerah pada roh akan timbul keseimbangan. Kemampuan hati untuk terus-menerus menghadapkan ke arah roh inilah yang menjadi inti penyingkapan hijab, untuk itu diperlukan riyadhah yaitu latihan untuk menetapkan hati agar tetap menghadap roh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">Metodologi Penyingkapan Tabir</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Melalui dua tahapan, yaitu iradah (kehendak) dan riyadhah (latihan). Iradah yaitu muncul hasrat untuk berpegang teguh pada jalan yang membimbing menuju Tuhan.<span></span>Riyadhah mempunyai tiga tujuan yaitu menyingkirkan segala sesuatu selain Allah yag menghalangi perjalanan spiritual, menundukan jiwa yang cenderung menyuruh berbuat jahat ke jiwa yang tenang, melembutkan jiwa batiniah. Penyatuan iradah dan riyadhah akan menyebabkan diri sanggup melihat kilasan-kilasan cahaya illahi dan merasakan pantulan keagungan Tuhan. Penyingkapan tahap pertama ialah penyingkapan yang didapat dalam perjalanan dari makhluk menuju khalik. Proses itu akan dilanjutkan pada perjalanan tahap kedua yaitu bersama Tuhan dalam Tuhan, perjalanan tahap ketiga yaitu dari Tuhan menuju makhluk, dan perjalanan keempat yaitu dari mahluk Tuhan bersama Tuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Pengetahuan inilah yang disebut pengetahuan mukasyafah, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari kebersatuan pengetahuan objek-subjek karena hijab telah tersingkap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">ILMU LADUNI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Tiga alat untuk berkomunikasi secara rohaniah dalam tasawuf, yaitu kalbu untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan, roh untuk mencintai Tuhan dan sirr untuk musyahadah yakni menyaksikan keindahan, kebesran dan kemuliaan Tuhan secara yakin. Kesatuan ketiga unsur itu disebut hati. Jika hati dikosongkan dari segala yang buruk dan diisi dengan dzikrullah maka hati akan mencapai pengetahuan yang disebut dengan laduni. Ilmu laduni ialah ialah ilmu batiniah yang bukan merupakan hasil pemikiran melainkan ilmu yang diterima langsung melalui ilham, iluminasi atau inspirasi dari sisi Tuhan. Riyadhah da mujahadah akan menghasilkan musyahadah (tembus pandang) pada ke-illahian Tuhan serta terbukanya hijab antara hamba dan Tuhannya. Pelaksanaannya biasanya dilakukan dibawah bimbingan guru yang telah menguasai ilmu tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Kegunaan ilmu laduni ialah untuk dapat memahami ilmu dengan tepat, dapat mengetahui tingkatan ilmu seseorang, mengetahui karakter seseorang, dapat mengambil ilmu orang lain yang diinginkan, dapat mengobati orang terkena santet, mengetahui jodoh seseorang dan nasibnya, mengetahui keinginan seseorang tanpa mengatakannya, dll. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">SAEFI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Dari segi terminologi saefi adalah nama ilmu yang terdiri dari rentetan bacaan menurut bilangan dan waktu tertentu yang disandarkan pada Allah. Dari segi substansi saefi adalah doa yang dibaca terus menerus atau berulang-ulang menurut bilangan dan waktu tertentu. Cara memperoleh pengetahuan saefi sangat beragam, umumnya diperoleh melalui puasa atau hanya dengan melakukan wirid saja dengan bilangan tertentu, atau tidak memakan makanan yang bernyawa, tidak bersebadan. Umumnya saefi diperoleh dengan banyak dzikrullah dan menjauhi maksiat. Ada beberapa macam jenis saefi yaitu saefi dzulfaqar, saefi mughni, saefi umum, saefi antazaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">JANGJAWOKAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Jangjawokan adalah semacam ucapan untuk tujuanmagis tertentu. Isi kalimatnya mirip mantra dan biasanya disusun dalam bentuk syair. Bacaannya diajarkan oleh gurunya dari mulut ke<span></span>telinga (secara lisan), syarat-syaratnya seperti puasa wedal, puasa tiga hari berturut-turut, puasa mutih, kadang tapa, dll. Jika telah dibekali dengan bacaan jangjawokan akan ada pantangan yang tidak boleh dilanggar. Pengetahuan ini tidak boleh diberikan kepada siapapun kecuali bila ia telah menyatakan ingin berguru. Jangjawokan merupakan tradisi mistis yang berlaku didaerah tertentu. Sandaran yang dipakai bermacam-macam, kadang ke Allah kadang ke dewa atau jin. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">SIHIR</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Sihir secara bahasa berarti al-sharfu maksudnya membelokan sesuatu dari kenyataan yang sebenarnya kesesuatu yang bukan sebenarnya. Sihir merupakan<span></span>upaya yang dilakukan manusia sebagai suatu tipu daya yang dalam mewujudkannya meminta bantuan sesuatu yang halus (setan) untuk membelokan sesuatu yang sebenarnya ke sesuatu yang bukan sebenarnya. Menurut Abdul Salam Bali (1995:21) mengutip beberapa pengertian sihir sbb : sihir adalah perbuatan yang dilakukan dengan mendekatkan diri kepada setan, sihir mengubah sehat menjadi sakit, sihir ialah mengeluarkan kebatilan dalam bentuk kebenaran, sihir ialah sesuatu yang lembut pengembaliannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Abu Abdullah al-Razi (tafsir Ibnu Katsir, 1:147) menjelaskan bahwa sihir ada delapan macam yaitu : sihir orang Kildan dan Kisydan yang menyembah tujuh binatang, sihir orang-orang yang berilusi dan berjiwa kuat, sihir dengan cara meminta bantuan roh-roh rendah (setan), sihir yang tampak pada penyusunan alat-alat tertentu berdasarkan ukuran-ukuran tertentu, sihir dalam bentuk khayal, hipnotis, dan sulap, sihir yang menggunakan obat-obat khusus yakni dalam berbagai makanan dan minyak, sihir yang menggantungkan ke hati, sihir dalam bentuk menggunjing dan mendekat dengan cara yang ringan dan lembut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Muhammad ibn Abdul Wahab dalam kitab al-Tauhid, membagi sihir menjadi tujuh, yaitu ’Iyafah, memasukan burung kedalam sangkar. Thiyarah, berprasangka buruk yang timbul dari suara burung tertentu dan arah terbangnya. Al-Tharqu, dilakukan dengan cara memukul batu-batu kecil. Al-Tanjim, dengan mengambil petunjuk dari situasi falak sebagai pedoman atas kejadian. Membundel benang dan meniup tiap bundel. Namimah, yaitu mengadu domba manusia. Bayan, susunan kata indah sehingga dapat memutarbalikan yang hak dan yang batil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Dari klasifikasinya Suroso Orakas membagi sihir menjadi dua yaitu sihir klasik dan sihir modern. Sihir klasik dilaksanakan secara tradisional dan dilakukan oleh pawang atau penenung. Sihir modern ialah sihir yang dilaksanakan dengan cara-cara modern, praktis dan sederhana, biasanya dilakukan oleh ahli hipnotis dan paranormal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Sihir selalu menggunakan bantuan jin kafir, cara mendatangkannya antara lain dengan Thariqat al-Iqsam (bersumpah atas nama jin), Thariqat al-Dzabhi (menyembelih sembelihan), Thariqat Sufliyah (melakukan kenistaan), Thariqat Najasah (menuliskan ayat al-Qur’an menggunakan najis), Thariqat al-Tankis (menuliskan ayat al-Qur’an dengan susunan sungsang), Thariqat Tanjim (menujum menggunakan binatang), Thariqat kaffi (melihat melalui telapak tangan), Thariqat al-Atsar (menggunakan benda bekas pakai).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Mantra dan ritual sihir tidak dapt dipisahkan, ia merupakan satu kesatuan. Samudi Abdullah dalam bukunya takhayul dan magic dalam pandangan Islam mengemukakan bahwa sihir mengandung kemusyrikan, menggunakan uangkapan yang tidak dimengerti, mendorong sugesti diri secara khayali, ucapannya rahasia, lafal tersebut ada anggapan berkekuatan magis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Ada beberapa jenis sihir dan kegunaannya, antara lain: Sihir perceraian, digunakam untuk menceraikan suami istri atau menimbulkan permusuhan antara orang yang bersahabat. Sihir mahabbah atau guna-guna, digunakan oleh perempuan agar terlihat cantik. Sihir menipu penglihatan (hipnotis). sihir gila, untuk menekan sel-sel otak yang berkaitan dengan daya pikir, saat itu muncul gejala pada sasaran seperti orang gila. Sihir lesu, untuk mempengaruhi agar mengisolisir diri dan menutup diri. Sihir suara panggilan, sihir penyakit digunakan untuk membuat orang sakit. Sihir pendarahan, jin ditugasi masuk kedalam jasad untuk mengeluarkan darah. Sihir menghalangi pernikahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">ILMU KEBAL</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Ilmu kebal dikenal sebagai ilmu tentang cara-cara menjaga diri tanpa bantuan alat fisik agar tidak mempan senjata tajam atau benda lain yang dapat melukai. Bentuk keselamatan tersebut dapat berupa terhindar dari perlakuan untuk melukai dan tidak luka pada saat orang melukai. Ilmu kebal diperoleh melalui cara supra natural atau supra rasional. Ilmu itu dapat diperoleh dengan belajar dan karena bawaan. Ada dua bentuk latihan yaitu melalui penyucian batin dan penyucian diri melalui ibadah dan pengendalian nafsu syahwat, serta keduniaan. Atau melalui latihan konsentrasi batin dan fisik serta penguasaan jampi atau amalan tertentu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;text-align:justify;text-indent:-9.35pt;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span><strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;text-align:justify;text-indent:-9.35pt;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">SANTET</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Santet adalah bagian dari sihir, merupakan kekuatan supranatural yang dapat dipaksa erpartisipasi dengan cara tertentu, dengan jalan baik ataupun dengan jalan buruk berdasarkan kekuatan gaib. Menurut Cliford Geertz menyatakan bahwa santet adalah sejenis praktek memasukan benda-benda asing ke perut korban melalui upacara ritual agar korban merasa sakit tak terhingga atau mati. Kegunaan santet ada dua yaitu menyakiti dan membunuh. Pada tujuan menyakiti dukun santet menyiapkan alat berupa simbol persamaan. Pada tujuan membunuh biasanya penyantet memakai pakaian serba hitam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">PELET</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Pelet mengandung arti memikat, mengambil, pesona, bujukan. Secara terminologi pelet ialah usaha sadar membujuk, menarik rasa cinta seseorang dengan cara tertentu. Pelet dibagi dua bagian, pelet yan menggunakan huruf arab dan pelet yang diambil dari ajaran setan. Orang yang terkena pelet dapat diketahui sikapnya yangmula-mula diam menyendiri dan yang ia ingat hanyalah orang yang memelet. Bila diarahkan ia membantah, kondisi tubuhnya merosot, kurang bergairah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Ilmu pelet jenis pertama dilaksanakan pada saat tertentu, misalnya ba’da ashar, tahajud atau shalat subuh. Dengan membaca surat al-Jinn ayat 1-5 maka datanglah jin urusan cinta. Bisa juga menggunakan foto kedua belah pihak. Ilmu pelet kedua biasanya dukun meminta sesuatu yan pernah dipakai korban yang masih berau keringat. Sihir y ang paling dahsyat adalah yang dibuat dari benda najis, terutama darah haid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Menurut Umar Hasyim pelet tidak diperbolehkan dalam Islam. Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi SAW bersabda : Sesungguhnya mantra, azimat dan tiwalah (pelet) termasuk perbuatan syirik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">TENTANG JIN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Iblis adalah keturunan jin, setiap setan adalah jin namun tidak setiap jin adalah setan. Bahan jin dari api yang sangat panas. Populasi jin sangat banyak dari manusia. Mereka terdiri dari ras yang berbeda, kehidupannya sama dengan manusia, makan dan minum, menghadiri majlis-majlis yang diadakan manusia, mereka selalu bersama manusia kecuali jika dicegah dengan membaca nama Allah. Jin ada yang mu’kmin dan kafir, diantara mereka ada yang mempelajari wahyu kepada para nabi, memikirkannya dan mengimaninya serta mengajak kaumnya untuk mengamalkannya, memberikan berita gembira kepada yang taat dan menyampaikan ancaman kepada yang berbuat maksiat. Salah satu jenis jin yaitu jin qarin, mereka ditugasi mendampingi seeorang dimanapun dan kapapun orang itu berada. Jin qarin membantu dukun untuk mengetahui tentang pasiennya. Bahwa setiap manusia yang lahir pasti didampingi qarin, qarin tersebut mengetahui seluruh masalah dan rahasia orang yang didampinginya. Saat orang itu meninggal qarin terus mengembara, sehingga jika ada acara pemanggilan roh, jin qarin akan datang mengatasnamakan orang yang meninggal itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Mumamad isa daud ( 1996:39 – 51 ) menjelaskan bahwa jin dapat dilihat dalam tiga kondisi yaitu ketika jin menampakan dirinya, melihat jin lewat jin atau minum air sirih, melihat jin karena kamauan jin disertai adanya kondisi yang memungkinkaan hal itu. Memiliki pengetahuan tentang jindapat menambah keimanan, mengharuskan manusia waspada terhadap kejahatan atau gangguan jin jahat yang selalu menggoda agar manusia ingkar terhadapnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">NYAMBAT</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Nyambat ialah memanggil atau menghadirkan roh melalui suatu ritual<span></span>dengan mengucapkan bacaan tertentu. Beberapa jenis nyambat antara lain : Asrar, yaitu memanggil yang gaib untuk mengetahui sesuatu yang tidak terlihat mata tidak terdengar telinga. Abdul Jabbar yaiut nyambat untuk menghadirkan kekuatan dan kesaktian abdul jabbar. Pajajaran, adalah nyambat untuk menghadirkan khadam berupa siluman yang menjelma menjadi harimau. Kuda lumping, nyambat untuk menghadirkan mahluk gaib. Kasurupan, memanggil jin untuk dimintai bantuannya mengeluarkan jin pengganggu yang mengganggu seseorang yang kesurupan. Tenaga gaib, adalah tenaga yang diisikan guru atau didapat karena wirid atau puasa. Pendukunan. Ramal, tiga jenis ramal yaitu ramal mekanis yang menggunakan manipulasi objek material dan operasinya secara kebetulan saja. Kedua ramalan lewat nujum. Ketiga ramalan yang menggunakan kekuatan supra natural. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Kegunaan nyambat ialah mendatangkan kekuatan gaib melalui khadam, mengetahui rahasia batin melalui khadam, melakukan gerakan dengan kekuatan gaib dan alam bawah sadar, menghadirkan kesaktian seseorang, dll. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">ILMU KANURAGAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"><span></span>Ialah ilmu bela diri dapat berbentuk kekuatan yang datang dari dalam dan dapat juga datang dari luar, keduanya merupakan latihan fisik dan riyadhah. Secara umum ilmu kanuragan dapat digunakan untuk melumpuhkan ilmu<span></span>hitam, untuk menyedot dan membalikan ilmu lawan, untuk menotok lawan dari jarak jauh, memukul lawan dari jarak jauh, dsb. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;" lang="sv">TUGAS RESUME</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;" lang="sv">FILSAFAT ILMU</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;" lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;" lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;" lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;" lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;" lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv">Disusun Oleh </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv">NINA KURNIASIH</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv">20342 107</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv">INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv">SUNAN GUNUNG DJATI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv">FAKULTAS TARBIYAH </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv">BANDUNG </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv">2005</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?feed=rss2&amp;p=183</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pengertian Filsafat</title>
		<link>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=173</link>
		<comments>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=173#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 07:01:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuliahpakjaiz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Etika Filsafa Kom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Secara etimologis (ilmu asal usul kata) kata filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophia. Philosophia terdiri dari dua kata, yaitu philein yang berarti mencintai atau philia yang berarti cinta serta sophos yang berarti kearifan atau kebijaksanaan. Dari bahasa Yunani ini melahirkan kata dalam bahasa Inggris philosophy yang diterjemahkan sebagai cinta kearifan/kebijaksanaan. Cinta dapat diartikan sebagai suatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span lang="sv">Secara etimologis (ilmu asal usul kata) kata filsafat berasal dari bahasa Yunani <em>philosophia</em>. Philosophia terdiri dari dua kata, yaitu <em>philein</em> yang berarti mencintai atau <em>philia</em> yang berarti cinta serta <em>sophos</em> yang berarti kearifan atau kebijaksanaan. Dari bahasa Yunani ini melahirkan kata dalam bahasa Inggris <em>philosophy</em> yang diterjemahkan sebagai cinta kearifan/kebijaksanaan. Cinta dapat diartikan sebagai suatu dinamika yang menggerakan subjek untuk bersatu dengan objeknya dalam arti dipengaruhi dan diliputi objeknya. Sedangkan kearifan atau kebijaksanaan dapat diartikan ketepatan bertindak. Dalam bahasa Inggris dapat ditemukan kata <em>policy</em> dan wisdom untuk menyebut kebijaksanaan. Namun yang sering dipergunakan dalam filsafat adalah kata wisdom dan lebih ditujukan pada pengertian keaifan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">PENGERTIAN FILSAFAT DAPAT DIBEDAKAN</p>
<ol style="list-style-type:decimal;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>Filsafat sebagai suatu sikap</strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">Filsafat merupakan sifat terhadap kehidupan dan alam semesta. Bagaimana manusia yang berfilsafat dalam menyikapi hidupnya dan alam sekitarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">Contoh: seorang ibu yang tiba-tiba mendapat berita kematian putrinya yang pramugari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">Seorang ibu yang mampu berpikir secara mendalam dan menyeluruh dalam menghadapi musibah tersebut akan dapat bersikap dewasa, dapat mengontrol dirinya dan tidak emosional. Sikap kedewasaan secara kefilsafatan adalah sikap yang menyelidiki secara kritis, terbuka dan selalu bersedia meninjau persoalan dari semua sudut pandangan.</span></p>
<ol style="list-style-type:decimal;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>filsafat sebagai suatu metode</strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;">berfilsafat adalah berpikir secara reflektif, yaitu berpikir dengan memperhatikan unsur di belakang objek yang menjadi pusat pemikirannya.</p>
<ol style="list-style-type:decimal;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>filsafat sebagai kumpulan persoalan</strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">banyak persoalan-persoalan abadi yang dihadapi oleh para filsuf. Usaha-usaha untuk memecahkannya telah dilakukan, namun ada persoalan-persoalan yang smpai hari ini belum juga terpecahkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">Contoh: persoalan apakah ada ide-ide bawaan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">Hal ini telah dijawab oleh John Locke.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">Contoh: berapa IP (indeks prestasi) yang Anda capai semester ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">Pertanyaan yang demikian dapat langsung dijawab karena bersangkutan dengan fakta. </span>Sedangkan pertanyaan yang berikut:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">Apakah Tuhan itu ada?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">Apakah kebenaran itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">Apakah keadilan itu ada perbedaan antara pertanyaan filsafat dengan pertanyaan bukan filsafat?</span></p>
<ol style="list-style-type:decimal;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>filsafat merupakan sistem pemikiran</strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">Dalam sejarah filsafat telah dirumuskan sistem-sistem pemikiran dari Socrates, Plato, dan Aristoteles. Dengan demikian tanpa adanya nama-nama pemikir tersebut besert hasil pemikirannya, maka filsafat tidak dapat berkembang seperti sekarang.</span></p>
<ol style="list-style-type:decimal;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>filsafat merupakan analisis logis</strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;">para tokoh filsafat analitis berpendapat bahwa tujuan filsafat adalah menyingkirkan kekaburan-kekaburan dengan cara menjelaskan arti dari suatu istilah, baik yang dipakai dalam ilmu maupun dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<ol style="list-style-type:decimal;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="sv">filsafat      merupakan suatu usaha untuk memperoleh pandangan secara menyeluruh</span></strong><span lang="sv"></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">Filsafat mencoba menggabungkan kesimpulan-kesimpulan dari berbagai macam ilmu serta pengalaman manusia menjadi suatu pandangan dunia yang menyeluruh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">Hakikat dari sesuatu haruslah mempunyai sifat-sifat berikut:</span></p>
<ol style="list-style-type:lower-alpha;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="sv">umum,</span></em><span lang="sv"> artinya dapat diterapkan secara      luas.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="sv">Abstrak,</span></em><span lang="sv"> artinya tidak dapat ditangkap dengan      panca indera, dan hanya dapat ditangkap dengan akal.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="sv">Mutlak</span></em><span lang="sv"> harus terdapat pada sesuatu hal,      sehingga halnya <em>menjadi ada.</em></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"> Menurut Descrates ada beberapa tahapan untuk memulai perenungan filsafat, yaitu:</span></p>
<ol style="list-style-type:lower-alpha;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em>menyadari adanya masalah</em></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">apabila seseorang menyadari bahwa ada sesuatu masalah, maka orang tersebut akan mencoba untuk memikirkan penyelesaiannya.</span></p>
<ol style="list-style-type:lower-alpha;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="sv">meragu-ragukan      dan menguji secara rasional anggapan-anggapan</span></em><span lang="sv"></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;">setelah selesai dirumuskan, mulailah mengkaji pengetahuan yang diperoleh melalui indera san meragukannya.</p>
<ol style="list-style-type:lower-alpha;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em>memeriksa penyelesaian-penyelesaian yang terdahulu</em></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;">setelah menguji pengetahuan perlu mempertimbangkan penyelesaian-penyelesaian yang telah diajukan mengenai masalah yang bersangkutan.</p>
<ol style="list-style-type:lower-alpha;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em>mengajukan hipotesis</em></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em>menguji konsekuensi-konsekuensi</em></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">mengadakan verifikasi terhadap hasil-hasil penjabaran yang telah dilakukan.</span></p>
<ol style="list-style-type:lower-alpha;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em>menarik kesimpulan</em></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">kesimpulan yang diperoleh dapat merupakan masalah baru untuk diuji kembali dan seterusnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;margin-left:.25in;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Teori-teori Filsafat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;">Pengertian teori (dari bahasa Inggris <em>theory</em>, bahasa Latin <em>theoria,</em> dan bahasa Yunani <em>theoreo</em> yang berarti melihat atau <em>thorus</em> yang berarti pengamatan) menurut kamus umum bahasa Indonesia (1995;1041) adalah:</p>
<ol style="list-style-type:decimal;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">pendapat yang      dikemukakan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa (kejadian)</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">atas dan hokum umum      yang menjadi dasar suatu kesenian atau ilmu pengetahuan </span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">pendapat, cara, dan aturan      untuk melakukan sesuatu</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<ol style="list-style-type:upper-alpha;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>THALES</strong> (abad ke 6)</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">Menurut Thales arkhe dalam semesta adalah air. Semuanya berasal dari air dan semuanya kembali menjadi air (K. Bertens, 1975:26).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;">Alasan Thales mengemukakan air sebagai zat asali alam semesta, karena bahan makanan semua makhluk memuat zat lembab dan juga benih pada semua makhluk hidup. <span lang="sv">Teori tentang alam semesta ini barangkali terlalu sederhana, namun pada saat itulah untuk pertama kalinya manusia berpikir tentang alam semesta dengan menggunakan rasio.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<ol style="list-style-type:upper-alpha;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>HERAKLEITOS</strong> (abad ke 5 SM)</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;">Menurut Herakleitos, perubahan merupakan satu-satunya kemantapan, <em>It rest by changing</em>. <span lang="sv">(K. Bestens, 1975: 42). Tidak ada sesuatu pun yang betul-betul ada, semuanya <em>menjadi</em>. </span><em>Menjadi</em> merupakan perubahan yang tiada henti-hentinya melalui 2 cara:</p>
<ol style="list-style-type:decimal;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">seluruh kenyataan      merupakan arus sungai yang mengalir.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">seluruh kenyataan adalah api.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">Perkataan yang terkenal dari Herakleitos adalah <em>panta rhei kai uden menei,</em> semuanya mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tinggal mantap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<ol style="list-style-type:upper-alpha;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>PARAMENIDES</strong> ((515 SM)</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">Seluruh jalan kebenaran bersandar pada satu keyakinan: yang ada itu ada, itulah kebenaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">Ada dua pengandaian yang dapat membuktikan kebenaran, yaitu:</span></p>
<ol style="list-style-type:decimal;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">orang dapat      mengemukakan bahwa yang ada itu tidak ada.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">orang dapat      mengatakan bahwa yang serentak ada dan serentak juga tidak ada.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">Kedua pengertian di atas sama-sama mustahil, yang tidak ada tidak dapat dipikirkan dan tidak dapat dibicarakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<ol style="list-style-type:upper-alpha;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>SOCRATES</strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">Menurut Socrates, manusia merupakan makhluk yang dapat mengenal, yang harus mengatur tingkah lakunya sendiri dan yang hidup dalam masyarakat. Teorinya tentang manusia bertitik tolak dari pengalaman sehari-hari dan dari kehidupan yang konkret.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">Socrates berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">1.</span><span style="font-size:7pt;line-height:150%;" lang="sv"></span><span lang="sv">apakah hidup yang baik?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">2.</span><span style="font-size:7pt;line-height:150%;" lang="sv"></span><span lang="sv">apakah kebaikan itu, yang mengakibatkan kebahagiaan seorang manusia?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">3.</span><span style="font-size:7pt;line-height:150%;" lang="sv"></span><span lang="sv">apakah norma yang mengizinkan kita menetapkan baik buruknya suatu perbuatan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21pt;text-align:justify;text-indent:15pt;line-height:150%;">untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, Socrates memulai dengan bertanya kepada siapa saja yang ditemuinya. <span lang="sv">Metode Socrates ini disebut <em>dialektika,</em> dari kata Yunani <em>dialeqesthai</em> berarti bercakap-cakap atau berdialog. Karena tujuan dari dialog adalah untuk menemukan pengertian tentang kebajikan, maka Socrates menamai metodenya dengan <em>maieutika tekhne</em> (seni kebidanan).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<ol style="list-style-type:upper-alpha;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>PLATO</strong> (428 SM)</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">Dari pengertiannya tentang ide umum dan ide konkret, dapat disimpulkan bahwa menurut Plato realitas sebenarnya terdiri dari dua dunia. Satu dunia mencakup benda-benda jasmani yang dapat ditangkap oleh panca indera. Pada tahap ini semua realitas berada dalam perubahan. Contoh: baju yang sekarang dipakai rapid an bersih, besok sudah lusuh dan kotor. Karena itu ada suatu dunia lain, yaitu dunia ideal, yaitu dunia yang terdiri ide-ide. Dalam dunia ideal ini tidak ada perubahan, dan sifatnya abadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">Plato memandang manusia sebagai makhluk yang terpenting di antara segala makhluk yang terdapat di dunia ini. Jiwa merupakan pusat atau intisari kepribadian manusia, dan jiwa manusia bersifat baka atau kekal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv"></span></p>
<ol style="list-style-type:upper-alpha;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>ARISTOTELES</strong> (384 SM)</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;"><span lang="sv">Sejak Aristoteles inilah pemikiran-pemikiran filsafat tersusun secara sistematis, yang dikelompokan dalam 8 bagian, yaitu:</span></p>
<ol style="list-style-type:decimal;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">logika</li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">filsafat alam</li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">psikologi</li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">biologi</li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">metafisiska</li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">etika</li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">politik dan ekonomi</li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">retorika dan paetika</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">teori Aristoteles tentang gerak dapat dipahami melalui contoh berikut ini, yaitu air dingin menjadi panas. Gerak berlangsung antara dua hal yang berlawanan antara panas dan dingin. Namun ada sesuatu hal yang dulunya dingin kemudian menjadi panas. </span>Dengan demikian ada 3 faktor dalam setiap perubahan, yaitu:</p>
<ol style="list-style-type:decimal;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">keadaan/cirri yang terdahulu, yaitu dingin</li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">keadaan/cirri yang      baru, yaitu panas</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">suatu substratum atau alas yang tetap, yaitu air.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.25in;line-height:150%;">Dalam pandangannya tentang penyebab tiap-tiap kejadian, baik kejadian alam maupun kejadian yang disebabkan manusia, Aristoteles menyebut ada 4 penyebab, yaitu:</p>
<ol style="list-style-type:decimal;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">penyebab efisien (<em>efficient cause</em>) yaitu sumber      kejadian, factor yang menjalankan kejadian. Contoh: tukang kayu yang      membuat meja makan.</li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">penyebab final (<em>final cause</em>). Yaitu tujuan yang menjadi      arah seluruh kejadian. Contoh: meja makan dibuat untuk makan.</li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">penyebab material (<em>material      cause</em>). Yaitu bahan dari mana benda dibuat. Contoh: meja makan dibuat      dari kayu.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">penyebab formal (<em>formal cause</em>). Yaitu bentuk yang      menyusun bahan. Contoh: bentuk meja ditambah pada kayu, sehingga kayu      menjadi sebuah meja.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;">
<ol style="list-style-type:upper-alpha;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>AL KINDI</strong> (796-873 SM)</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">Teorinya tentang pengetahuan terbagi dalam 2 bagian:</span></p>
<ol style="list-style-type:decimal;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">pengetahuan Ilahi (<em>devine science</em>)</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">pengetahuan langsung yang diperoleh Nabi dari Tuhan.</span></p>
<ol style="list-style-type:decimal;">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">pengetahuan manusiawi (<em>human scince</em>)</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="sv">pengetahuan yang didasarkan atas pemikiran.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?feed=rss2&amp;p=173</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>APLIKASI FILSAFAT DALAM ILMU KOMUNIKASI</title>
		<link>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=170</link>
		<comments>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=170#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 06:30:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuliahpakjaiz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Etika Filsafa Kom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Oleh 
Tine Silvana R*)


Media massa telah menjadi fenomena tersendiri dalam proses komunikasi massa dewasa ini bahkan ketergantungan manusia pada media massa sudah sedemikian besar. Media komunikasi massa abad ini yang tengah digandrungi masyarakat adalah televisi. Joseph Straubhaar &#38; Robert La Rose dalam bukunya Media Now, menyatakan; the Avarege Person spend 2600 Hours per years watcing [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span lang="sv">Oleh </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span lang="sv">Tine Silvana R*)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="sv"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Media massa telah menjadi fenomena tersendiri dalam proses komunikasi massa dewasa ini bahkan ketergantungan manusia pada media massa sudah sedemikian besar. Media komunikasi massa abad ini yang tengah digandrungi masyarakat adalah televisi. </span><em>Joseph Straubhaar &amp; Robert La Rose</em> dalam bukunya Media Now, menyatakan; <em>the Avarege Person spend 2600 Hours</em> <em>per years watcing TV or listening to radio. That,s 325 eight-hourdays, a full time job. We spend another 900 hours with other media, including, newspaper, books, magazines, music, film, home video, video games and the internet, that about hours of media use – more time than we spend on anything else, including working or sleeping (straubhaar &amp; La Rose, 2004 : 3)</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Di Indonesia berdasarkan <em>survey Ac Nielsen</em> di tahun 1999 bahwa 61% sampai 91% masyarakat Indonesia suka menonton televisi, hasil ini lebih lanjut dijelaskan bahwa “hampir 8 dari 10 orang dewasa di kota-kota besar menonton televisi setiap hari dan 4 dari 10 orang mendengarkan radio” ( Media Indonesia, 16- November 1999). Hal ini menunjukkan bahwa menonton televisi merupakan “aktivitas” utama masyarakat yang seakan tak bisa ditinggalkan. <span lang="sv">Realitas ini sebuah bukti bahwa televisi mempunyai kekuatan menghipnotis pemirsa, sehingga seolah-olah televisi telah mengalienasi seseorang dalam agenda settingnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Perkembangan pertelevisian di Indonesia dua tahun terakhir ini memang amat menarik, televisi-televisi swasta bermunculan melengkapi dan memperkaya TV yang sudah ada. Tercatat lebih dari 17 TV yang ada di Indonesia adalah TVRI, RCTI, SCTV, TPI, AN-TV, Indosiar, Trans-TV, Lativi, TV-7, TV Global, dan Metro TV ditambah TV-TV lokal seperti Bandung TV, STV, Padjadjaran TV dan sebagainya. Fenomena ini tentu saja menggembirakan karena idealnya masyarakat Indonesia memiliki banyak alternatif dalam memilih suguhan acara televisi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Namun realitasnya, yang terjadi adalah stasiun-stasiun TV di Indonesia terjebak pada selera pasar karena tema acara yang disajikan hampir semua saluran TV tidak lagi beragam tetapi seragam di mana informasi yang sampai kepada publik hanya itu-itu saja tidak menyediakan banyak alternatif pilihan. Beberapa format acara TV yang sukses <span></span>di satu stasiun TV acapkali diikuti oleh TV-TV lainnya, hal ini terjadi hampir pada seluruh format acara TV baik itu berita kriminal dan bedah kasus, tayangan misteri, dangdut,<span></span>film india, telenovela, serial drama Asia, <em>Infotainment,</em> dan lain-lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="es"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="es">_______________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;" lang="es">*) Dosen pada Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Media watch mencatat bahwa selama ini atas nama mekanisme pasar, pilihan format isi pertelevisian tak pernah lepas dari pertimbangan ”tuntunan khalayak” menurut<span></span>perspektif pengelola. Berbagai program acara dibuat hanya untuk melayani kelompok budaya mayoritas yang potensial menguntungkan, sementara kelompok minoritas tersisihkan dari dunia simbolik televisi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Ukuran televisi hanya dilihat berdasarkan rating tidak memperhatikan faktor fungsional, akibatnya ada kelompok masyarakat yang dapat menikmati berbagai stasiun TV karena berada di wilayah yang berpotensi, tapi ada masyarakat yang tak terlayani sama sekali atau menangkap acara televisi namun isinya secara kultural tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Keadaan ini sebelumnya terjadi juga pada negara adi kuasa seperti Amerika Serikat penelitian di negara ini menunjukkan bahwa surat kabar dan televisi mengarahkan sasaran liputan mereka terutama pada kelompok elite dan tak memperdulikan sebagian besar warga (Kovach, 2003:66) dalam pemenuhan fungsi informasi dan hiburan belakangan ini, TV-TV gencar menayangkan berita-berita yang disebut dengan <em>infotainment.</em> Kehadiran <em>infotainment </em>amat mewarnai program-program acara di televisi bahkan menempati posisi rating tertinggi yang berarti acara-acara model seperti ini amat digemari oleh masyarakat. Pengiklan pun tak urung berbondong—bondong memasang iklan pada setiap tayangannya tentu saja semakin mamacu pengelola media untuk berloma-lomba membuat heboh acara <em>infotainment </em>yang dikemasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Dipelopori oleh tayangan Kabar-Kabari lima tahun silam di RCTI, saat ini tidak kurang dari 50 judul acara serupa muncul menyebar di semua stasiun TV termasuk TVRI bahkan Metro TV. Semua format yang tampil mengatasnamakan <em>infotainment </em>sebagai penggabungan dari kata <em>”Information’</em> dan <em>Entertainment’ </em>(Informasi dan Hiburan) wujudnya merupakan paket tayangan informasi yang dikemas dalam bentuk hiburan &amp; informasi yang menghibur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Jika kita cermati tampaknya tayangan-tayangan <em>infotainment </em>yang mengklaim sebagai sebuah produk jurnalisme seringkali berorientasi bukan pada efek yang<span></span>timbul dalam masyarakat tetapi produk komersial tersebut apakah mampu terjual dan mempunyai nilai ekonomis atau tidak, sehingga tidak memperhatikan apa manfaatnya bagi pemirsa ketika menginformasikan adegan ”syur” Mayangsari – Bambang Soeharto, <em>exploitasi</em> kawin cerai para selebritis, <em>konflik</em>, gaya hidup, serta kebohongan publik yang kerap digembar-gemborkan oleh kalangan selebritis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">Fenomena ini menandakan satu permasalahan di dalam kehidupan nilai-nilai ”filosofis” televisi di Indonesia. Televisi Indonesia semakin hari semakin memperlihatkan kecenderungan mencampuradukan berita dan hiburan melalui format tayangan <em>”infotainment”.</em> Kebergunaan berita menjadi berkurang bahkan menyimpang. Hal ini disebabkan di antaranya oleh tekanan pasar yang makin meningkat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">1. <span></span>Kerangka Teoritis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;"><em><span lang="sv">Louis O. Katsoff</span></em><span lang="sv"> dalam bukunya <em>”Elements of Philosophy”</em> menyatakan<span></span>bahwa kegiatan filsafat merupakan perenungan, yaitu suatu jenis pemikiran yang meliputi kegiatan meragukan segala sesuatu, mengajukan pertanyaan, menghubungkan gagasan yang satu dengan gagasan yang lainnya, menanyakan ”mengapa”, mencari jawaban yang lebih baik ketimbang jawaban pada pandangan mata. Filsafat sebagai perenungan mengusahakan kejelasan, keutuhan, dan keadaan memadainya pengetahuan agar dapat diperoleh pemahaman. Tujuan filsafat adalah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan kritik dan menilai pengetahuan ini. Menemukan hakekatnya, dan menerbitkan serta mengatur semuanya itu dalam bentuk yang sistematik. Filsafat membawa kita kepada pemahaman &amp; pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak. Tiga bidang kajian filsafat ilmu adalah <em>epistemologis, ontologis</em>, dan <em>oksiologis.</em> Ketiga bidang filsafat ini merupakan pilar utama bangunan filsafat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;"><em><span lang="sv">Epistemologi:</span></em><span lang="sv"> merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode, dan batasan pengetahuan manusia yang bersangkutan dengan kriteria bagi penilaian terhadap kebenaran dan kepalsuan. <em>Epistemologi </em>pada dasarnya adalah cara bagaimana pengetahuan disusun dari bahan yang diperoleh<span></span>dalam prosesnya menggunakan metode ilmiah. Metode adalah tata cara dari suatu kegiatan berdasarkan perencanaan yang matang &amp; mapan, sistematis &amp; logis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;"><em><span lang="sv">Ontologi:</span></em><span lang="sv"> adalah cabang filsafat mengenai sifat (wujud) atau lebih sempit lagi sifat fenomena yang ingin kita ketahui. Dalam ilmu pengetahuan sosial <em>ontologi</em> terutama berkaitan dengan sifat interaksi sosial. Menurut<span></span>Stephen Litle John, <em>ontologi </em>adalah mengerjakan terjadinya pengetahuan dari sebuah gagasan kita tentang realitas. Bagi ilmu sosial <em>ontologi</em> memiliki keluasan eksistensi kemanusiaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;"><em><span lang="sv">Aksiologis:</span></em><span lang="sv"> adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan nilai seperti etika, estetika, atau agama. <em>Litle John</em> menyebutkan bahwa aksiologis, merupakan bidang kajian filosofis yang membahas <em>value</em> (nilai-nilai). <em>Litle John</em> mengistilahkan kajian menelusuri tiga asumsi dasar teori ini adalah dengan nama metateori. Metateori adalah bahan spesifik pelbagai teori seperti tentang apa yang diobservasi, bagaimana observasi dilakukan dan apa bentuk teorinya. ”Metatori adalah teori tentang teori” pelbagai kajian metatori yang berkembang sejak 1970 –an mengajukan berbagai metode dan teori, berdasarkan perkembangan paradigma sosial. Membahas hal-hal seperti bagaimana sebuah <em>knowledge</em> itu <em>(epistemologi)</em> berkembang. Sampai sejauh manakah eksistensinya <em>(ontologi)</em> perkembangannya dan bagaimanakah kegunaan nilai-nilainya (aksiologis) bagi kehidupan sosial. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;"><span lang="sv">Pembahasan ; Berita <em>infotainment </em>dalam kajian filosofis. Kajian ini akan meneropong lingkup persoalan di dalam disiplin jurnalisme, sebagai sebuah bahasan dari keilmuan komunikasi, yang telah mengalami degradasi bias tertentu dari sisi <em>epistemologis, ontologis</em> bahkan aksiologisnya terutama dalam penyajian berita <em>infotainment </em>di televisi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">2. <span></span>Kajian Aspek <em>Epistemologis:</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;"><span lang="sv">Dalam berita hal terpenting adalah fakta. Pada titik yang paling inti dalam setiap pesannya pelaporan jurnalisme mesti membawa muatan fakta. Setiap kepingan informasi mengimplikasikan realitas peristiwa kemasyatakatan. Tiap pesan menjadi netral dari kemungkinan buruk penafsiran subyektif yang tak berkaitan dengan kepentingan–kepentingan kebutuhan masyarakat. Charnley (1965 : 22.30) mengungkapkan kunci standardisasi bahasa penulisan yang memakai pendekatan ketepatan pelaporan faktualisasi peristiwa, yaitu akurat, seimbang, obyektif, jelas dan singkat s</span>erta mengandung waktu kekinian. Hal-hal ini merupakan tolok ukur dari <em>”The Quality of News”</em> dan menjadi pedoman yang mengondisikan kerja wartawan di dalam mendekati peristiwa berita &amp; membantu upaya tatkala mengumpulkan &amp; mereportase berita. <span lang="sv">Secara <em>epistemologis</em> cara-cara memperoleh fakta ilmiah yang menjadi landasan <em>filosofis</em> sebuah berita <em>infotainment </em>yang akan ditampilkan berdasarkan perencanaan yang matang, mapan, sistematis &amp; logis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">3. <span></span>Kajian Aspek <em>Ontologis</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;"><span lang="sv">Dalam kajian berita <em>infotainment</em> ini bahasan secara <em>ontologis</em> tertuju pada keberadaan berita <em>infotainment</em> dalam ruang publik. Fenomena tentang berita <em>infotainment </em>bukan gejala baru di dunia jurnalisme. Pada abad 19, pernah berkembang jurnalisme yang berusaha mendapatkan <em>audiens</em>nya dengan mengandalkan berita kriminalitas yang sensasional, skandal seks, hal-hal, yang menegangkan dan pemujaan kaum selebritis ditandai dengan reputasi James Callender lewat pembeberan petualangan seks, para pendiri Amerika Serikat, Alexander Hamilton &amp; Thomas Jeferson merupakan karya elaborasi antara fakta dan desus-desus. Tahun itu pula merupakan masa kejayaan William Rudolf Hearst dan Joseph Pulitzer yang dianggap sebagai dewa-dewa ”Jurnalisme kuning.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;"><span lang="sv">Fenomena jurnalisme <em>infotainment</em> kembali mencuat ketika terjadi berita hebohnya perselingkuhan Presiden Amerika ”Bill Clinton- Lewinsky”. Sejak saat itu seakan telah menjadi karakteristik pada banyak jaringan TV di dunia. Di Indonesia, fenomena ini juga bukan terbilang baru. Sejak zaman <span></span>Harmoko (Menteri Penerangan pada saat itu) banyak surat kabar–surat kabar kuning muncul &amp; diwarnai dengan antusias masyarakat. Bahkan ketika Arswendo Atmowiloto menerbitkan Monitor semakin membuat semarak ”Jurnalisme kuning di Indonesia”. Pasca Orde Baru ketika kebebasan pers dibuka lebar-lebar semakin banyak media baru bermunculan, ada yang memiliki kualitas tetapi ada juga yang mengabaikan kualitas dengan mengandalkan sensasional, gosip, skandal dan lain-lain. Ketika tayangan Cek &amp; Ricek dan Kabar Kabari berhasil di RCTI, TV lainnya juga ikut-ikut menayangkan acara gosip. Dari sinilah cikal bakal <em>infotainment</em> marak di TV kita. Fenomena <em>infotainment</em> merupakan hal yang tidak bisa terhindarkan dari dunia jurnalisme kita. Pada realitasnya ini banyak disukai oleh masyarakat dengan bukti rating tinggi <em>(public share tinggi)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv">4. <span></span>Kajian pada aspek <em>aksiologis</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;"><span lang="sv">Secara aksiologis kegunaan berita <em>infotainment</em> dititik beratkan kepada hiburan. Pengelola acara ini menarik audiens hanya dengan menyajikan tontonan yang enak dilihat sebagai sebuah strategi bisnis jurnalisme. Hal ini akan berdampak pada menundanya selera dan harapan sejumlah orang terhadap sesuatu yang lain. Ketika etika <em>infotainment</em> telah salah langkah mencoba untuk ”menyaingkan” antara berita &amp; hiburan. Padahal nilai dan daya pikat berita itu berbeda, <em>infotainment</em> pada gilirannya akan membentuk <em>audiens</em> yang dangkal karena terbangun atas bentuk bukan substansi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;"><span lang="sv">Pengelola media melalui berita <em>infotainment </em>terkadang tidak lagi mempertimbangkan moral sebagai pengontrol langkah mereka sehingga begitu mengabaikan kepentingan masyarakat.Hal itulah yang terjadi dengan berita <em>infotainment </em>di Indonesia, beberapa kaidah yang semestinya dijalankan malah diabaikan demi kepentingan mengejar rating dan meraup keuntungan dari pemasang iklan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span lang="sv">DAFTAR PUSTAKA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;">Andersen., Kenneth E., 1972, <em>Introduction to Communication Theory and Practice,  Philippines: </em>Cumming Publ Company.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;"><span lang="sv">Anshari., Endang Saefuddin, 1991. <em>Ilmu Filsafat dan Agama,</em><span></span>PT. </span>Bina Ilmu, Surabaya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;">Asante., Molefi Kete, 1989, <em>Handbook of International and Intercultural Communication, California</em>: sage Publ Inc.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="fi">Bagus., Lorens, 1991, <em>Metafisika</em>, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;">Berger., Charles R., 1987, <em>Handbook of Communication Science,</em> California: Sage publ Inc.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Cobley., Paul, 1996, <em>The Communication Theory Reader</em>, London: Routledge.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;">DeFleur., Melvin L., 1985, <em>Understanding Mass Communication</em>, Boston: Houghton Mifflin Company.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;"><span lang="sv">Effendy., Onong Uchjana, 2000, <em>Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi</em>, <span></span>Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;">Fisher., B. Aubrey, 1987, <em>Interpersonal Communication</em>: Pragmatics of Human Relation 2 nd ed., McGraw-Hill</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;">Little John., Stephen W., 1996, <em>Theories of Human Communication</em>, Ohio: Charles E. Merril Company</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;"><span lang="sv">Muhadjir., Noeng, 1998, <em>Filsafat Ilmu Telaah Sistematis Fungsional Komparatif</em>, <span></span>Rake Sarasin, Yogyakarta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;"><span lang="sv"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;"><span lang="sv">Mulyana., Deddy, 2002, <em>Metodologi Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya</em>,<span></span>PT. Rosdakarya, Bandung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;"><span lang="sv">Mulyana., Deddy, 2001, <em>Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar</em>,<span></span>PT. Rosdakarya, Bandung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;"><span lang="sv">Poerwadarminta., W.J.S, 1985, <em>Kamus Umum Bahasa Indonesia</em>,<span></span>PN. Balai Pustaka, Jakarta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;"><span lang="sv">Susanto., Astrid S, 1976, <em>Filsafat Komunikasi</em>,<span></span>Penerbit Binacipta, Bandung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;"><span lang="sv">Suriasumantri, Jujun S, 1985, <em>Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer</em>,<span></span>Penerbit Sinar Harapan, Jakarta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;"><span lang="sv">Syam., Nina Winangsih, Rekonstruksi Ilmu Komunikasi Perspektif Pohon Komunikasi dan Pergeseran Paradigma Komunikasi Pembangunan Dalam Era Globalisasi. Pidato Pengukuhan Guru Besar Dalam Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran pada tanggal 11 September 2002</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?feed=rss2&amp;p=170</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Short Message Service (SMS)</title>
		<link>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=101</link>
		<comments>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=101#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 06:22:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuliahpakjaiz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pertekom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[

Dewasa ini handphone (HP) menjadi alat komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. HP memungkinkan tiap individu untuk berkomunikasi kapanpun dan di manapun. HP bukan lagi menjadi barang mewah. Hampir seluruh lapisan masyarakat menggunakan HP sebagai penunjang aktivitas mereka sehari-hari. Perlahan, masuknya teknologi ini ternyata membawa perubahan dalam pola-pola hubungan dalam masyarakat.
Beragam fasilitas disediakan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dewasa ini <em>handphone</em> (HP) menjadi alat komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. HP memungkinkan tiap individu untuk berkomunikasi kapanpun dan di manapun. HP bukan lagi menjadi barang mewah. Hampir seluruh lapisan masyarakat menggunakan HP sebagai penunjang aktivitas mereka sehari-hari. Perlahan, masuknya teknologi ini ternyata membawa perubahan dalam pola-pola hubungan dalam masyarakat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Beragam fasilitas disediakan untuk memudahkan komunikasi antarmanusia. Mulai dari fasilitas bicara, <em>Short Message Service</em> atau lebih dikenal dengan SMS, permainan, kamera, radio sampai koneksi internet dan transaksi perbankan. Semua fitur yang ditawarkan seolah memanjakan para pengguna <em>handphone</em>. Dengan <em>handphone,</em> dunia layaknya dalam genggaman.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tulisan ini mencoba mengelaborasi penggunaan fasilitas SMS proses<span></span>komunikasi dalam delapan tradisi bidang kajian ilmu komunikasi sebagaimana dijelaskan dalam buku <em>Theories of Human Communication</em>nya Littlejohn (2001: 12-14).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebelum memulai peneropongan melalui delapan tradisi ilmu komunikasi, perlu kiranya untuk mendeskripsikan SMS sebagai fenomena komunikasi. <em>Short Message Service </em><span></span>merupakan fitur HP berupa pesan pendek yang ditulis kurang lebih 160 karakter. Fitur ini banyak diminati oleh pengguna telepon seluler. Selain biayanya murah (Rp 99 hingga Rp 350 per SMS), juga bisa memuat karakter atau gambar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Berdasarkan pengamatan terhadap beberapa pengguna ponsel, mereka menggunakan fitur SMS untuk berbagai tujuan. Mulai dari sekedar bertukar informasi biasa, iseng-iseng mencari kenalan baru, melakukan pendekatan kepada orang yang disukai sampai yang SMS untuk meneror musuh.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Tradisi Retorika</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam tradisi ini, komunikasi dilihat sebagai aktivitas seni. Komunikasi sebagai suatu tindakan strategis, artinya tindakan yang memerlukan perencanaan yang melibatkan logika dan emosi. Ciri lain dari tradisi ini ialah setiap kata (<em>word</em>) memiliki kekuatan yang bisa menimbulkan pengaruh tertentu bila digunakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kaitannya dengan SMS sebagai aktivitas komunikasi, bahwa sebelum seseorang mengirimkan SMS, ia akan melakukan perencanaan tentang apa yang ia tulis. Bagaimana SMS itu ditulis secara singkat, padat dan jelas mengingat jumlah karakter yang terbatas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebagai praktek seni yang menekankan pada keindahan tampak dalam penggunaan SMS sebagai media pendekatan terhadap seseorang. Untuk tujuan tersebut, pengirim SMS berusaha menyusun kata demi kata untuk memikat sang pujaan hati. Sederet puisi, kalimat indah atau sekedar basa-basi untuk menunjukkan perhatian menjadi pesan dari sebuah komunikasi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Tradisi Semiotik</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Short Message Service</em> bisa dimasukkan dalam tradisi semiotik. Yaitu tradisi yang memfokuskan diri pada tanda, simbol serta proses pemaknaan. Terbukti, seringkali kita jumpai bentuk SMS yang menggunakan karakter-karakter tertentu untuk menggambarkan sesuatu semisal</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:14pt;font-family:Wingdings;"><span>J</span></span><span style="font-size:14pt;"><span></span>,<span></span> <img class="wp-smiley" src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif" alt="-P"><span></span>,<span></span>^_^</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">atau karena terbatasnya jumlah karakter, seringkali kata tidak ditulis sebagaimana mestinya, dengan menghilangkan huruf vokal misalnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ketika seseorang membaca SMS yang berisi karakter tulisan tersebut, terjadilah apa yang dalam tradisi semiotik dikenal<span></span>dengan <em>meaning</em> atau pemaknaan. Sejalan dengan semiotika, dalam proses ini pembacalah yang berperan sebagai pemberi makna.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Tradisi Fenomenologis</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Komunikasi merupakan sebuah bentuk pertukaran pengalaman individu melalui proses dialog. Demikianlah tradisi ini memandang aktivitas komunikasi. Ahli psikologi, Carl Rogers mengajukan tiga faktor yang dianggap sangat berpengaruh terhadap keberhasilan komunikasi dalam <em>frame</em> fenomenologis yaitu, kongruensi, kesetaraan penghargaan dan empati (Griffin, 2003: 32).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Layaknya komunikasi tatap muka, dalam SMSpun terjadi proses komunikasi dialogis. Di mana pengalaman tiap individu memegang peranan dalam memahami pesan. Penghargaan terhadap kesetaraan dan empati tersirat dan tersurat dari kalimat yang digunakan dalam SMS.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Tradisi Sibernetik</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dari teknis pengiriman SMS, tanpa penjelasan rincipun kita bisa memahami SMS dari sudut pandang sibernetik. Kata-kata kunci seperti <em>sender-receiver, feedback</em> dan <em>system</em> dalam tradisi sibernetik juga sama dalam proses pengiriman SMS.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">SMS yang telah ditulis akan dikirimkan ke pusat layanan pesan melalui gelombang pemancar yang kemudian diteruskan ke nomer tujuan, juga melalui pemancar. Masalah yang dihadapi dalam sistem ini juga seputar kelebihan kapasitas (<em>overloaded</em>), gangguan sinyal (<em>noise</em>).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Tradisi Sosiopsikologis</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Poin penting dari tradisi ini antara lain adanya pengaruh pesan terhadap perilaku manusia. Bahwa sejauhmana komunikasi akan berhasil bisa diprediksi melalui hubungan sebab dan efek (<em>cause and effect relationship</em>).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">The Yale Attitude Studies (Griffin, 2003:22) menyebutkan ada 3 penyebab terpisah dari variasi persuasi :</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;"><span>1.<span></span></span><em>Who</em>, sumber pesan (menyangkut keahlian dan kredibilitas).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;"><span>2.<span></span></span><em>What</em>, isi pesan (topik dan argumen).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;"><span>3.<span></span></span><em>Whom,</em> karakter penerima pesan (kepribadian, kognisi)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Secara sederhana, tradisi ini memandang bahwa suatu pesan tertentu yang disampaikan seseorang akan menimbulkan efek tertentu pula terhadap perilaku penerima. Gambaran dari tradisi ini tampak pada kasus-kasus penipuan atau terror lewat SMS. Banyaknya korban penipuan lewat SMS menunjukkan bahwa mereka terpengaruh dengan iming-iming hadiah besar. Dari kacamata tradisi ini tidaklah mengherankan bila terjadi kepanikan massal di sebuah <em>mall</em> akibat sebuah SMS yang mengatakan ada bom di <em>mall</em> tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Tradisi Sosiokultural</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Klaim penting dari tradisi ini, bahwa praktek komunikasi merupakan praktek kebahasaan sebagai bagian dari struktur, masyarakat, ritual, aturan dan kebudayaan (Littlejohn, 2001:14). Dikatakan pula bahwa komunikasi merupakan perekat masyarakat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf, ahli linguistik Uniersitas Chicago menyatakan hipotesisnya bahwa struktur dan kultur bahasa membentuk apa yang manusia pikirkan dan lakukan (Griffin, 2003:30). Sehingga bisa dikatakan bahwa apa, melalui saluran mana, kepada siapa kita berkomunikasi merupakan bentuk praktek kebudayaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Praktek dari tradisi ini dalam komunikasi SMS terlihat dari anggapan bahwa seorang mahasiswa yang menghubungi dosen <em>via</em> SMS adalah tindakan yang tidak sopan. Bahkan beberapa dosen menganggap komunikasi <em>via</em> ponsel merupakan sesuatu yang bersifat pribadi. Nomer <em>handphone</em> hanya diberikan kepada keluarga, teman atau relasi bisnis, mahasiswa tidak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Tradisi Kritis</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tradisi yang berakar pada tradisi pemikiran <em>The Frankfurt School</em> ini menempatkan praktek komunikasi sebagai bentuk pengorganisasian dari kekuasaan dan penindasan. Penguasa menjadikan media komunikasi sebagai alat kontrol sosial. Penguasa di sini tidak hanya pemerintah tetapi juga para pemilik media sebagai ‘<em>the haves’</em>. Wacana kritis dari tradisi ini meliputi ideologi, tumbuhnya kesadaran, emansipasi, kekuasaan dan dominasi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span></span><span></span>Short Message Service yang merupakan fitur dari <em>handphone</em> tentunya tak bisa lepas dari aturan mengenai penggunaan ponsel. Keputusan Menteri Komunikasi dan Informasi mengenai registrasi pelanggan kartu seluler mengindikasikan keinginan pemerintah untuk mengontrol penggunaan ponsel khususnya terkait penggunaan ponsel dalam aksi teror bom beberapa waktu lalu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Tradisi Etik</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebenarnya tradisi ini hampir sama dengan sosiokultural. Yaitu tradisi yang berkaitan dengan nilai etika, baik dan buruk. Namun, di sini penekanannya lebih pada nilai kejujuran, tanggung jawab individu terhadap pesan yang disampaikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Implementasi dari tradisi etik ini adalah tujuan dari penggunaan SMS. Fenomena yang bisa dikaji melalui tradisi ini adalah penggunaan SMS untuk meneror lawan politik atau menyebarkan berita bohong yang tak jelas sumbernya maupun <em>black campaign.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Demikian kiranya yang bisa saya uraikan mengenai tradisi-tradisi dalam teori komunikasi. Tentunya banyak sekali kelemahan dalam menggunakan teori sebagai pisau analisa. Untuk itu sumbangan pemikiran dan saran sangat saya harapkan demi kemajuan di masa mendatang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:14pt;">Referensi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;">Griffin, Em. 2003. <em>A First Look At Communication Theory</em>. New York: McGraw-Hill.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;">Littlejohn, Stephen W. 2001. <em>Theories Of Human Communication.</em></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?feed=rss2&amp;p=101</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hakikat Teknologi Komunikasi</title>
		<link>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=141</link>
		<comments>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=141#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2008 07:29:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuliahpakjaiz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[Teknologi Komunikasi (Teknokom) adalah peralatan perangkat keras dalam sebuah struktur organisasi yang mengandung nilai-nilai sosial, yang memungkinkan setiap individu mengumpulkan, memproses dan saling tukar informasi dengan individu-individu-individu lain (Rogers, dalam Abrar. 2003).
Secara tersirat definisi di atas bahwa 
Teknokom adalah alat.
Teknokom dilahirkan oleh sebuah struktur ekonomi, sosial dan politik.
Teknokom membawa nilai-nilai yang berasal dari struktur ekonomi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;">Teknologi Komunikasi (Teknokom) adalah peralatan perangkat keras dalam sebuah struktur organisasi yang mengandung nilai-nilai sosial, yang memungkinkan setiap individu mengumpulkan, memproses dan saling tukar informasi dengan individu-individu-individu lain (</span><span style="font-size:10pt;">Rogers</span><span style="font-size:10pt;">, dalam Abrar. 2003).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;" lang="it">Secara tersirat definisi di atas bahwa </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">T<span style="font-size:10pt;" lang="sv">eknokom adalah alat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">T<span style="font-size:10pt;" lang="sv">eknokom dilahirkan oleh sebuah struktur ekonomi, sosial dan politik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">T<span style="font-size:10pt;" lang="sv">eknokom membawa nilai-nilai yang berasal dari struktur ekonomi, sosial, dan politik tertentu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">T<span style="font-size:10pt;" lang="sv">eknokom meningkatkan kemampuan indera manusia, terutama kemampuan mendengar dan melihat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="sv">Keempat aspek di atas teknologi komunikasi ini menjadi kriteria dalam menilai apakah sebuah alat (hardware) merupakan teknokom atau tidak. Jika keempat kriteria ini tidak dimiliki oleh sebuah alat (hardware), maka ia tidak bisa dikatakan sebagai sebuah teknokom.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;">Misal sebutlah telepon seluler (ponsel). </span></strong><strong><span style="font-size:10pt;" lang="sv">Bisakah ponsel disebut sebagai teknokom? Jawabannya ditentukan oleh jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">A<span style="font-size:10pt;" lang="sv">pakah ponsel sebuah alat? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">A<span style="font-size:10pt;" lang="sv">pakah ponsel dilahirkan oleh struktur ekonomi, sosial dan politik tertentu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="sv">Apakah ponsel membawa nilai-nilai yang berasal dari struktur ekonomi, sosial dan politik yan gmembuatnya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">A<span style="font-size:10pt;" lang="sv">pakah ponsel meningkatkan kemampuan indera manusia?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="sv">Jawaban untuk pertanyaan 1 sangat jelas ya. Pertanyaan 2 ia dilahirkan dari struktur ekonomi kapitalis dan sosial liberal. Pertanyaan 3 juga jelas ya, ponsel membawa nilai liberal, pemilik ponsel bisa menghubungiu dan dihubungi siapa saja. Pertanyaan 4 juga jelas ya, ponsel meningkatkan indera dengar orang yang memakainya. Akhirnya ponsel sah sebagai teknokom.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="sv">Bisa saja ponsel menegasikan nilai tradisional (misalnya sowan), menciptakan </span><span style="font-size:10pt;" lang="sv">gaya</span><span style="font-size:10pt;" lang="sv"> hidup dan tingkah laku kapitalis yang profit orinted dan mengamalkan budaya konsumtif, ponsel menjadikan penggunanya memiliki ideologi baru dalam konteks intelektualitas dan moralitas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="sv">Teknologisasi yang terjadi di dunia ketiga adalah ibarat pedang bermata dua, yakni sebagai pembawa dan penghancur nilai-nilai. Sebagai pembawa nilai-nilai yang berjuis-kapitalis Barat yang rasionalistik, individualistik, positivistik, tapi juga sekaligus sebagai penghancur budaya lokal yang religius-asketis, fatalis serta memegang teguh prinsip-prinsip collective collegia (Denis Coulet, dalam Abrar. 2003).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;" lang="sv">Beda teknologi komunikasi dan teknologi informasi:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">T<span style="font-size:10pt;" lang="sv">eknologi informasi adalah pemrosesan , pengolahan dan penyebaran data oleh kombinasi komputer dan telekomunikasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">T<span style="font-size:10pt;" lang="sv">eknologi komunikasi merupakan alat yang menambah kemampuan orang berkomunikasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="sv">Dalam International Communication Association/ICA (ikatan sarjana komunikasi internasional) bagi sarjana yang menekuni teknologi komunikasi dikelompokkan pada divisi Communication and Technology. Bagi yan gmenekuni tekonologi informasi pada divisi Sistem Informasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">T<span style="font-size:10pt;" lang="sv">eknokom berkembang cepat karena bantuan teknologi elektronika, sehingga proses komunikasi tidak lagi dibatasi ruang dan waktu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;" lang="sv">Teknologi elektronika membentuk prinsip-prinsipn teknokom:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">O<span style="font-size:10pt;" lang="sv">bjek bisa diubah menjadi gambar melalui pendekatan lensa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="sv">Gambar proyeksi bisa diubah mednjadi gelombang elektromagnetik melalui pendekatan foto sel (scanning device).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">S<span style="font-size:10pt;" lang="sv">uara bisa diubah menjadi sinyal listrik melalui pendekatan microphone.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">S<span style="font-size:10pt;" lang="sv">inyal listrik yang bermuatan gambar proyeksi dan suara dipancarkan melalui kabel, jasa satelit komunikasi, sinyal listrik bisa dikirim kemana saja di muka bumi, bahkan ke ruang angkasa sekali pun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">S<span style="font-size:10pt;" lang="sv">inyal diterima sistem antena dan masuk ke alat yang bisa mengubah sinyal menjadi gambar proyeksi kembali, gambar bisa dilihat di layar monitor, digandakan dan dicetak (Ishadi dan Wahyudi, dalam Abrar. 2003).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">T<span style="font-size:10pt;">eknokom memungkinkan manusia melihat berbagai fenomena sosial yang saling berkaitan dan mempengaruhi., terutama untuk menghadapi masyarakat terbuka (open society).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">D<span style="font-size:10pt;">i sisi khalayak (audience), teknokom digunakan untuk mencari, mengolah, membagi, meyimpan, membandingkan, memutakhirkan informasi, sehingga teknokom menjadi sentral dalam proses komunikasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;" lang="sv">Hubungan teknokom dan kebudayaan:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">T<span style="font-size:10pt;" lang="sv">eknokom sebagai faktor yang dterminan dalam masyarakat, ia bisa menciptakan perubahan sosial dan mengubah kehidupan masyarakat, misal menjadi lebih egaliter.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">T<span style="font-size:10pt;" lang="sv">eknokom sebagai industrialisasi, ia diciptakan secar amassal dalam jumlah yang banyak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">T<span style="font-size:10pt;" lang="sv">eknokom sebagai suatu alat baru, tidak semua efek negatif teknokom bisa dteratassi dengan baik (McOmber, dalam Abrar 2003).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;" lang="sv">Pesan teknokom adalah mendidik pemakainya untuk:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">M<span style="font-size:10pt;" lang="sv">elakukan demassifikasi, tidak massal, terjadi perubahan kontrol pesan ada pada khalayak, dengan memilih informasi yang sesuai dengan keinginan mereka. Sebaliknya massifikasi, kontrol pesan ada pada produser informasi, seperti suratkabar, radio, televisi, khalayak hanya pasrah pada berita yang disiarkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">M<span style="font-size:10pt;" lang="sv">enyesuaikan diri, ia harus menyesuaikan diri dengan berbagai standarisasi, mulai dari petunjuk teknis penggunaaan, teknis pengiriman pesan, dan nilai nilai kemanusiaan dan makna pesan teknokom. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">M<span style="font-size:10pt;" lang="sv">eningkatkan informasi: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="sv">(a) berhubungan dengan individu di daerah/negara lain dengan cepat, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="sv">(b) menyalurkan aspirasi dan ekspresi yang menjadikan akrab satu sama lain, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="sv">(c) mengakses hasil-hasil kebudayaan yang menucul di berbagai daerah/negara lain, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="sv">(d) mengingkatkan partisipasi merekadalam kehidupan sosial politik yang menyangkut seluruh daerah/negara lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;" lang="sv">Hubungan teknokom dan masyarakat informasi:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;">P<span style="font-size:10pt;" lang="sv">engertian masyarakat informasi: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="sv">(a) mereka yang telah terkena terpaan (exposure) media massa dan komunikasi global, masyarakat yang sadar informasi dan mendapat penerangan cukup (istilah populer),</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="sv">(b) masyarakat yang menjadikan informasi sebagai komoditas yang sangat berharga ekonomis, berhubungan dengan masyarakat lain dalam sistem komunikasi global, dan mengakses informasi superhighway (istilah komunikasi).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="sv">Sumber: Abrar, Ana Nadhya. 2003. <em>Tekonologi Komunikasi, Perspektif Ilmu Komunikasi.</em> Yogyakarta: LESFI</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?feed=rss2&amp;p=141</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Perkembangan Teknologi Komunikasi</title>
		<link>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=139</link>
		<comments>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=139#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2008 07:22:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuliahpakjaiz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pertekom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[
Pendahuluan
Kata Teknologi berasal dari asal kata latin Texere yang berarti to weave (menenun) atau to construct (membangun) (Rogers, 1986)
Kata Teknologi tidak hanya terbatas kepada pengguna mesin-mesin, meskipun dalam pengertian sempit sering digunakan keterkaitan teknologi dan mesin dalam bahasa sehari-hari.
Technology is a design for instrumental action that reduces the uncertainly in the course-effect relationships invalved in [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
Pendahuluan</p>
<p>Kata Teknologi berasal dari asal kata latin Texere yang berarti to weave (menenun) atau to construct (membangun) (Rogers, 1986)</p>
<p>Kata Teknologi tidak hanya terbatas kepada pengguna mesin-mesin, meskipun dalam pengertian sempit sering digunakan keterkaitan teknologi dan mesin dalam bahasa sehari-hari.</p>
<p>Technology is a design for instrumental action that reduces the uncertainly in the course-effect relationships invalved in achieving a desired outcome.</p>
<p>Sebuah teknologi biasanya terdiri dari aspek Hardware (perangkat keras) dan Software (Perangkat Lunak).</p>
<p>Salah satu jenis teknologi adalah Teknologi Komunikasi</p>
<p>Teknologi Komunkasi dan Bahasa<br />
Teknologi Komunikasi adalah peralatan perangkat keras; struktur-struktur organisasional dan nilai-nilai sosial yang dikoleksi, diproses dan menjadi pertukaran informasi individu-individu dengan individu-individu lainnya.</p>
<p>Teknologi Komunikasi diawali sejarah manusia seperti ditemukannya bahasa lisan dan bahasa tulisan dalam bentuk photographs yang ditulis pada dinding gua-gua ;</p>
<p>Teknologi Media (secara potensial dapat mencapai khalayak massa) berasal dari Cloy Robberts (Tulisan pada lembaran-lembaran tanah liat) dalam peradaban awal seperti bangsa Sumeria di daerah Sungai Eirpat dan Sungai Tigris serta Bangsa Mesir.</p>
<p>Kompetensi<br />
Kompetensi insan komunikasi dalam Teknologi Komunikasi :<br />
1. Users (Pengguna) teknologi komunikasi<br />
2. Content of Technology pada teknologi komunikasi<br />
3. Riset dampak sosial teknologi komunikasi</p>
<p>Sebagai users, maka insan komunikasi sebagai ilmuwan sosial harus berbasis teknologu komunikasi.</p>
<p>Content of Technology, misalnya teknologi komunikasi berbentuk televisi atau media online, maka yang mengisinya adalah orang komunikasi, seperti program berita pada televisi atau cyber communication pada media online (internet).</p>
<p>Kemampuan meneliti dampak sosial teknologi komunikasi harus dimiliki oleh orang komunikasi seperti meneliti dampak sosial pengguna play station terhadap perilaku belajar anak sekolah dasar.<br />
Menurut Alvin Toffler, tiga gelombang peradaban manusia terdiri dari era pertanian, industri dan era informasi / komunikasi (lihat Rogers 1986 ; Alisyahbana dalam Yulian, dkk (2001) :<br />
1. Gelombang pertama (800 SM-1500 M) adalah gelombang pembaruan dimana manusia menemukan dan menerapkan teknologi pertanian yaitu manusia berubah dari kebiasaan berpindah-pindah yang menetap disatu tempat. Ciri masa ini adalah penggunaan “baterai alamiah” yang dapat menyimpan energi yang dapat diperbaharui dalam otot-otot binatang, hutan, air terjun, angin atau langsung dan matahari, banyak sekali menggunakan kincir air dan kincir angin.<br />
Gelombang Peradaban Manusia<br />
2. Gelombang kedua (1500 M-1970 M) adalah masyarakat industri, sebagai “manusia ekonomis” yang rakus yang baru lahir dari Renaissance (pencerahan di Eropa). Adam Smith dengan bukunya The Wealth of Nations dari Charles Darwin dengan bukunya The Origin of Species mewarnai budaya renaissance.<br />
Imperialisme dan kolonialisme di gelombang kedua ini merupakan interpretasi yang salah dari Teori Darwin, terutama ideologi Social Darwinism dan Herbert Species ; The Mights is always Rights.<br />
Gelombang kedua ini berbudaya produk massa, pendidikan massa, komunikasi massa dan media massa.<br />
Budaya Iptek tumbuh dengan pesat<br />
Terjadi urbanisasi dan pembangunan kota besar, penggunaan energi yang tidak dapat diperbaharui dan polusi yang menyebabkan kerusakan lingkungan hidup.</p>
<p>3. Gelombang ketiga (1970-2000 M) adalah masyarakat informasi dengan ciri-ciri :<br />
Kelangkaan bahan bakar fosil ; kembali ke energi yang dapat diperbaharui<br />
Proses produksi yang cenderung menjadi produksi massa yang terkonsentrasi<br />
Terjadinya deurbanisasi dan globalisasi karena kemajuan teknologi komunikasi dan informasi.<br />
Peradaban gelombang ketiga merupakan Sintesa dari gelombang pertama (tesa) dan gelombang kedua (antitesa).<br />
Dalam gelombang ketiga ini kadang disebut sebagai Knowledge Age, dengan digunakannya satelit telekomunikasi, kabel optik dalam jaringan internet, masyarakat mampu berkomunikasi online<br />
Era Komunikasi dan Informasi<br />
Masa Puncaknya era komunikasi dan informasi akan segera tercapai 10-20 tahun kedepan.<br />
Open Society (Struktur Masyarakat Terbuka/ umumnya para anggota masyarakat berusaha dan bekerja keras untuk menaikkan statusnya didalam masyarakat. Mereka bersaing dan bekerjasama untuk dapat naik ke lapisan atas berikutnya sesuai dengan sistem kompetisi dan korporasi yang sudah dapat diterima oleh seluruh masyarakat.<br />
Lima Gelombang peradaban baru akan bergantian atau pun kadang-kadang bersamaan mendominasi budaya masyarakat dunia selanjutnya :<br />
Era Industri Rekreasi (Hospitality, Recreation, Entertainment) yang akan mendominasi budaya pada tahun 2015 M.<br />
Era Bioteknologi (Bioteknologi, genetics, Cloning) yang akan mendominasi budaya dunia pada kira-kira tahun 2001 M.<br />
Era mega material (Quantum Physics, Nanotechnology high pressure physics) yang akan mendominasi dunia kira-kira tahun 2200 M dan 2300 M.<br />
Era Atom Baru (fusion, lossers,hydrogen and helium isopes) yang akan mendominasi budidaya duinia kira-kira pada 2100 – 2500 M.<br />
Era Angkasa luar baru (Specsaft, Exploration, Travel, Resource Gathering, Astrophysics) yang akan mendominasi sebelum tahun 3000 M (Alisyahbana, 2001).</p>
<p>referensi : Elvinaro Ardianto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?feed=rss2&amp;p=139</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>