Short Message Service (SMS)
Thursday March 05th 2009, 11:02
Filed under:
Pertekom
Dewasa ini handphone (HP) menjadi alat komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. HP memungkinkan tiap individu untuk berkomunikasi kapanpun dan di manapun. HP bukan lagi menjadi barang mewah. Hampir seluruh lapisan masyarakat menggunakan HP sebagai penunjang aktivitas mereka sehari-hari. Perlahan, masuknya teknologi ini ternyata membawa perubahan dalam pola-pola hubungan dalam masyarakat.
Beragam fasilitas disediakan untuk memudahkan komunikasi antarmanusia. Mulai dari fasilitas bicara, Short Message Service atau lebih dikenal dengan SMS, permainan, kamera, radio sampai koneksi internet dan transaksi perbankan. Semua fitur yang ditawarkan seolah memanjakan para pengguna handphone. Dengan handphone, dunia layaknya dalam genggaman.
Tulisan ini mencoba mengelaborasi penggunaan fasilitas SMS proseskomunikasi dalam delapan tradisi bidang kajian ilmu komunikasi sebagaimana dijelaskan dalam buku Theories of Human Communicationnya Littlejohn (2001: 12-14).
Sebelum memulai peneropongan melalui delapan tradisi ilmu komunikasi, perlu kiranya untuk mendeskripsikan SMS sebagai fenomena komunikasi. Short Message Service merupakan fitur HP berupa pesan pendek yang ditulis kurang lebih 160 karakter. Fitur ini banyak diminati oleh pengguna telepon seluler. Selain biayanya murah (Rp 99 hingga Rp 350 per SMS), juga bisa memuat karakter atau gambar.
Berdasarkan pengamatan terhadap beberapa pengguna ponsel, mereka menggunakan fitur SMS untuk berbagai tujuan. Mulai dari sekedar bertukar informasi biasa, iseng-iseng mencari kenalan baru, melakukan pendekatan kepada orang yang disukai sampai yang SMS untuk meneror musuh.
Tradisi Retorika
Dalam tradisi ini, komunikasi dilihat sebagai aktivitas seni. Komunikasi sebagai suatu tindakan strategis, artinya tindakan yang memerlukan perencanaan yang melibatkan logika dan emosi. Ciri lain dari tradisi ini ialah setiap kata (word) memiliki kekuatan yang bisa menimbulkan pengaruh tertentu bila digunakan.
Kaitannya dengan SMS sebagai aktivitas komunikasi, bahwa sebelum seseorang mengirimkan SMS, ia akan melakukan perencanaan tentang apa yang ia tulis. Bagaimana SMS itu ditulis secara singkat, padat dan jelas mengingat jumlah karakter yang terbatas.
Sebagai praktek seni yang menekankan pada keindahan tampak dalam penggunaan SMS sebagai media pendekatan terhadap seseorang. Untuk tujuan tersebut, pengirim SMS berusaha menyusun kata demi kata untuk memikat sang pujaan hati. Sederet puisi, kalimat indah atau sekedar basa-basi untuk menunjukkan perhatian menjadi pesan dari sebuah komunikasi.
Tradisi Semiotik
Short Message Service bisa dimasukkan dalam tradisi semiotik. Yaitu tradisi yang memfokuskan diri pada tanda, simbol serta proses pemaknaan. Terbukti, seringkali kita jumpai bentuk SMS yang menggunakan karakter-karakter tertentu untuk menggambarkan sesuatu semisal
J,
,^_^
atau karena terbatasnya jumlah karakter, seringkali kata tidak ditulis sebagaimana mestinya, dengan menghilangkan huruf vokal misalnya.
Ketika seseorang membaca SMS yang berisi karakter tulisan tersebut, terjadilah apa yang dalam tradisi semiotik dikenaldengan meaning atau pemaknaan. Sejalan dengan semiotika, dalam proses ini pembacalah yang berperan sebagai pemberi makna.
Tradisi Fenomenologis
Komunikasi merupakan sebuah bentuk pertukaran pengalaman individu melalui proses dialog. Demikianlah tradisi ini memandang aktivitas komunikasi. Ahli psikologi, Carl Rogers mengajukan tiga faktor yang dianggap sangat berpengaruh terhadap keberhasilan komunikasi dalam frame fenomenologis yaitu, kongruensi, kesetaraan penghargaan dan empati (Griffin, 2003: 32).
Layaknya komunikasi tatap muka, dalam SMSpun terjadi proses komunikasi dialogis. Di mana pengalaman tiap individu memegang peranan dalam memahami pesan. Penghargaan terhadap kesetaraan dan empati tersirat dan tersurat dari kalimat yang digunakan dalam SMS.
Tradisi Sibernetik
Dari teknis pengiriman SMS, tanpa penjelasan rincipun kita bisa memahami SMS dari sudut pandang sibernetik. Kata-kata kunci seperti sender-receiver, feedback dan system dalam tradisi sibernetik juga sama dalam proses pengiriman SMS.
SMS yang telah ditulis akan dikirimkan ke pusat layanan pesan melalui gelombang pemancar yang kemudian diteruskan ke nomer tujuan, juga melalui pemancar. Masalah yang dihadapi dalam sistem ini juga seputar kelebihan kapasitas (overloaded), gangguan sinyal (noise).
Tradisi Sosiopsikologis
Poin penting dari tradisi ini antara lain adanya pengaruh pesan terhadap perilaku manusia. Bahwa sejauhmana komunikasi akan berhasil bisa diprediksi melalui hubungan sebab dan efek (cause and effect relationship).
The Yale Attitude Studies (Griffin, 2003:22) menyebutkan ada 3 penyebab terpisah dari variasi persuasi :
1.Who, sumber pesan (menyangkut keahlian dan kredibilitas).
2.What, isi pesan (topik dan argumen).
3.Whom, karakter penerima pesan (kepribadian, kognisi)
Secara sederhana, tradisi ini memandang bahwa suatu pesan tertentu yang disampaikan seseorang akan menimbulkan efek tertentu pula terhadap perilaku penerima. Gambaran dari tradisi ini tampak pada kasus-kasus penipuan atau terror lewat SMS. Banyaknya korban penipuan lewat SMS menunjukkan bahwa mereka terpengaruh dengan iming-iming hadiah besar. Dari kacamata tradisi ini tidaklah mengherankan bila terjadi kepanikan massal di sebuah mall akibat sebuah SMS yang mengatakan ada bom di mall tersebut.
Tradisi Sosiokultural
Klaim penting dari tradisi ini, bahwa praktek komunikasi merupakan praktek kebahasaan sebagai bagian dari struktur, masyarakat, ritual, aturan dan kebudayaan (Littlejohn, 2001:14). Dikatakan pula bahwa komunikasi merupakan perekat masyarakat.
Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf, ahli linguistik Uniersitas Chicago menyatakan hipotesisnya bahwa struktur dan kultur bahasa membentuk apa yang manusia pikirkan dan lakukan (Griffin, 2003:30). Sehingga bisa dikatakan bahwa apa, melalui saluran mana, kepada siapa kita berkomunikasi merupakan bentuk praktek kebudayaan.
Praktek dari tradisi ini dalam komunikasi SMS terlihat dari anggapan bahwa seorang mahasiswa yang menghubungi dosen via SMS adalah tindakan yang tidak sopan. Bahkan beberapa dosen menganggap komunikasi via ponsel merupakan sesuatu yang bersifat pribadi. Nomer handphone hanya diberikan kepada keluarga, teman atau relasi bisnis, mahasiswa tidak.
Tradisi Kritis
Tradisi yang berakar pada tradisi pemikiran The Frankfurt School ini menempatkan praktek komunikasi sebagai bentuk pengorganisasian dari kekuasaan dan penindasan. Penguasa menjadikan media komunikasi sebagai alat kontrol sosial. Penguasa di sini tidak hanya pemerintah tetapi juga para pemilik media sebagai ‘the haves’. Wacana kritis dari tradisi ini meliputi ideologi, tumbuhnya kesadaran, emansipasi, kekuasaan dan dominasi.
Short Message Service yang merupakan fitur dari handphone tentunya tak bisa lepas dari aturan mengenai penggunaan ponsel. Keputusan Menteri Komunikasi dan Informasi mengenai registrasi pelanggan kartu seluler mengindikasikan keinginan pemerintah untuk mengontrol penggunaan ponsel khususnya terkait penggunaan ponsel dalam aksi teror bom beberapa waktu lalu.
Tradisi Etik
Sebenarnya tradisi ini hampir sama dengan sosiokultural. Yaitu tradisi yang berkaitan dengan nilai etika, baik dan buruk. Namun, di sini penekanannya lebih pada nilai kejujuran, tanggung jawab individu terhadap pesan yang disampaikan.
Implementasi dari tradisi etik ini adalah tujuan dari penggunaan SMS. Fenomena yang bisa dikaji melalui tradisi ini adalah penggunaan SMS untuk meneror lawan politik atau menyebarkan berita bohong yang tak jelas sumbernya maupun black campaign.
Demikian kiranya yang bisa saya uraikan mengenai tradisi-tradisi dalam teori komunikasi. Tentunya banyak sekali kelemahan dalam menggunakan teori sebagai pisau analisa. Untuk itu sumbangan pemikiran dan saran sangat saya harapkan demi kemajuan di masa mendatang.
Referensi
Griffin, Em. 2003. A First Look At Communication Theory. New York: McGraw-Hill.
Littlejohn, Stephen W. 2001. Theories Of Human Communication.
Sejarah Perkembangan Teknologi Komunikasi
Wednesday December 03rd 2008, 11:02
Filed under:
Pertekom
Pendahuluan
Kata Teknologi berasal dari asal kata latin Texere yang berarti to weave (menenun) atau to construct (membangun) (Rogers, 1986)
Kata Teknologi tidak hanya terbatas kepada pengguna mesin-mesin, meskipun dalam pengertian sempit sering digunakan keterkaitan teknologi dan mesin dalam bahasa sehari-hari.
Technology is a design for instrumental action that reduces the uncertainly in the course-effect relationships invalved in achieving a desired outcome.
Sebuah teknologi biasanya terdiri dari aspek Hardware (perangkat keras) dan Software (Perangkat Lunak).
Salah satu jenis teknologi adalah Teknologi Komunikasi
Teknologi Komunkasi dan Bahasa
Teknologi Komunikasi adalah peralatan perangkat keras; struktur-struktur organisasional dan nilai-nilai sosial yang dikoleksi, diproses dan menjadi pertukaran informasi individu-individu dengan individu-individu lainnya.
Teknologi Komunikasi diawali sejarah manusia seperti ditemukannya bahasa lisan dan bahasa tulisan dalam bentuk photographs yang ditulis pada dinding gua-gua ;
Teknologi Media (secara potensial dapat mencapai khalayak massa) berasal dari Cloy Robberts (Tulisan pada lembaran-lembaran tanah liat) dalam peradaban awal seperti bangsa Sumeria di daerah Sungai Eirpat dan Sungai Tigris serta Bangsa Mesir.
Kompetensi
Kompetensi insan komunikasi dalam Teknologi Komunikasi :
1. Users (Pengguna) teknologi komunikasi
2. Content of Technology pada teknologi komunikasi
3. Riset dampak sosial teknologi komunikasi
Sebagai users, maka insan komunikasi sebagai ilmuwan sosial harus berbasis teknologu komunikasi.
Content of Technology, misalnya teknologi komunikasi berbentuk televisi atau media online, maka yang mengisinya adalah orang komunikasi, seperti program berita pada televisi atau cyber communication pada media online (internet).
Kemampuan meneliti dampak sosial teknologi komunikasi harus dimiliki oleh orang komunikasi seperti meneliti dampak sosial pengguna play station terhadap perilaku belajar anak sekolah dasar.
Menurut Alvin Toffler, tiga gelombang peradaban manusia terdiri dari era pertanian, industri dan era informasi / komunikasi (lihat Rogers 1986 ; Alisyahbana dalam Yulian, dkk (2001) :
1. Gelombang pertama (800 SM-1500 M) adalah gelombang pembaruan dimana manusia menemukan dan menerapkan teknologi pertanian yaitu manusia berubah dari kebiasaan berpindah-pindah yang menetap disatu tempat. Ciri masa ini adalah penggunaan “baterai alamiah” yang dapat menyimpan energi yang dapat diperbaharui dalam otot-otot binatang, hutan, air terjun, angin atau langsung dan matahari, banyak sekali menggunakan kincir air dan kincir angin.
Gelombang Peradaban Manusia
2. Gelombang kedua (1500 M-1970 M) adalah masyarakat industri, sebagai “manusia ekonomis” yang rakus yang baru lahir dari Renaissance (pencerahan di Eropa). Adam Smith dengan bukunya The Wealth of Nations dari Charles Darwin dengan bukunya The Origin of Species mewarnai budaya renaissance.
Imperialisme dan kolonialisme di gelombang kedua ini merupakan interpretasi yang salah dari Teori Darwin, terutama ideologi Social Darwinism dan Herbert Species ; The Mights is always Rights.
Gelombang kedua ini berbudaya produk massa, pendidikan massa, komunikasi massa dan media massa.
Budaya Iptek tumbuh dengan pesat
Terjadi urbanisasi dan pembangunan kota besar, penggunaan energi yang tidak dapat diperbaharui dan polusi yang menyebabkan kerusakan lingkungan hidup.
3. Gelombang ketiga (1970-2000 M) adalah masyarakat informasi dengan ciri-ciri :
Kelangkaan bahan bakar fosil ; kembali ke energi yang dapat diperbaharui
Proses produksi yang cenderung menjadi produksi massa yang terkonsentrasi
Terjadinya deurbanisasi dan globalisasi karena kemajuan teknologi komunikasi dan informasi.
Peradaban gelombang ketiga merupakan Sintesa dari gelombang pertama (tesa) dan gelombang kedua (antitesa).
Dalam gelombang ketiga ini kadang disebut sebagai Knowledge Age, dengan digunakannya satelit telekomunikasi, kabel optik dalam jaringan internet, masyarakat mampu berkomunikasi online
Era Komunikasi dan Informasi
Masa Puncaknya era komunikasi dan informasi akan segera tercapai 10-20 tahun kedepan.
Open Society (Struktur Masyarakat Terbuka/ umumnya para anggota masyarakat berusaha dan bekerja keras untuk menaikkan statusnya didalam masyarakat. Mereka bersaing dan bekerjasama untuk dapat naik ke lapisan atas berikutnya sesuai dengan sistem kompetisi dan korporasi yang sudah dapat diterima oleh seluruh masyarakat.
Lima Gelombang peradaban baru akan bergantian atau pun kadang-kadang bersamaan mendominasi budaya masyarakat dunia selanjutnya :
Era Industri Rekreasi (Hospitality, Recreation, Entertainment) yang akan mendominasi budaya pada tahun 2015 M.
Era Bioteknologi (Bioteknologi, genetics, Cloning) yang akan mendominasi budaya dunia pada kira-kira tahun 2001 M.
Era mega material (Quantum Physics, Nanotechnology high pressure physics) yang akan mendominasi dunia kira-kira tahun 2200 M dan 2300 M.
Era Atom Baru (fusion, lossers,hydrogen and helium isopes) yang akan mendominasi budidaya duinia kira-kira pada 2100 – 2500 M.
Era Angkasa luar baru (Specsaft, Exploration, Travel, Resource Gathering, Astrophysics) yang akan mendominasi sebelum tahun 3000 M (Alisyahbana, 2001).
referensi : Elvinaro Ardianto
Satellite
Sunday October 26th 2008, 11:02
Filed under:
Pertekom
History
Early conceptions
The first fictional depiction of a satellite being launched into orbit is a short story by Edward Everett Hale, The Brick Moon. The story was serialized in The Atlantic Monthly, starting in 1869.[1][2] The idea surfaces again in Jules Verne’s The Begum’s Millions (1879).
In 1903 Konstantin Tsiolkovsky (1857–1935) published The Exploration of Cosmic Space by Means of Reaction Devices, which is the first academic treatise on the use of rocketry to launch spacecraft. He calculated the orbital speed required for a minimal orbit around the Earth at 8 km/s, and that a multi-stage rocket fueled by liquid propellants could be used to achieve this. He proposed the use of liquid hydrogen and liquid oxygen, though other combinations can be used.
In 1928 Herman Potočnik (1892–1929) published his sole book, Das Problem der Befahrung des Weltraums - der Raketen-Motor (The Problem of Space Travel — The Rocket Motor), a plan for a breakthrough into space and a permanent human presence there. He conceived of a space station in detail and calculated its geostationary orbit. He described the use of orbiting spacecraft for detailed peaceful and military observation of the ground and described how the special conditions of space could be useful for scientific experiments. The book described geostationary satellites (first put forward by Tsiolkovsky) and discussed communication between them and the ground using radio, but fell short of the idea of using satellites for mass broadcasting and as telecommunications relays.
In a 1945 Wireless World article the English science fiction writer Arthur C. Clarke (1917-2008) described in detail the possible use of communications satellites for mass communications.[3] Clarke examined the logistics of satellite launch, possible orbits and other aspects of the creation of a network of world-circling satellites, pointing to the benefits of high-speed global communications. He also suggested that three geostationary satellites would provide coverage over the entire planet.
History of artificial satellites
The first artificial satellite was Sputnik 1, launched by the Soviet Union on 4 October 1957, and that started the whole Soviet Sputnik program, with Sergei Korolev as chief designer. This triggered the Space Race between the Soviet Union and the United States.
Sputnik 1 helped to identify the density of high atmospheric layers through measurement of its orbital change and provided data on radio-signal distribution in the ionosphere. Because the satellite’s body was filled with pressurized nitrogen, Sputnik 1 also provided the first opportunity for meteoroid detection, as a loss of internal pressure due to meteoroid penetration of the outer surface would have been evident in the temperature data sent back to Earth. The unanticipated announcement of Sputnik 1′s success precipitated the Sputnik crisis in the United States and ignited the so-called Space Race within the Cold War.
Sputnik 2 was launched on November 3, 1957 and carried the first living passenger into orbit, a dog named Laika.[4]
In May, 1946, Project RAND had released the Preliminary Design of an Experimental World-Circling Spaceship, which stated, “A satellite vehicle with appropriate instrumentation can be expected to be one of the most potent scientific tools of the Twentieth Century.[5] The United States had been considering launching orbital satellites since 1945 under the Bureau of Aeronautics of the United States Navy. The United States Air Force’s Project RAND eventually released the above report, but did not believe that the satellite was a potential military weapon; rather, they considered it to be a tool for science, politics, and propaganda. In 1954, the Secretary of Defense stated, “I know of no American satellite program.”[citation needed]
On July 29, 1955, the White House announced that the U.S. intended to launch satellites by the spring of 1958. This became known as Project Vanguard. On July 31, the Soviets announced that they intended to launch a satellite by the fall of 1957.
Following pressure by the American Rocket Society, the National Science Foundation, and the International Geophysical Year, military interest picked up and in early 1955 the Air Force and Navy were working on Project Orbiter, which involved using a Jupiter C rocket to launch a satellite. The project succeeded, and Explorer 1 became the United States’ first satellite on January 31, 1958.[6]
In June 1961, three-and-a-half years after the launch of Sputnik 1, the Air Force used resources of the United States Space Surveillance Network to catalog 115 Earth-orbiting satellites.[7]
The largest artificial satellite currently orbiting the Earth is the International Space Station.
Space Surveillance Network
The United States Space Surveillance Network (SSN) has been tracking space objects since 1957 when the Soviets opened the space age with the launch of Sputnik I. Since then, the SSN has tracked more than 26,000 space objects orbiting Earth. The SSN currently tracks more than 8,000 man-made orbiting objects. The rest have re-entered Earth’s turbulent atmosphere and disintegrated, or survived re-entry and impacted the Earth. The space objects now orbiting Earth range from satellites weighing several tons to pieces of spent rocket bodies weighing only 10 pounds. About seven percent of the space objects are operational satellites (i.e. ~560 satellites), the rest are space debris.[8]USSTRATCOM is primarily interested in the active satellites, but also tracks space debris which upon reentry might otherwise be mistaken for incoming missiles. The SSN tracks space objects that are 10 centimeters in diameter (baseball size) or larger.
Non-Military Satellite Services
There are three basic categories of non-military satellite services:[9]
a. Fixed Satellite Service
Fixed satellite services handle hundreds of billions of voice, data, and video transmission tasks across all countries and continents between certain points on the earth’s surface.
b. Mobile Satellite Systems
Mobile satellite systems help connect remote regions, vehicles, ships and aircraft to other parts of the world and/or other mobile or stationary communications units, in addition to serving as navigation systems.
c. Scientific Research Satellite (commercial and noncommercial)
Scientific research satellites provide us with meteorological information, land survey data (e.g., remote sensing), and other different scientific research applications such as earth science, marine science, and atmospheric research.
Types
MILSTAR: A communication satellite
- Anti-Satellite weapons/”Killer Satellites” are satellites that are armed, designed to take out enemy warheads, satellites, other space assets. They may have particle weapons, energy weapons, kinetic weapons, nuclear and/or conventional missiles and/or a combination of these weapons.
- Astronomical satellites are satellites used for observation of distant planets, galaxies, and other outer space objects.
- Biosatellites are satellites designed to carry living organisms, generally for scientific experimentation.
- Communications satellites are satellites stationed in space for the purpose of telecommunications. Modern communications satellites typically use geosynchronous orbits, Molniya orbits or Low Earth orbits.
- Miniaturized satellites are satellites of unusually low weights and small sizes.[10] New classifications are used to categorize these satellites: minisatellite (500–200 kg), microsatellite (below 200 kg), nanosatellite (below 10 kg).
- Navigational satellites are satellites which use radio time signals transmitted to enable mobile receivers on the ground to determine their exact location. The relatively clear line of sight between the satellites and receivers on the ground, combined with ever-improving electronics, allows satellite navigation systems to measure location to accuracies on the order of a few meters in real time.
- Reconnaissance satellites are Earth observation satellite or communications satellite deployed for military or intelligence applications. Little is known about the full power of these satellites, as governments who operate them usually keep information pertaining to their reconnaissance satellites classified.
- Earth observation satellites are satellites intended for non-military uses such as environmental monitoring, meteorology, map making etc. (See especially Earth Observing System.)
- Space stations are man-made structures that are designed for human beings to live on in outer space. A space station is distinguished from other manned spacecraft by its lack of major propulsion or landing facilities — instead, other vehicles are used as transport to and from the station. Space stations are designed for medium-term living in orbit, for periods of weeks, months, or even years.
- Tether satellites are satellites which are connected to another satellite by a thin cable called a tether.
- Weather satellites are primarily used to monitor Earth’s weather and climate.[11]
Orbit types
Various earth orbits to scale; cyan represents low earth orbit, yellow represents medium earth orbit, the black dashed line represents geosynchronous orbit, the green dash-dot line the orbit of Global Positioning System (GPS) satellites, and the red dotted line the orbit of the International Space Station (ISS).
The first satellite, Sputnik 1, was put into orbit around Earth and was therefore in geocentric orbit. By far this is the most common type of orbit with approximately 2456 artificial satellites orbiting the Earth. Geocentric orbits may be further classified by their altitude, inclination and eccentricity.
The commonly used altitude classifications are Low Earth Orbit (LEO), Medium Earth Orbit (MEO) and High Earth Orbit (HEO). Low Earth orbit is any orbit below 2000 km, and Medium Earth Orbit is any orbit higher than that but still below the altitude for geosynchronous orbit at 35786 km. High Earth Orbit is any orbit higher than the altitude for geosynchronous orbit.
Centric classifications
Altitude classifications
Orbital Altitudes of several significant satellites of earth.
Inclination classifications
Eccentricity classifications
Synchronous classifications
Special classifications
Pseudo-orbit classifications
Satellite Modules
The satellite’s functional versatility is imbedded within its technical components and its operations characteristics. Looking at the “anatomy” of a typical satellite, one discovers two modules.[9] Note that some novel architectural concepts such as Fractionated Spacecraft somewhat upset this taxonomy.
Spacecraft bus or service module
This first module consist of five subsystems:
- The Structural Subsystems
The structural subsystem provides the mechanical base structure, shields the satellite from extreme temperature changes and micro-meteorite damage, and controls the satellite’s spin functions.
The telemetry subsystem monitors the on-board equipment operations, transmits equipment operation data to the earth control station, and receives the earth control station’s commands to perform equipment operation adjustments.
The power subsystem consists of solar panels and backup batteries that generate power when the satellite passes into the earth’s shadow.
- The Thermal Control Subsystems
The thermal control subsystem helps protect electronic equipment from extreme temperatures due to intense sunlight or the lack of sun exposure on different sides of the satellite’s body
- The Attitude and Orbit Controlled Control Subsystems
Main article: Attitude control
The attitude and orbit controlled subsystem consists of small rocket thrusters that keep the satellite in the correct orbital position and keep antennas positioning in the right directions.
Communication Payload
The second major module is the communication payload, which is made up of transponders. A transponders is capable of :
- Receiving uplinked radio signals from earth satellite transmission stations (antennas).
- Amplifying received radio signals
- Sorting the input signals and directing the output signals through input/output signal multiplexers to the proper downlink antennas for retransmission to earth satellite receiving stations (antennas).
Launch-capable countries
Launch of the first British Skynet military satellite.
This list includes countries with an independent capability to place satellites in orbit, including production of the necessary launch vehicle. Note: many more countries have the capability to design and build satellites — which relatively speaking, does not require much economic, scientific and industrial capacity — but are unable to launch them, instead relying on foreign launch services. This list does not consider those numerous countries, but only lists those capable of launching satellites indigenously, and the date this capability was first demonstrated. Does not include consortium satellites or multi-national satellites.
Both North Korea (1998) and Iraq (1989) have claimed orbital launches (satellite and warhead accordingly), but these claims are unconfirmed.
In addition to the above, countries such as South Africa, Spain, Italy, Germany, Canada, Australia, Argentina, Egypt and private companies such as OTRAG, have developed their own launchers, but have not had a successful launch.
As of 2008, only seven countries from list above ( Russia and Ukraine instead of USSR, also USA, Japan, China, India, and Israel) and one regional organization (the European Space Agency, ESA) have independently launched satellites on their own indigenously developed launch vehicles. (The launch capabilities of the United Kingdom and France now fall under the ESA.)
Several other countries, including South Korea, Iran, Brazil, Pakistan, Romania, Kazakhstan, Australia, Malaysia[citation needed] and Turkey, are at various stages of development of their own small-scale launcher capabilities, and seek membership in the club of space powers.
It is scheduled that in early 2008 South Korea will launch a KSLV rocket (created with assistance of Russia) and become the next space power. Iran already has successfully tested its own space launch vehicle (Kavoshgar 1) and is scheduled to put its first domestic satellite (Omid 1) into orbit within a year from February 4, 2008. It is expected that Brazil and Pakistan will follow in the near future..[citation needed]
While Canada was the third country to build a satellite which was launched into space,[15] it was launched aboard a U.S. rocket from a U.S. spaceport. The same goes for Australia, who launched on-board a donated Redstone rocket. The first Italian-launched was San Marco 1, launched on 15 December 1964 on a U.S. Scout rocket from Wallops Island (VA,USA) with an Italian Launch Team trained by NASA.[16]Australia’s launch project, in November 1967, involved a donated U.S. missile and U. S. support staff as well as a joint launch facility with the United Kingdom.[17]Kazakhstan claimed to have made their satellite independently[citation needed], but the satellite was built with Russian help, like Polish and Bulgarian ones earlier.
Attacks on satellites
For more details on this topic, see Anti-satellite weapon .
In recent times satellites have been hacked by militant organisations to broadcast propaganda and to pilfer classified information from military communication networks.[18][19]
Satellites in low earth orbit have been destroyed by ballistic missiles launched from earth. Both Russia and the United States have demonstrated ability to eliminate satellites.[20] In 2007 the Chinese military shot down an aging weather satellite,[20] followed by the US Navy shooting down a defunct spy satellite in February 2008.[21]Russia and the United States have also shot down satellites during the Cold war.
Jamming
Due to the low received signal strength of satellite transmissions they are prone to Radio jamming by land-based transmitters. Such jamming is limited to the geographical area within the transmitter’s range. GPS satellites are potential targets for jamming,[22][23] but satellite phone and television signals have also been subjected to jamming.[24][25]
Satellite Services
ICT vs Printing
Sunday October 26th 2008, 11:02
Filed under:
Pertekom
Menurut kelompok kami print media akan tergantikan dgn ict tetapi dalam jangka waktu yang sangat lama. mungkin suatu saat nanti dunia akan seluruhnya menggunakan teknologi komputer. tetapi untuk saat ini mustahil teknologi akan menggantikan print media sepunuhnya, karena berdasarkan riset jumlah penggunjung perpustakaan naik 25 % dari tahun 1990 sampai dengan 2003 manusia belum siap sepenuhnya dengan perkembangan teknologi yang ada sekarang mereka masih terbiasa dengan teknologi yang lama. ICT saat ini hanya dikenal atau digunakan oleh kalangan tertentu saja. tidak semua masyarakat mampu mempunyai barang barang hi-tech.
Bagaimana pun kegunaan dari ict berbeda dengan media tradisional begitupula dengan keperluaan dari masing-masing individual.
mungkin di saat global warning sudah mencapai puncaknya dan kemampuan manusia untuk mengembangkan teknologi sudah sangat canggih, di saat itulah media print akan tergantikan oleh ict sepenuhnya.
http://209.85.175.104/search?q=cache:iCyVkEXAS-sJ:www.pewinternet.org/ppt/Remarks.PRIMIR.Horrigan.pdf+ict+vs+print+media&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id
Interactive TV dan IPTV
Sunday October 26th 2008, 11:02
Filed under:
Pertekom
1. Interactive tv: biasa dikenal dengan nama ITV. interactive tv adalah suatu program yang ditawarkan oleh stasiun tv agar para pemirsanya dapat ikut mengambil peran dalam suatu acara tv. agar mereka bisa berinteraksi (memberikan Feedback) dengan stasiun tv tersebut.
cara-cara berinteraksi tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, dengan telephone ataupun sekarang melalui SMS atau internet.
Contoh interaksi TV adalah: Indonesian Idol, Suara anda di metro TV Ataupun MAMAMIA. Mereka mengundang para pemirsanya untuk melakukan interaksi untuk berpartisipasi dengan melakukan telephone atau sms untuk menentukan siapa atau berita apa yang mereka pilih.
Manfaatnya: bagi stasiun tv: mereka dapat mengetahui secara langsung apakah acara yang mereka tayangkan disukai masyarakat atau tidak. semua itu dapat dilihat dari makin banyak masyarakat yang mengambil peran dalam acara tersebut, maka semakin tinggi pula rating acara tersebut.
dari sisi penonton, manfaatnya mereka dapat menentukan acara apa yang mereka sukai
2.Internet-Protocol Television (IPTV) adalah penyediaan layanan streaming tv secara langsung via jaringan IP berbandwitdh lebar. Layanan ini bersifat multicast, dari satu sumber untuk banyak pengakses secara bersamaan. Video on Demand (VoD) adalah penyediaan layanan video yang diminta secara khusus oleh pengakses. Secara umum ini adalah layanan video streaming unicast, yang dideliver ke satu pelanggan.
IPTV masuk kategori layanan berkualitas siaran TV. Artinya pelanggan akan menikmati layanan sekualitas TV satelit dan kabel yang sekarang umum kita nikmati. Standar siaran TV ini saat ini hanya bisa dilayani oleh provider berbasis satelit dan kabel dalam group tertutup. Internet IPTV yang merupakan implementasi awal dari kedua layanan diatas, kualitasnya belum layak disandingkan dengan kualitas siaran TV. contoh dari IPTV adalah FIRSTmedia yang sekarang ini sgt populer di Indonesia.
http://en.wikipedia.org/wiki/IPTV
http://en.wikipedia.org/wiki/Interactive_tv
PERKEMBANGAN TEKNOLOGI TELEPON SELULER (handphone)
Sunday October 26th 2008, 11:02
Filed under:
Pertekom

Handphone merupakan salah satu dari perkembangan teknologi. Dengan kecanggihan teknologi saat ini, fungsi handphone tidak hanya sebagai alat komunikasi biasa, tetapi manusia juga dapat mengakses internet, SMS, berfoto dan juga saling mengirim data. Dampak yang ditimbulkan dari handpone mungkin tidak kita sadari sama sekali. Selain memudahkan dalam berkomunikasi sebagai dampak positif yang manusia dapatkan, terdapat pula dampak negatif yang manusia dapatkan sebagai akibat menggunakan handphone atau telepon genggam ini.
Handphone pada saat ini tidak hanya digunakan oleh kalangan dewasa saja. Sekarang anak-anak pun sudah banyak yang memiliki handphone dengan kecanggihan yang tidak kalah dengan handphone orang dewasa. Sehingga dampaknya terjadi tidak hanya pada orang dewasa tetapi juga pada anak-anak.
Misalnya pada anak-anak selain fungsi handphone sebagai alat komunikasi, anak-anak dinilai “ikut-ikutan” terhadap tren saja. Banyak hal yang dapat diperhatikan dari fenomena ini. Misalnya adalah jika dilihat dari segi sosial, kesenjangan akan sangat terlihat antara anak yang berasal dari keluarga mampu secara finansial dan yang tidak dalam suatu komunitas di sekolahnya. Penggunaan telepon selular secara tidak langsung juga dinilai dapat mempengaruhi lingkungan pergaulan anak-anak.
kepemilikan telepon selular oleh anak berkaitan dengan perkembangan psikologisnya khususnya dalam mengembangkan kemampuan berinteraksi sosial dan komunikasi serta keinginan untuk diterima di pergaulannya (popularitas). Kreativitas, ego serta kondisi lingkungan (apakah teman-temannya mempunyai telepon selular) secara psikologis dapat memicu seorang anak untuk memiliki telepon selular.
Selain itu dampak negatif dari perkembangan teknologi hadphone terjadi juga pada orang dewasa diantaranya :
- Mengurangi sifat sosial manusia karena cenderung lebih suka berhubungan lewat internet daripada bertemu secara langsung (face to face).
- Dari sifat sosial yang berubah dapat mengakibatkan perubahan pola masyarakat dalam berinteraksi. Manusia menjadi malas untuk bersosialisasi dengan teman dan lingkungan sekitar. Dengan fasilitas yang dimiliki oleh HP, maka di zaman yang serba canggih dan modern ini segalanya bisa dilakukan dengan duduk di tempat tanpa perlu beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan aktivitas seseorang. Mulai dari mengisi pulsa, transfer uang, memesan tiket, belanja, hingga memesan makanan dapat dilakukan tanpa beranjak dari tempat sedikitpun. Memang akan menjadi lebih mudah tetapi orang akan lebih tidak peduli dengan rasa sosial.
Sebagai contohnya dapat kita lihat dalam film wall-e. film dengan setting masa depan yang serba canggih yang segala macam bentuk aktifitasnya dilakukan secara digital. Mulai dari makan, berbelanja, hingga mandi dilakukan dengan system komputer sehingga manusia tidak perlu bergerak atau berjalan dan hanya tinggal duduk di kursi saja semua sudah dijalankan. Oleh karena itu manusia menjadi malas dan karena hanya terpaku pada penggunaan teknologi saja bahkan merekapun jadi lupa untuk bersosialisasi dengan org sekitar saking terbuai dengan kenikmatan teknologi.
Perkembangan telepon seluler sekarang ini juga menjadi menarik untuk disimak karena konvergensi teknologi yang sekarang terjadi mengisyaratkan kita bahwa kemajuan teknologi komunikasi informasi sekarang ini tidak memiliki batas sama sekali. Sulit bagi kita sekarang ini membedakan mana masuk kategori ponsel, kategori komputer, kategori pemutar musik digital, maupun kategori kamera digital atau video digital.Tampaknya sudah tidak ada lagi batasan yang jelas antara berbagai teknologi yang tersedia sekarang ini di pasaran yang semuanya menjadi sebuah kesatuan dan berbagai fungsi terkumpul dalam sebuah perangkatJika di bandingkan dengan jaman dulu perkembangan teknologi handphone tidak berkembang pesat seperti sekarang ini.· dapat di lihat dari model handphone jaman dulu desai nya sangat sederhana dan lebih cenderung simple,tidak seperti jaman sekarang,model handphone banyak yang berbentuk unik dan besar.· Jaman dulu layar handphone hanya bisa 1 warna atau sedikit.· Ringtone nya masih pollyphonic.· Belum bisa mengunakan lagu sebagai nada sambung.Dan perkembangan yang semakin maju Pada industri ponsel, dapat di lihat fenomena terlihat dengan semakin banyaknya perangkat ponsel yang penuh dengan berbagai ragam kemampuan multimedia, dan bahkan pada model-model tertentu sudah bisa menjadi fungsi komputer dengan kecepatan komputasi yang setara ketika komputer pertama kali digunakan secara massal oleh konsumen. di antara perkembangan kedua teknologi ini adalah persoalan desain. Rancangan desain ponsel sekarang ini beribu macam, dari yang sederhana sebagai sebuah ponsel belaka sampai tercanggih.Contohnya saja untuk handphone jaman sekarang,banyak ang sudah dilengkapi oleh kecanggihan teknoogi seperti MMS,3G,GPRS,ringtone ujuga semakin canggih(bisa mengunakan MP3 sebagai ringtone),warna untuk layar semakin banyak,dan untuk sekarang ini nada sambung handphone bia mengunakan sesuai dengan yang kita inginkan.
MMS :seperti pesan text biasa,tetapi untuk MMS dapat melakukan pengiriman pesan beserta gambar.
3G : telepon dengan lawan bicara,tetapi bisa di lakukan secara tatap muka.(dan sekarang untuk handphone yang lebih canggih dilengkapi 3,5G dan 4G).
GPRS: untuk internet,membuka email.
Dengan semakin maju perkembangan teknologi handphone semakin membantu oran-orang dalam melakukan segala aktifitas,karena handphone dapat dikatakan sebagai indenditas seseorang.
Sekarang ini perkembangan teknologi ponsel sangatlah menjajikan apabila dilihat dari dunia bisnis. Mereka memanfaatkan ide-ide kreatif mereka dengan hanya mengeluarkan modal yang tidak banyak tapi bisa menghasilkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya.Seperti yang kita ketahui sekarang ini banyak sekali game-game yang bisa di download ke hp kita dengan mudahnya. Hanya dengan tinggal mengirimkan sms seharga kurang-lebih 2000 rupiah kita bisa mendapatkan game yg kita mau. Ataupun lagu-lagu yang baru-baru untuk dijadikan ringtone.
Ataupun sekarang ini kita juga bisa mendownload foto-foto artis, mendapatkan sms dari artis favorit kita dengan hanya mengirimkan sms saja. Tidak hanya untuk hiburan saja kita juga bisa mendapatkan informasi atau berita dengan cara berlangganan maka tiap hari provider akan mengirimkan berita terbaru yang kita inginkan. jadi dengan adannya bisnis ini, seperti terjadi adanya simbiosis mutualisme antara pengguna seluler dengan provider pasalnya dengan mengeluarkan uang kurang lebih 2000 kita juga akan mendapatkan informasi-informasi yang kita inginkan, seperti selebritis, berita, pendidikan sampai ramalan sehinga masing-masing pihak mendapatkan keuntungannya masing-masing. Tetapi tidak semua provider berlaku jujur karena terkadang walaupun kita telah memutuskan untuk tidak melanjutkan berlanganan lagi, tetapi mereka tetap memotong pulsa kita. Jadi kita sebagai consumen harus pintar-pintar memilih.
sumber :
http://www2.kompas.com
http://bbawor.blogspot.com/2008/05/pengaruh-penggunaan-telepon-selular.html
www.petra.ac.id/~puslit/journals/pdf.php?PublishedID=INT06040104
http://missdsays.blogspot.com/2008/09/kemajuan-teknologi-saat-ini-sangat.html
http://kuliahpakjaiz.blog.friendster.com/?p=78
Perbedaan Core Duo dan Core 2 Duo [Intel]
Wednesday October 15th 2008, 11:02
Filed under:
Pertekom
Intel mengklasifikasikan prosesor untuk PC Desktop dan Notebook dalam tiga keluarga prosesor yaitu :
1. Intel Celeron
2. Intel Pentium
3. Intel Core
Core duo berarti dua inti prosesor dalam satu chip (rumah/kemasan prosesor) dan termasuk dalam keluarga prosesor Intel Core.
Pada PC Desktop dikenal dengan dual core dan ini terkadang disalahtafsirkan oleh pedagang komputer sebagai prosesor Core Duo.
Core Duo adalah teknologi terbaru (keluarga prosesor Intel Core) yang hendak diterapkan Intel bagi Notebook. Seiring perkembangan diadakan perbaikan/pengembangan yang menghasilkan Core 2 Duo. Sepertinya Intel berkeputusan untuk juga menggunakan teknologi Core 2 Duo pada PC Desktop. Sehingga PC Desktop saat ini bisa mengadopsi teknologi Core 2 Duo tanpa perlu mengalami fase Core Duo.
Kesimpulan umum
- Core Duo dan Core 2 Duo memiliki dua inti prosesor !
- Core Duo diciptakan untuk Notebook, seiring perkembangan diciptakan teknologi Core 2 Duo yang mana selain bisa digunakan untuk notebook juga bisa digunakan oleh PC Desktop.
- Tidak ada processor Core Duo untuk PC Desktop yang ada yaitu langsung Core 2 Duo, sebelumnya dua inti prosesor juga sudah pernah diterapkan pada PC Desktop yaitu pada keluarga prosesor Pentium diantaranya adalah Pentium Dual-Core dan Pentium D namun microarchitecture antara keluarga prosesor Intel Pentium dan keluarga prosesor Intel Core tersebut sangat jauh berbeda termasuk ukuran transistornya. Perbedaan tersebut mempengaruhi kinerja, tingkat kebutuhan energi/daya (wattage), dan panas yang dihasilkan. Pada Core 2 Duo kebutuhan energi dan panas yang dihasilkan jauh lebih kecil dibadingkan pada keluarga prosesor Intel Pentium yang berintikan dua prosesor.
Teknologi & Fungsi
Intel® Virtualization Technology (Intel® VT±)
Allows one hardware platform to function as multiple “virtual” platforms. For businesses, IntelVT Technology offers improved manageability, limiting downtime and maintaining worker productivity by isolating computing activities into separate partitions.
Intel® Trusted Execution Technology (Intel® TXT±)
Provides hardware-based mechanisms to help protect against software-based attacks and help protect the confidentiality and integrity of data stored or created on the system. It does this by enabling a trusted environment where applications can run within their own space, protected from all other software on the system.
Enhanced Intel Speedstep® Technology
Enhanced Intel Speedstep Technology allows the system to dynamically adjust processor voltage and core frequency, which results in decreased power consumption, which results in decreased heat production, which in turn allows improved acoustics because fans do not need to spin as quickly. Systems supporting Enhanced Intel Speedstep Technology require a compatible BIOS, a compatible operating system, and a compatible Intel processor.
Execute Disable Bit°
Intel’s Execute Disable Bit° functionality can help prevent certain classes of malicious buffer overflow attacks when combined with a supporting operating system. Execute Disable Bit allows the processor to classify areas in memory by where application code can execute and where it cannot. When a malicious worm attempts to insert code in the buffer, the processor disables code execution, preventing damage and worm propagation. Replacing older computers with Execute Disable Bit-enabled systems can halt worm attacks, reducing the need for virus-related repairs. In addition, Execute Disable Bit may eliminate the need for software patches aimed at buffer overflow attacks. By combining Execute Disable Bit with anti-virus, firewall, spyware removal, e-mail filtering software, and other network security measures, IT managers can free IT resources for other initiatives. Enabling Execute Disable Bit functionality requires a PC with a processor with Execute Disable Bit capability and a supporting operating system.
Spesifikasi dari berbagai nomor prosesor Core Duo (Notebook)
|
[Processor Number]
|
[Architecture]
|
[Cache]
|
[Clock Speed]
|
[FSB]
|
[Power]
|
[Intel® VT±]
|
[Enhanced Intel SpeedStep® Technology]
|
[Execute Disable Bit°]
|
|
T2700
|
65 nm
|
2 MB L2
|
2.33 GHz
|
667 MHz
|
31W
|
Y
|
Y
|
-
|
|
T2600
|
65 nm
|
2 MB L2
|
2.16 GHz
|
667 MHz
|
31W
|
Y
|
Y
|
Y
|
|
T2500
|
65 nm
|
2 MB L2
|
2 GHz
|
667 MHz
|
31W
|
Y
|
Y
|
Y
|
|
T2450
|
65 nm
|
2 MB L2
|
2 GHz
|
533 MHz
|
31W
|
-
|
Y
|
Y
|
|
T2400
|
65 nm
|
2 MB L2
|
1.83 GHz
|
667 MHz
|
31W
|
Y
|
Y
|
Y
|
|
T2350
|
65 nm
|
2 MB L2
|
1.86 GHz
|
533 MHz
|
31W
|
-
|
Y
|
Y
|
|
T2300
|
65 nm
|
2 MB L2
|
1.66 GHz
|
667 MHz
|
31W
|
Y
|
Y
|
Y
|
|
T2250
|
65 nm
|
2 MB L2
|
1.73 GHz
|
533 MHz
|
31W
|
-
|
Y
|
Y
|
|
T2050
|
65 nm
|
2 MB L2
|
1.6 GHz
|
533 MHz
|
31W
|
-
|
Y
|
Y
|
|
T2300E
|
65 nm
|
2 MB L2
|
1.66 GHz
|
667 MHz
|
31W
|
-
|
Y
|
Y
|
|
L2500
|
65 nm
|
2MB L2
|
1.83 GHz
|
667 MHz
|
15W
|
Y
|
Y
|
Y
|
|
L2400
|
65 nm
|
2MB L2
|
1.66 GHz
|
667 MHz
|
15W
|
Y
|
Y
|
Y
|
|
L2300
|
65 nm
|
2MB L2
|
1.50 GHz
|
667 MHz
|
15W
|
Y
|
Y
|
Y
|
|
U2500
|
65 nm
|
2MB L2
|
1.20 GHz
|
533 MHz
|
9W
|
Y
|
Y
|
Y
|
|
U2400
|
65 nm
|
2MB L2
|
1.06 GHz
|
533 MHz
|
9W
|
Y
|
Y
|
Y
|
L = Low voltage
U = Ultra low voltage
Core 2 Duo
- Architecture: 65nm
- Memiliki beberapa fitur tambahan yang tidak terdapat pada Core Duo seperti :
- Intel® Wide Dynamic Execution: Enabling delivery of more instructions per clock cycle to improve execution time and energy efficiency.
- Intel® Smart Memory Access: Improving system performance by optimizing the use of the available data bandwidth.
- Intel® 64: Enables the processor to access larger amounts of memory. With appropriate 64-bit supporting hardware
and software, platforms based on an Intel processor supporting Intel 64 architecture can allow the use of
extended virtual and physical memory.
Teknologi Tulisan
Tuesday October 07th 2008, 11:02
Filed under:
Pertekom
Awalnya, budaya tulis hanya digunakan oleh kalangan penguasa, pemimpin agama dan cendekia. Isi tulisan mereka pun berupa undang-undang, ajaran suci atau sesuatu yang dianggap memiliki nilai kemuliaan dalam masyarakat. Tidak sembarang pesan atau gagasan bisa dituangkan melalui tulisan (Suseno, 1997:17). Hal ini terjadi karena pada masa itu tidak setiap orang memiliki keterampilan menulis di samping budaya lisan yang masih dominan dalam masyarakat.
Adalah bangsa-bangsa Sumeria, Babil, Asiria dan lain-lain di Timur Tengah yang diyakini sebagai pengguna tulisan paling awal yakni sekitar 3000 SM. Mereka menuliskan undang-undang serta maklumat raja yang harus dipatuhi oleh rakyat di lempengan batu. Selanjutnya, sekitar tahun 300 SM bangsa Romawi mulai menggunakan lembaran kulit binatang untuk mencatat perniagaan mereka (mungkin inilah cikal bakal dari ilmu akuntansi). Sedangkan di Cina, tulisan digunakan untuk menyebarkan ajaran dan kepercayaan dalam masyarakat. Pun tak jauh beda dengan apa yang dilakukan para filsuf Yunani. Sebagian besar dari mereka menggunakan lempengan batu, kulit binatang maupun daun papyrus untuk menulis.
Perkembangan selanjutnya yaitu penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada abad 15. Penemuan ini dianggap sebagai titik tolak bangkitnya ilmu pengetahuan di Eropa. Berkat penemuan mesin cetak ini, penyebaran ilmu pengetahuan berjalan sangat cepat dan murah. Akibat tidak langsung dari penemuan ini adalah terjadinya revolusi sosial dan reformasi gereja. Semakin mudahnya akses masyarakat terhadap buku, menumbuhkan kesadaran masyarakat atas fenomena sosial yang terjadi di Eropa.
Kelebihan komunikasi tulis
Secara historis, komunikasi tertulis memiliki arti penting bagi sejarah peradaban manusia.Tulisan merupakan titik awal sejarah manusia. Dengan kata lain, manusia dapat dikatakan memasuki zaman sejarah ketika mereka telah mengenal tulisan. Selain itu, komunikasi tertulis memiliki fungsi dokumentasi dan transformasi budaya.
Dibandingkan dengan komunikasi lisan, komunikasi tertulis memiliki beberapa kelebihan. Pertama, komunikasi tertulis lebih tahan lama. Artinya, komunikasi tertulis memiliki bentuk fisik baik berupa kertas, kulit binatang maupun prasasti batu. Sedangkan komunikasi lisan tidak memiliki bentuk fisik. Kita tidak tahu kemana perginya kata atau kalimat setelah diucapkan.
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa komunikasi tertulis memiliki fungsi dokumentasi. Sehingga pesan atau informasi yang terkandung di dalamnya bisa tersampaikan meski pemberi pesan sendiri sudah meninggal. Sebagai contoh, pemikiran-pemikiran Plato, Aristoteles dan filsuf lainnya hingga kini masih bisa kita terima karena mereka memahatkan ajaran mereka pada lempengan-lempengan batu. Meski jasad Karl Marx, Darwin, Max Weber sudah hancur dalam tanah, kita dan generasi sesudah kita masih bisa menerima informasi tentang pemikiran mereka selama perpustakaan menyimpan buku-buku karya mereka. Bukti lain yang tak kalah penting adalah bahwa kita masih bisa meneruskan tradisi dan ajaran agama karena adanya kitab-kitab suci. Semua agama besar di dunia pasti memiliki kitab suci. Di sini kita bisa melihat bahwa kitab suci agama merupakan sarana komunikasi tertulis yang memuat seperangkat aturan, cerita masa lalu, ancaman, kabar gembira tentang masa depan yang semuanya bertujuan melestarikan dan mempertahankan tradisi (Suseno, 1997:17).
Kedua, komunikasi tertulis berlangsung secara massive dan dinamis. Berkat jasa Gutenberg, informasi dapat diproduksi secara massal dengan biaya yang lebih murah. Sehingga informasi dapat tersebar dengan cepat dan mudah. Suseno (1997:27) menyebutkan bahwa keberhasilan Reformasi Gereja Martin Luther di Jerman salah satunya dengan menggunakan sarana pencetakan. Mereka melemparkan gagasan dan argumen melalui selebaran yang mereka sebar. Dikatakan pula bahwa jika sebelumnya pikiran orang hanya dapat dipengaruhi melalui orasi (yang terbatas pada beberapa ratus orang dan diucapkan sekali saja serta dengan mudah dikontrol), kini pikiran orang dapat dipengaruhi melalui leaflet, buku dan media cetak lain yang dapat dibaca dan didiskusikan berulang-ulang dengan angota masyarakat lain.
Ketiga, komunikasi tertulis relatif lebih terstruktur dan terencana. Sebagai sebuah tindakan strategis (Littlejohn, 2002:13), komunikasi lebih bisa direncanakan dan disusun ketika disampaikan melalui media tulisan. Komunikator dapat menyusun pesan, menggunakan kata-kata pilihan, memilih topik tertentu dan memperkirakan respon dari audience. Sehingga proses komunikasi bisa dievaluasi dan dikembangkan.
Keempat, ketika kita tidak memahami sesuatu hal dari apa yang kita baca atau kita menemui kata asing, kita bisa mengulangi beberapa paragraf sebelumnya, menggunakan kamus atau bertanya kepada seseorang untuk memahaminya. Berbeda dengan komunikasi lisan yang berlangsung hanya sekali, kita tentu tak bisa serta merta meminta pembicara untuk mengulangi kalimat yang tidak kita pahami.
Kelemahan komunikasi tertulis
Sebagai bagian dari komunikasi verbal, komunikasi tertulis tak bisa lepas dari penggunaan bahasa sebagai sarana bertukar makna. Oleh karena itu, kelemahan unsur kebahasaan dalam proses komunikasi tentunya menjadi kelemahan dari komunikasi tertulis.
Larry L. Barker sebagaimana dikutip Dedy Mulyana dalam Pengantar Ilmu Komunikasi menyebutkan tiga fungsi bahasa: penamaan (labeling), interaksi dan transmisi informasi. Penamaan merupakan usaha manusia untuk mengidentifikasi objek, tindakan dan perasaan yang berbeda dengan memberi nama pada objek, tindakan dan perasaan tersebut.
Meski bahasa merupakan unsur yang sering kita gunakan dalam komunikasi sehari-hari, bahasa memiliki sejumlah keterbatasan. Mulyana (2002:245-255) menguraikan keterbatasan bahasa sebagai sarana komunikasi. Pertama, keterbatasan jumlah kata yang tersedia untuk mewakili objek atau perasaan. Tidak semua benda, peristiwa, perasaan dapat diwakili oleh kata yang berbeda. Suatu kata hanya mewakili realitas, tetapi bukan merupakan realitas itu sendiri. Kata hanya bisa mewakili sebagian dari realitas, bukan keseluruhan realitas. Keterbatasan bahasa dalam mewakili realitas tampak pada penggunaan kata sifat. Kata sifat cenderung dikotomis, maksudnya membagi sesuatu hanya dalam dua kategori, semisal kaya-miskin, bahagia-sengsara, pandai-bodoh, baik-buruk dan lain sebagainya. Namun perlu disadari bahwa realitas sesungguhnya tidaklah sekaku itu. Kita tidak bisa memvonis bahwa kalau tidak hitam berarti putih atau sebaliknya. Antara warna hitam dan putih terdapat puluhan bahkan ratusan warna abu-abu yang pasti beda. Seringkali agar kata yang kita ungkapkan lebih tepat, kita menggunakan tambahan ‘agak’ atau ‘sangat’.
Untuk mengukur makna yang lebih akurat, Charles E. Osgood, George Suci dan Percy Tannenbaum merancang suatu instrumen yang disebut Semantic Differential. Mereka mengukur makna suatu konsep dalam skala 1 sampai 7. dalam hal ini 1 menunjukkan kecenderungan negative sedang angka 7 menunjukkan kecenderungan positif (Mulyana,2002:246).
Kedua, kata bersifat ambigu dan kontekstual. Setiap kata (meskipun sama) berpotensi untuk dimaknai secara berbeda oleh orang yang berbeda. Perbedaan makna tersebut dipengaruhi oleh latar belakang tiap orang yang tentunya berbeda. Pemaknaan kata juga perlu memperhatikan konteks kalimatnya.
Ketiga, kata-kata mengandung bias budaya. Budaya sangat mempengaruhi bahasa. Menurut hipotesis Sapir-Whorf (Griffin, 2003:30) menyatakan bahwa struktur bahasa suatu budaya membentuk persepsi dan perilaku manusia. Dengan kata lain, struktur bahasa menunjukkan budaya suatu masyarakat. Misalnya, penggunaan tenses yang memperhitungkan waktu dalam struktur bahasa masyarakat Eropa menunjukkan penghargaan mereka atas waktu. Penggunaan bahasa yang bertingkat dalam budaya Jawa menunjukkan sistem sosial masyarakat yang terbagi dalam kelas-kelas tertentu. Oleh sebab itu, sangat mungkin terjadi kita tidak menemukan padanan yang tepat untuk kata tertentu dalam bahasa asing.
Disamping kelemahan-kelemahan bahasa dalam komunikasi tertulis tersebut, Beebe and Beebe (1997:257) menyebutkan kelemahan dari komunikasi tertulis adalah hubungan antarpartisipan komunikasi berjarak. Komunikator tidak bisa merinteraksi dengan audien secara langsung, melihat perubahan sikap yang terjadi atau merespon sikap audien. Sehingga feedback dalam proses komunikasi tersebut bersifat tidak langsung dan tertunda (no immediate interaction). Sedang dalam komunikasi lisan, hubungan pembicara dengan audien berlangsung akrab, hangat dan lebih personal.
Komunikasi tertulis bersifat lebih formal daripada komunikasi lisan. Dalam komunikasi tertulis kita terikat dengan konsep atau aturan ejaan tertentu untuk memenuhi syarat sebagai komunikasi tertulis yang baik. Kita harus memperhatikan struktur kalimat yang njelimet agar bisa dipahami oleh pembaca. Sedangkan dalam komunikasi lisan pembicara bisa memakai kalimat-kalimat pendek tanpa harus mematuhi aturan kalimat yang baik dengan alasan efisien.
Akhirnya, media apapun yang kita gunakan berkomunikasi tidaklah menjadi pokok persoalan. Toh tersedia banyak banyak cara, saluran yang bisa kita pakai untuk berkomunikasi. Kita pun bisa mengkombinasikan berbagai cara untuk mencapai tujuan kita berkomunikasi.
Namun setidaknya, dengan mengetahui kelebihan dan kelemahan dari komunikasi tertulis kita tergerak untuk mengasah keterampilan kita dalam menggunakan pena sebagai senjata yang katanya lebih tajam dari pedang. Selamat menulis.
Daftar Pustaka
Beebe, Steven A. dan Susan J. Beebe. 1997. Public Speaking: An Audience-centered Approach. USA: Allyn And Bacon.
Griffin, Em. 2003. A First Look At Communication Theory. New York: McGraw-Hill.
Littlejohn, Stephen W. 2002. Theories of Human Communication. USA: Wadsworth.
Mulyana, Deddy. 2002. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Suseno, Franz Magnis et.al. Buku Membangun Kualitas Bangsa. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Dampak Negatif Teknologi HP
Tuesday October 07th 2008, 11:02
Filed under:
Pertekom
Kemajuan teknologi saat ini sangat berkembang pesat dan membantu manusia untuk berinteraksi satu sama lain tanpa dibatasi oleh jarak dan waktu. Kemudahan yang diberikan oleh teknologi tersebut mencakup banyak hal serta merambah berbagai aspek kehidupan, mulai dari bisnis hingga pendidikan. Pada prinsipnya teknologi ini berkembang untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia agar dalam kehidupannya dapat lebih mudah berkomunikasi ataupun melakukan sesuatu. Namun dari segala efek positif yang diterima oleh manusia terdapat pula berbagai efek negatif, baik secara fisik dan mental.
Handphone merupakan salah satu dari perkembangan tekonogi. Dengan kecanggihan teknologi saat ini, fungsi handphone tidak hanya sebagai alat komunikasi biasa, tetapi manusia juga dapat mengakses internet, SMS, berfoto dan juga saling mengirim data. Dampak yang ditimbulkan dari handpone mungkin tidak kita sadari sama sekali. Selain memudahkan dalam berkomunikasi sebagai dampak positif yang manusia dapatkan, terdapat pula dampak negatif yang manusia dapatkan sebagai akibat menggunakan handphone atau telepon genggam ini. (more…)
Audio digital
Wednesday September 24th 2008, 11:02
Filed under:
Pertekom
Musik Digital adalah harmonisasi bunyi yang dibuat melalui perekaman konvensional maupun suara sintetis yang disimpan dalam media berbasis teknologi komputer. Format digital dapat menyimpan data dalam jumlah besar, jangka panjang dan berjaringan luas.
(more…)